1243
DADIA IBU KANGINAN PASEK GELGEL TEGENAN
Minggu, 31 Mei 2026
Senin, 25 Mei 2026
Berikut saya susun kembali kisah keluarga Anda agar lebih rapi dan mudah dibaca sebagai catatan silsilah keluarga.
Kisah Keluarga
Leluhur keluarga kami berasal dari garis keturunan kelab yang dipimpin oleh Dewa Hyang Pekak Gentos, yang menjabat sebagai Kelian Dadia sekitar tahun 1896 sampai 1920.
Beliau menurunkan:
Generasi Kedua
Hyang Nesa (1896–1967)
Menikah dengan perempuan dari Waringin, Pempatan.
Beliau kemudian menjadi Kelian Dadia pada tahun 1921–1967.Adiknya bernama Ni Rampih (1899–1970)
Menikah dengan Mekel Menanga Guru Gentiada.
Anak-anak Hyang Nesa
Ni Wayan Sukarma (1923–1994)
I Nyoman Kanyar (1936 – 18-09-2016)
Ni Ketut Suwasta (lahir 1945)
Ni Wayan Ginantra (lahir 1950)
Ni Nyoman Wirna (lahir 1956)
I Ketut Satra (1958 – 22-02-2022)
Disebutkan pula bahwa nenek memiliki 11 orang anak, namun banyak yang meninggal dunia saat masih kecil.
Keturunan I Nyoman Kanyar
I Nyoman Kanyar menikah dengan Ni Luh Pinget (1938 – 03-12-2017).
Mereka memiliki anak-anak:
I Wayan Suiji (lahir 1962)
Alm. Ni Md… (lahir 1963)
Ni Nyoman Wartami (1965–1987)
I Ketut Wana Yasa (lahir 1968)
I Wayan Kariana (lahir 1970)
Ni Nyoman Sariani (lahir 1972)
Keturunan I Ketut Satra
I Ketut Satra (1958 – 22-02-2022) menikah dengan Ni Wayan Suarti (lahir 1960).
Mereka dikaruniai anak-anak:
Ni Wayan Lasmini (lahir 1975)
Ni Nyoman Rapiani (lahir 1977)
Ni Ketut Warsini (lahir 1980)
Ni Wayan Listyawati (lahir 1983)
Catatan keluarga seperti ini sangat berharga untuk menjaga sejarah leluhur dan hubungan antargenerasi. Jika Anda mau, saya juga bisa membantu membuat:
bagan silsilah keluarga,
versi bahasa Bali halus,
cerita naratif keluarga,
atau dokumen resmi silsilah yang rapi untuk dicetak.
Selasa, 30 September 2025
Rapat Rutin Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Diselenggarakan Usai Kegiatan Naurin Hyang Nama
Tegenan, 30 September 2025 — Keluarga besar Dadia Pasek Gelgel Ibu
Kanginan kembali melaksanakan rapat rutin , yang dilaksanakan pada hari Selasa
(Anggara Kasih Kulantir) kemarin, bertempat di balai dadia setempat. Uniknya,
sebelum rapat digelar, terlebih dahulu dilaksanakan kegiatan naurin Hyang Nama,
yang merupakan bagian dari upacara penyucian roh leluhur oleh salah satu
keluarga dadia yaitu I Komang Sudani dan keluarganya.
Acara naurin Hyang Nama ini berlangsung sejak pagi hari dan merupakan
lanjutan dari prosesi ritual yang telah diawali tiga hari sebelumnya dengan matur
piuning ke sejumlah pura, antara lain: Pura Kahyangan Desa, Pura Dadia, dan Bhetara
Guru. Hari puncaknya pada Anggara Kasih diisi dengan upacara nangyang Hyang Nama, dilanjutkan dengan mepanauran di lokasi tempat almarhum meninggal dunia.
Diketahui, semasa hidupnya, almarhum mengalami gangguan kejiwaan, dan
meninggal dunia dengan ulah pati (kematian disengaja) karena menceburkan diri.
Secara kepercayaan, arwah yang mengalami ulah pati diyakini tidak langsung
mendapatkan tempat yang baik di alam roh, sehingga perlu dilakukan penebusan
karma melalui upacara khusus.
Lokasi pelaksanaan upacara penebusan ini dilakukan di dua titik penting:
- Grubug: tempat jatuhnya almarhum
- Titi Gonggang: tempat simbolis di mana arwah
menerima hukuman
Upacara
tersebut disertai dengan persembahan banten dandanan, sayut guru piduka, bendu
piduka, giri pati, serta caru ayam brumbun yang dilengkapi sayut pemegat.
Prosesi sakral ini dipuput oleh Mangku Manik Puspayoga selaku pemangku pura dadia
dan Jero Mangku Pura Titi Gonggang Besakih.acara akan berakhir tiga hari lagi
dengan upacara yasa kerti (ngeyasaang) setiap hari jam 18.00 selama 3 hari
sesuai petunjuk niskala Ida Bhetara kawitan.
Rapat Rutin Bahas Tertib Administrasi dan Keuangan
Sore harinya,
kegiatan dilanjutkan dengan rapat rutin dadia usai bersih bersih dilingkungan
pura, yang dipimpin oleh I Ketut Wana Yasa, selaku Klian Dadia sekaligus Bendesa
Adat Tenganan. Dalam arahannya, beliau mengajak seluruh krama dadia untuk terus
menjaga disiplin dan tertib dalam melaksanakan aturan, khususnya terkait sistem
simpan pinjam keuangan dadia, yang ke depannya akan diatur melalui perarem
(aturan adat tertulis). Masalah keuangan ini akan bisa berdampak positip
mensejahtrakan anggota kalau dilaksanakan secara konsekwen tertib dan terukur,tetapi
sebaliknya akan membuat kehancuran apabila kita tidak hati hati dalam
pengelolaan dan penggunaan uang pinjaman tersebut apalagi ini sebagai pelaba
duen Ida Bhetara Kawitan,mohon kepada warga tertib pelaksnaannya.
Sementara itu, Mangku Manik turut menyampaikan beberapa hal penting
dalam rapat tersebut, antara lain:
- Ketidakseimbangan antara banten mesegehan tiap Kajeng Kliwon yang
menggunakan segehan mancapala (segeh agung), namun aturan keluurnya
(upakara ke dewa) hanya berupa canang. Hal ini
diminta untuk segera disesuaikan secara adat dan etika persembahan.
- Pendataan Ayahan Tanah (tanah milik yang wajib sebagai ayahan di dadia) yang
perlu diinventarisasi dengan baik untuk mencegah kelalaian atau kekeliruan
ke depannya.
- Terkait sistem simpan pinjam, beliau
mengingatkan agar seluruh warga bijak dalam menggunakan uang:
“Uang itu ibarat api. Kalau kecil dan bisa kita kendalikan, ia bisa
membantu kita memasak. Tapi kalau tidak bisa dikendalikan, ibarat api besar
yang bisa membakar diri kita sendiri,” ujar Mangku Manik bijak.
Rapat berakhir
menjelang malam hari dengan komitmen bersama untuk menjaga kekompakan,
keterbukaan, dan keharmonisan antar warga dadia dalam menjalankan kewajiban
adat dan sosial (manixs).
Kamis, 24 Juli 2025
PEMLASPASAN CANDI DAN PELINGGIH DI DADIA PS.GELGEL IBU KANGINAN BERLANGSUNG HIDMAT
Tegenan, 22 Juli 2025 – Upacara Mlaspas Candi Bentar, pelinggih Anglurah, serta dua Apit Lawang telah dilaksanakan dengan khidmat di Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan, Desa Adat Tegenan,Kecamatan Rendang,Kabupaten Karangasem pada hari Anggara Kasih Prangbakat . Rangkaian upacara suci ini dipimpin oleh Jero Mangku Jan Bangul Pura Dadia Ibu Kanginan Jero Mk. Manik Puspa Yoga.
Klian Dadia Pura Dadia Ibu Kanginan, Jero Ketut Wana Yasa, yang juga menjabat sebagai Bendesa Desa Adat Tegenan, menyampaikan rasa syukurnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Bhatara Kawitan atas kelancaran proses pembangunan yang dimulai pada bulan Mei lalu. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh krama Dadia atas kerja sama dan semangat gotong royongnya dalam menyukseskan pembangunan ini.
Khusus kepada para puniawan yang dengan tulus ikhlas telah memberikan dana punia, kami sampaikan terima kasih dan penghargaan yang setulusnya,ujar Jero Ketut Wana dalam perbincangannya dengan krama sebelum acara mlaspas.
Menurut Guru Mangku Lanus , selaku sekretaris Dadia yang didampingi oleh I Made Juliarta (bendahara), total biaya pembangunan termasuk pembelian patung pengapit candi dan kabel-kebel listrik mencapai keseluruhan Rp 176,536 juta belum termasuk pembelian bunga dan tenaga swadaya gotong royong krama. Pembangunan meliputi Candi bentar beserta tembok sekitar panjang 22 meter, Dua pelinggih Apit Lawang,Satu pelinggih Anglurah,Renovasi undag samuan dengan relief ukiran naga, dua buah patung di candi bentar.
Sumber dana berasal dari urunan krama Dadia, iuran/urunan wajib tanah duwe dadia, serta punia dari berbagai pihak yang secara global rinciannyasebagai berikut:
1. Punia tunai dari Koperasi Rp 8.000.000 untuk pembuatan Naga Undag Samuan
2. Punia uang dari Mk. Manik Rp 8.000.000 untuk pembelian pelinggih Apit Lawang tengen
3. Punia Mk. Lanus Rp 8.000.000 untuk pelinggih ratu Gde Anglurah
4. Punia uang dari I Ketut SelerAriawan: Rp 2.000.000
5. Punia I Ketut Bayu Pujana Rp 1.000.000
dari punia tersebut dan yang Lainnya, total punia uang: Rp 33.050.000
Disamping punia uang ada punia Ongkos transportasi dari,Mk. Sulaba: Rp 500.000 angkut material bekas 2 dum truk ke arca,I Wayan Puspa Yoga: Rp 300.000 transport beli patung ke Sakah Gianyar,I Made Bakat Rp 200.000 angkut sampah 2 kali. ujar Mangku Lanus.
Akhirnya rangkaian pembangunan dan upacara ini diakhiri dengan persembahyangan bersama sebagai bentuk rasa bhakti dan syukur atas terselenggaranya seluruh proses pembangunan secara lancar dan penuh makna spiritual.(manixs)
Senin, 12 Mei 2025
PURNAMA JIYESTA MULANG DASAR CANDI DAN APIT LAWANG
Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan salah satu dadia di Desa Adat Tegenan yang memiliki tanah due ayahan dadia yang dulunya berjumlah 19 ayahan sejak 1958 berubah menjadi 16 ayahan karena dibawa sebagai pengempon Dukuh delodan sebanyak tiga ayahan,walaupun demikian secara estafet kepemimpinan yang berkesinambungan mampu mewujudkan kaderisasi generasi dan peremajaan pembangunan.
Seperti pada tahun ini (2025), peremajaan pembangunan dilakukan pada pembangunan Candi,tembok, paduraksa,apit lawang dan pembangunan apit surang yang dikembalikan pada posisi awal,karena terakhir hanya ada luanan kecil dekat pelinggih Dewa Hyang,sehingga dalam peremajaan pembangunan kali ini dikembalikan pada tatanan awal yang dibangun oleh para leluhur. Motif pembangunan mengambil motif majapahitan menyesuaikan dengan tembok dan candi batu bata yang sudah terbangun sebelumnya,bedanya material yang digunakan adalah batu padas hitam produksi desa selat,dengan anggaran pembangunan sebesar Rp 144 juta rupiah yang tendernya dimenangkan oleh I Made Suparta pemborong asal Selat,dimana sebelumnya sudah didatangkan 3 pemborong oleh Mk.Manik untuk ikut melelang.
Pembongkaran candi dan tembok dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 10 dan 11 Mei 2025, sedangkan apit lawang dibongkar pada hari Anggara Kasih Medangsya bertepatan dengan Purnama Jiyesta sekaligus dilakukan mulang dasar yang dilaksanakan oleh Mangku Manik,sebagai pertanda dimulainya pembangunan. Peletakan batu pertama pada candi dilakukan oleh Jro Kt Wana Yasa klian dadia,sedangkan pada pelinggih apitlawang(Nandiswara) dilakukan oleh Sekretaris Mk.Md Lanus dan pelinggih Mahakala dilakukan oleh Bendahara I Made Juliarta,dilanjutkan oleh krama dadia masing masing.
I Ketut Wana Yasa selaku klian dadia, disela sela acara mulang dasar menjelaskan,bahwa pembangunan ini sudah direncanakan cukup lama,mengingat kondisi bangunan sudah tua dan beberapa sisi candi sudah retak dimakan usia,rencana awal kami restorasi(disusun ulang) namun untuk mencari tukangnya tidak ada yang sanggup,maka keputusan krama dipugar saja disesuaikan dengan bangunan yang ada tetapi dengan bahan batu padas. Untuk sumber dana kami sudah membuat proposal kepada salah satu anggota dewan provinsi Bu Kadek Darmini,beliau menjanjikan namun sampai saat ini belum cair, semoga segera direalisasikan janjinya. Sementara dari warga ayahan tanah(16) dikenakan iuran masing masing 4,5 juta sedangkan anggota dadia (50) masaing-masing 500 ribu sehingga terkumpul dana kurang lebih Rp.97.000.000.kekurangannya diambil dari kas termasuk bantuan Bu Kadek Darmini tempo hari 20 juta serta diharapkan krama dadia yang mampu agar maturan dana punia terutama teman teman yang sudah memiliki usaha lebih agar maturan kehadapan Ida Bhetara sesuhunan atau Bhetara Kawitan. Krama sangat antusias ngayah melakukan pembongkaran bangunan sehingga dalam waktu singkat dapat diselesaikan dengan baik,itulah wujud bakti kepada leluhur,ujar jero klian. Dalam rapat rutin pada Anggarakasih Medangsya juga disampaikan agenda pemlaspasan tanggal 10 Juli 2025 pada hari Wraspati Pon Uye,Purnama Kasa dan 22 Juli 2025 Anggarakasih Prangbakat dilaksanakan Piodalan Ida Bhetara kalau tidak ada halangan. Sedangkan agenda mendesak adalah Tumpek Krulut tanggal 7 Juni 2025 dilakukan Pekeling saja karena lingkungan masih dalam proses pembangunan.(manixs)
Segera akan diadakan pecaruan
Senin, 22 Juli 2024
NGABEN PROSESI PULANG PADA ALAM KEABADIAN
Pemangku Pura Dalem Putra Desa Adat Tegenan,sekaligus pemangku Dukuh Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan, Jero Mangku Ketut Kania (82), pada hari Kamis Umanis wuku Sinta,penanggal 13 sasih Kasa icaka 1946 tanggal 18 Juli 2024,menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 17.28 Wita di rumahnya. Saat kejadian sempat dibawa ke Puskesmas Rendang di Menanga,namun jiwanya tak tertolong. Memang dua bulan sebelumnya beliau sempat dirawat di rumah sakit Umum Klungkung karena radang persendian sehingga tidak bisa berjalan normal. Pembangkakan yang cukup serius di lutut didiagnosa peradangan akut,lambung serta syaraf sedikit bermasalah,sehingga tiap minggu menjalani pishio terafi. Kesehatannya berangsur membaik,bahkan kemarin sempat kerumah dalam melaksnakan piodalan di kemulan,ujar Made Kariana anak keduanya. Hal tersebut diperkuat oleh Mk.Manik, mengatakan bahwa dirinya sempat berbincang sekitar 1 jam sebelum melaksanakan upacara piodalan,dengan santai almarhum berbincang,bahkan beliau sempat meminta saya untuk ikut sembahyang di Pura Dalem dihari purnama ini dan ia minta supaya disediakan tempat duduk kursi karena belum bisa bersila dan hal itu saya sanggupi untuk mengantar sembahyang,namun nasib bercerita lain, yah mungkin sedemikian pengabdiannya di dunia ini,ujar Mk.Manik disela sela pengabenan kemarin.
Setelah 3 hari kematiannya,dilaksanakan upacara pengabenan,karena beliau adalah pemangku kahyangan tiga khususnya di Pura Dalem Putra sejak tahun 2018 silam. pelaksanaan upacara diambil madya hanya sampai tingkat pengabenan yang dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Yoga Semadi dari Gria Pucaksari Pesaban. Klian Banjar Adat Tegenan Kelod sekaligus klian Pura Dalem I Wayan Suiji mengkordinasikan kegiatan ini karena krama banjar adat Tegenan kelod mempunyai kewajiban terhadap upacara ini,sehingga sesuai ketentuan krama banjar aktif dikenakan iuran pengabenan sebesar Rp.150.000,- /KK ,sedangkan krama banjar penyada dikenakan urunan Rp.100.000,Desa Adat memberikan bantuan punia sebesar Rp.2.500.000,-. Dana tersebut digunakan untuk membeli banten Ngaskara,narpana,meras cucu,pengabenan dan penganyutan di gria Pucaksari Pesaban,banten piuning dan keperluan upakara yadnya dibuat oleh krama Banjar Adat Tegenan Kelod dan didukung oleh warga dadia ibu kanginan sebagai tuan rumah,sedangkan wadah dan penganyutan dibeli di Banjarangkan seharga Rp.6.000.000,-
Pada hari sabtu 20 Juli 2024 jam 07.00 krama Banjar Adat Tegenan Kaja bertugas Ngeruak dipimpin oleh klian I Km Jana,dan upacaranya oleh Jero Suryadarma dengan dimulai mepiuning dari margi catur,tulaktanggul,margi 3 dan tengah cetra dengan banten encetan beserta kelengkapannya serta rajapati,sedangkan kemarinnya dilaksanakan mepiuning di Kahyangan Tiga,Kahyangan Desa,Pura Swagina dan Pura Dadia beserta Ibu Kawitan. Juga dilaksanakan Nunas tirta kahyangan,tirta Dukuh dan Tirta Tunggang di Besakih.
Minggu Wage wuku Landep,panglong 1(apisan) sasih Kasa icaka 1946 tanggal 21 Juli 2024 mulai pagi pukul 7.30 dilaksanakan upacara Nangiang dan ngembak lawang dimulai dari Pura Dalem Putra dipimpin oleh Jero Dalang Sujata,lanjut ke Pura Prajapati dengan bakti dandanan sayut 5 pebangkit tos beserta kelengkapannya di pimpin Jero Surya Darma,dilanjutkan ke tengah setra,kemudian ke Margi tiga,juga dilaksanakan upacara ngening dengan nunas tirta di Uma Kolong sebagai simbul ngayehang sekah dan lanjut ke Margi Catur ngungkab/ngembak lawang dengan bakti dandanan dan sayut pengembak lawang. Pada saat bersamaan juga dilaksanakan pemlaspasan wadah oleh Jero Dalang Sujata, selesai sekitar jam 10 pulang kerumah duka dipendak seperti biasa, Jemek sebagai simbul sanghyang atma,kemudian ditempatkan di Bale yadnya,banten Pengulap,Penuntun dan ganjaran. Baru kemudian dilaksana acara mersihin sawa dan ngereka yang dipinmpin oleh Jero W.Suparta,pelima Desa Adat Tegenan. Usai memandikan dan ngereka maka mayat dimasukan kepeti selanjutnya diadakan upacara Ngaskara,lanjut narpana dan pemerasan yang dipimpin oleh Ida pandita Mpu Dharma Yoga Semadi. Sekitar 2jam 15 menit upacara selesai kemudian wadah berangkat sekitar pukul 15.05 menit. sampai di setra upacara pengabenan sekitar 2 jam dan akhirnya pukul 17.15 dilaksanakan acara nganyut ke uma kolong dipimpin Jero Surya Dharma. terakhir sekitar pukul 18.18 dilaksanakan upacara mekala mijian dwngan banten pejati dan caru ekosato di rumah duka yang dipimpin Mk.Manik Puspa Yoga,dengan demikian selesailah paket acara pengabenan dan akan dilanjutkan dengan bakti penyapuh dipura pura tempat ngaturang piuning sebelum ngaben sebagai wujud syukur dan laporan bahwa upacara sudah berjalan lancar. Semoga dengan dilaksanakan pengabenan,beliau mendapat tempat dan amor ing acintya Pulang pada Alam Keabadian, sesuai dengan amal perbuatannya,terimakasih kepada krama sami ,khususnya pada ibu ibu Dharma Patni,Serati,Pecalang,Paiketan Pemangku,Jero Bendesa ,Jero Pelima dan jero Klian banjar Adat Tegenan kaler Kelod,yang telah mendukung yadnya tiyang niki,ujar I Wayan Sulaba Yasa,SP salah seorang ponakan almarhum(manixs).
Sabtu, 01 Juni 2024
MEPENAURAN DI DALEM PURI
Mepenauran adalah sebuah acara persembahan atau pembayaran hutang melalui yadnya/banten orang yang sudah meninggal atau sudah menjadi Dewa Hyang pada pura tertentu disebabkan kena hukuman oleh para dewa yang berwenang,karena semasa hidupnya melakukan kesalahan sehingga dihukum atau dipasung pada tempat tertentu. Untuk melepaskan hukuman itu perlu diadakan penauran/pembayaran yang dilakukan oleh pertisentananya ,sehingga roh leluhur itu terbebas dari hukuman. Sehubungan dengan hal tersebut Klian Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Jero Ketut Wana Yasa mengatakan,bahwa anggota dadia ibu banyak mendapat petunjuk ketika menunasan bahwa leluhur leluhur dadia ibu ada yang meayaban kena hukuman metegul meblagbag di Dalem Puri,namun tidak mendapat penanganan oleh keluarga yang bersangkutan dan karena beliau sudah melinggih di dadia,maka mau tak mau menjadi kewajiban bersama,dengan harapan dengan dilaksanakannya upacara ini kepanesan leluhur dapat dikurangi maka kerahayuan dadia semakin meningkat.Beryadnya kepada leluhur adalah karma mulia dan mereka yang tidak melakukan yadnya sebagai kewajiban kepada leluhurnya,maka leluhur tidak akan menganugrahkan kemakmuran dan kerahayuan. Untuk itu yadnya ini sangat penting dilakukan. Dan hari ini Buda Manis Prangbakat,29 Mei 2024 jam 10.00 kita lakukan penauran itu disini di Dalem Puri dengan banten bebangkit, caru manca sato dipuput oleh Ida pandita Mpu Dharma Yoga Semadi gria Pucaksari,Pesaban,sedangkan di Prajapati dan Tegal Penangsaran baktinya dandanan sayut 7 meguling bebek. Usai ngaturang bakti dilaksanakan persembahyangan.Ketika Ida Hyang Murwa daksina terjadi jeritan dari Mk.Warsi yang dari ibu sudah kelinggihan,sedangkan yang dirasuki oleh Dewa Hyang yang dibayari /ketaurin hari ini adalah Ni Made Pandi sambil menangis yang mengatakan bahwa dirinya sangat sakit dan menderita di-blagbag di pura ini karena semasa hidupnya pernah melakukan kesalahan,bersyukur bahwa hari ini dibayar utangnya dan atas pembayaran ini, beliau merasa priutangan dengan pertisentana semua keluarga dadia ibu, karena sudah naurin utangnya. Usai murwa daksina di Jeroan dilanjutkan di Prajapati,di pohon beringin Made Pandi lebih histeris menangis karena ditempat inilah beliau di-blagbag dan meminta tolong untuk dilepaskan. Sedangkan Mk.Warsi dengan menunjuk nunjuk serati bibi Tresna agar ngayah dengan baik,Tresna mengatakan bahwa dirinya sudah ngayah dengan iklas dan baik baik bahkan sejak ngenteg linggihpun ia dengan iklas melakukannya. Acara selanjutnya dilakukan di Tegal penangsaran dan kembali ke pura sekitar jam 13.00 dipendak di pemedal pura,kemudian murwa daksina di paruman dan melinggih(manixs).




.jpeg)













.jpeg)



.jpeg)
