Rabu, 21 Oktober 2026

GONG DADIA: HARMONI SUARA, HARMONI KRAMA, DAN BAKTI KEPADA LELUHUR

Menghidupkan Semangat Bebarungan melalui Pembentukan Sekaa Gong Wanita Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan

oleh

Mk.Manik Puspa Yoga

Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan memiliki seperangkat gamelan gong yang diperoleh melalui tekad, kemauan, dan semangat bakti para krama untuk melengkapi sarana pelaksanaan upacara yadnya. Kehadiran gong bukan sekadar pelengkap kegiatan adat, melainkan bagian penting dari Panca Gita, lima unsur suara suci yang mengiringi pelaksanaan upacara keagamaan Hindu Bali. Terutama pada saat piodalan, alunan gamelan diharapkan mampu menambah kekhidmatan persembahan serta memperdalam rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para leluhur.

Dengan semangat tulus ikhlas dan gotong royong melalui punia, harapan untuk memiliki seperangkat gamelan gong akhirnya dapat terwujud. Astungkara, sarana yang selama ini diimpikan kini telah tersedia. Namun, memiliki seperangkat gamelan ternyata bukanlah akhir dari perjuangan. Justru di sinilah tantangan baru mulai terasa.

Persoalan yang muncul adalah bagaimana mengumpulkan dan melatih para penabuh agar mampu memainkan gamelan secara teratur dan harmonis. Beberapa krama, khususnya para bapak, sesungguhnya telah memiliki sedikit pengetahuan tentang menabuh gong. Akan tetapi, keinginan untuk berkumpul dan berlatih bersama masih perlu ditumbuhkan. Akibatnya, ketika gamelan digunakan dalam upacara, hasil tabuhannya belum dapat mencapai kesempurnaan yang diharapkan karena kurangnya latihan dan kebersamaan.

Jika keadaan ini terus dibiarkan, perangkat gamelan yang telah diperoleh melalui perjuangan bersama dikhawatirkan hanya akan menjadi benda yang tersimpan, perlahan-lahan lapuk, dan kehilangan fungsinya. Padahal, gamelan tidak cukup hanya dimiliki. Ia harus dirawat, dimainkan, dan dihidupkan melalui latihan yang berkesinambungan. Setiap bilah dan pencon perlu disentuh, setiap nada perlu dipahami, dan setiap irama perlu diselaraskan agar menghasilkan alunan yang merdu, terutama ketika mengiringi piodalan di lingkungan dadia.

Gamelan sebagai Cermin Kehidupan Krama

Seperangkat gamelan menyimpan filosofi kehidupan yang sangat mendalam. Setiap instrumen memiliki bentuk, karakter, dan suara yang berbeda. Ada yang berfungsi menjaga irama, mengatur tempo, mempertegas aksen, dan membangun melodi. Tidak satu pun dapat berdiri sendiri untuk menghasilkan keseluruhan keindahan. Semuanya harus berpadu, saling mendengarkan, dan menempatkan diri sesuai dengan fungsi masing-masing.

Perbedaan suara bukanlah penghalang untuk menciptakan keharmonisan. Sebaliknya, perbedaan itulah yang membentuk keindahan ketika dirangkai dalam kesatuan irama. Setiap instrumen harus tahu kapan bersuara, kapan memberikan ruang bagi instrumen lain, seberapa kuat bunyi yang dihasilkan, dan bagaimana mengikuti tempo yang telah disepakati.

Demikian pula kehidupan krama Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan. Di antara warga terdapat berbagai peran dan tanggung jawab. Ada pemangku, klian, prajuru, serta krama yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi sesuai kedudukannya. Perbedaan peran tersebut semestinya menjadi kekuatan untuk membangun dadia yang harmonis, bukan menjadi alasan untuk saling menjauh atau mempertentangkan pendapat.

Seperti halnya gamelan yang membutuhkan keselarasan, kehidupan dadia juga memerlukan perpaduan yang baik dalam berbicara, bersikap, dan bertindak. Setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, tetapi perlu memahami di mana, kapan, dan bagaimana pendapat itu disampaikan.

Suara yang berbeda akan menemukan tempat terbaiknya dalam paruman atau rapat. Di sanalah berbagai pandangan dipertemukan, persoalan dibicarakan, dan keputusan dirumuskan demi kepentingan bersama. Paruman menjadi ruang untuk menyelaraskan pikiran, sebagaimana latihan gamelan menjadi ruang untuk menyelaraskan nada.

Sebaliknya, apabila persoalan dibicarakan di luar bebarungan, tanpa kejelasan dan tanpa semangat mencari solusi, suara yang semestinya membawa kebaikan dapat berubah menjadi kegaduhan. Kata-kata yang keluar tanpa pertimbangan dapat melukai perasaan, menimbulkan kesalahpahaman, bahkan merenggangkan hubungan persaudaraan.

Karena itu, mari kita belajar dari gamelan. Bukan sekadar belajar menabuh, melainkan belajar mendengarkan. Bukan sekadar belajar bersuara, melainkan memahami kapan suara itu perlu disampaikan. Sebab, suara yang indah bukan hanya suara yang terdengar merdu, tetapi juga suara yang membawa kesejukan, kebijaksanaan, dan manfaat bagi kebersamaan.

Merawat Bebarungan, Menjaga Warisan Leluhur

Bebarungan merupakan kekuatan penting dalam kehidupan dadia. Di dalamnya tumbuh rasa persaudaraan, kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab bersama. Kebersamaan tidak akan terpelihara hanya dengan berkumpul pada saat upacara. Kebersamaan harus dirawat melalui komunikasi yang baik, kegiatan bersama, dan kesediaan untuk meluangkan waktu demi kepentingan dadia.

Mari kita jaga bebarungan ini dengan sebaik-baiknya. Jika ada perbedaan, mari kita selesaikan melalui musyawarah. Jika ada kekurangan, mari kita lengkapi bersama. Jika ada pekerjaan yang terasa berat, mari kita ringankan melalui gotong royong. Sebagaimana sebuah gamelan membutuhkan seluruh instrumennya untuk menghasilkan tabuhan yang utuh, demikian pula dadia membutuhkan keterlibatan seluruh krama untuk mewujudkan tujuan bersama.

Alunan gamelan yang harmonis akan melengkapi Panca Gita dalam pelaksanaan yadnya. Suaranya menenteramkan jiwa, membantu menciptakan suasana khidmat, dan menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur serta bakti kepada leluhur. Melalui pelestarian gamelan, kita tidak hanya menjaga benda warisan, tetapi juga merawat nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu.

Oleh karena itu, perangkat gamelan yang telah kita miliki harus dipelihara dengan baik dan ditabuh secara teratur. Latihan bukan sekadar persiapan untuk tampil dalam upacara, melainkan juga sarana membangun disiplin, kesabaran, kekompakan, dan rasa saling menghargai. Dari setiap latihan, kita belajar bahwa hasil yang indah hanya dapat dicapai melalui proses, ketekunan, dan kesediaan untuk berjalan bersama.

Sekaa Gong Wanita: Langkah Baru, Semangat Baru

Melihat tantangan dalam mengumpulkan dan melatih para penabuh, sudah saatnya kita membuka ruang bagi gagasan baru. Sebagai salah satu wujud emansipasi dan pemberdayaan perempuan dalam pelestarian seni budaya serta kegiatan adat, ke depan kita dapat membentuk Sekaa Gong Wanita Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan.

Gagasan ini bukan untuk mempertentangkan peran laki-laki dan perempuan, melainkan untuk memperluas partisipasi, menumbuhkan semangat baru, dan memberikan kesempatan kepada para wanita untuk turut mengambil bagian dalam pelestarian seni tabuh serta pelaksanaan yadnya. Dengan adanya sekaa gong wanita, diharapkan kegiatan latihan dapat berkembang, regenerasi penabuh dapat berjalan, dan perangkat gamelan yang telah diperjuangkan bersama semakin hidup serta bermanfaat.

Pembentukan sekaa ini tentu membutuhkan niat yang tulus, dukungan seluruh krama, kesediaan para wanita untuk belajar, serta komitmen untuk berlatih secara berkelanjutan. Tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk memulai. Yang terpenting adalah adanya kemauan, kebersamaan, dan keyakinan bahwa sesuatu yang baik dapat diwujudkan melalui langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Kelak, ketika alunan gong terdengar merdu mengiringi piodalan, kita tidak hanya mendengar perpaduan nada dari berbagai instrumen. Kita juga akan mendengar cerita tentang ketulusan punia, semangat gotong royong, ketekunan berlatih, serta persatuan krama yang diwujudkan dalam sebuah persembahan suci.

Itulah harapan kita bersama: menjadikan gamelan bukan sekadar perangkat seni, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan, membangun keharmonisan, dan menghidupkan nilai-nilai luhur leluhur.

Penutup: Satu Irama, Satu Tujuan, Satu Bakti

Mari kita rawat gong ini dengan penuh tanggung jawab. Mari kita hidupkan melalui latihan, kita merdukan melalui kekompakan, dan kita persembahkan melalui yadnya dengan hati yang tulus. Jangan sampai perangkat gamelan yang diperoleh melalui semangat punia dan perjuangan bersama kehilangan maknanya karena kurangnya perhatian dan kebersamaan.

Semoga gagasan pembentukan Sekaa Gong Wanita Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan dapat menjadi langkah nyata untuk mewujudkan harapan tersebut. Semoga semakin banyak krama yang tergerak untuk berpartisipasi, semakin erat hubungan persaudaraan, dan semakin terjaga warisan seni budaya yang kita miliki.

Sebab, gamelan yang baik bukan hanya tentang nada yang selaras, melainkan juga tentang hati yang seirama. Krama yang kuat bukan hanya tentang banyaknya orang yang berkumpul, melainkan tentang kesediaan untuk saling mendengarkan, menghormati, dan bekerja bersama.

Dengan satu irama, satu tujuan, dan satu semangat bakti, mari kita wujudkan keharmonisan Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan sebagai persembahan tulus kepada leluhur dan warisan berharga bagi generasi mendatang.

Om Santih, Santih, Santih Om.

Sabtu, 17 Oktober 2026

Keluarga I Ketut Seler Ariawan Gelar Upacara Naur Sampelan, Surat Pepegat Jadi Bagian Penting.

TEGENAN,POST MANIK GNI – Keluarga I Ketut Seler Ariawan melaksanakan upacara naur sampelan di Pura Dalem Putra, Desa Adat Tegenan, pada Rabu Wage, sasih kelima, pinanggal pang 4, rah 8, tenggek 4, Tahun Isaka 1948. Rangkaian upacara diawali dengan nuur Dewa Hyang, dilanjutkan dengan prosesi nunas surat pepegat sebelum Dewa Hyang diiring menuju Pura Dalem untuk melaksanakan kewajiban adat.

Upacara ini dilaksanakan sebagai bentuk pemenuhan kewajiban perti sentana kepada almarhum Dewa Hyang Ketut Tantri, yang semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Klian Banjar Dinas. Ketika terjadi kekosongan jabatan Klian Banjar Adat Tegenan sekitar tahun 1968, almarhum sempat merangkap tugas sebagai pejabat sementara (Pjs.) Klian Banjar Adat selama kurang lebih dua tahun, sebelum ditetapkan klian banjar adat definitif.

Berdasarkan petunjuk yang diterima keluarga, almarhum juga berkewajiban melaksanakan naur sampelan di Pura Dalem karena pernah menjalankan tugas sebagai pejabat sementara Klian Banjar Adat.

Dalam kepercayaan tradisi di Desa Adat Tegenan, terdapat ketentuan tidak tertulis bahwa setiap klian maupun pemangku yang akan melaksanakan naur sampelan atau kawas wajib terlebih dahulu nunas surat pepegat. Surat tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian prosesi agar kewajiban yang bersangkutan tidak dilaksanakan kembali untuk kedua kalinya(tidak kepindoan).

Selanjutnya setelah nedunang Dewa Hyang yang akan melaksanakan naur sampelan, keluarga langsung memohon surat pepegat di linggih Ratu Gde Sakti Penyarikan, Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan. Prosesi tersebut dilaksanakan oleh Jero Mangku Penyarikan Kubayan dengan banten sesuai ketentuan dan disaksikan oleh klian/prejuru dadia. Seluruh rangkaian berlangsung sekitar satu setengah hingga dua jam.

Menurut Pemangku Penyarikan Kubayan, MK Manik Puspa Yoga, pada masa lalu pernah terjadi sejumlah kasus pengulangan(kepindoan) naur sampelan akibat tidak dilengkapinya surat pepegat. Ia menyebutkan terdapat empat kasus, terdiri atas tiga pemangku dan satu klian, yang harus mengulang prosesi tersebut.

Menurut penuturannya, persoalan itu terjadi karena adanya provokasi atau pengaruh pihak tertentu yang membuat yang bersangkutan tidak mencari surat pepegat ke dadia Ibu karena dianggap pribadi. Akibatnya, kewajiban niskala yang telah dilaksanakan harus diulang kembali.

Mengacu pada lontar Surat Pepegat, menurut penjelasan yang disampaikan dalam prosesi tersebut, pelaksanaan naur sampelan harus dilengkapi surat pepegat yang dikeluarkan oleh Ki Pasek Kubayan. Istilah kubayan dijelaskan berasal dari kata kuub dan wayahan. Kuub berarti wilayah, sedangkan wayahan berarti kelihan atau pemimpin. Dengan demikian, istilah tersebut dimaknai berkaitan dengan kepemimpinan wilayah.

“Karena keluarga kami dari dahulu memang memegang tapuk kepemimpinan di desa ini, maka kewajiban niskala tersebut semestinya dilaksanakan sesuai ketentuan,” demikian penjelasan yang disampaikan pihak keluarga.

Setelah memperoleh surat pepegat, keluarga kemudian ngiringang Dewa Hyang menuju Pura Dalem untuk melaksanakan naur sampelan. Sarana upacara yang dipersembahkan berupa banten dandanan sayut pitu,  iwak itik, serta seekor babi dengan berat sekitar 100 kilogram lengkap dengan bumbunya.

Selain itu, keluarga menyiapkan beras sebanyak 100 kilogram untuk keperluan ngingu atau menjamu krama Banjar Adat. Setelah rangkaian persembahan di Pura Dalem selesai, prosesi dilanjutkan dengan ngaturang bakti pejati di tanguran atau kulkul banjar.

Selanjutnya, Dewa Hyang diiring kembali ke tempat semula untuk distanakan kembali setelah seluruh kewajiban  ditunaikan.

Klian Dadia sekaligus Bendesa, Jero Ketut Wana Yasa, menjelaskan bahwa banten saat memohon surat pepegat berupa dandanan sayut, pitu iwak itik, serta sesantun berupa wakul berisi uang kepeng asli sebanyak 1.200 kepeng asli.

Setelah melalui proses nregteg banten selama tiga hari, dilakukan penebusan sesantun yang nilainya disetarakan dengan Rp1.200.000. Untuk orang dalam yang telah melaksanakan maturan, standar penebusan tersebut kemudian dikembalikan atau kepaicayang sebesar 50 persen kepada yang bersangkutan. Sisanya dibagikan sesuai porsi dan tugas masing-masing, termasuk kepada krama, pihak yang membuat sarana upacara, dan prajuru.

Jero Ketut Wana Yasa menegaskan bahwa ketentuan tersebut merupakan bagian dari tata pelaksanaan adat yang perlu diperhatikan agar seluruh rangkaian upacara berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi keluarga, pelaksanaan naur sampelan ini bukan semata-mata memenuhi kewajiban ritual, melainkan juga menjaga tertibnya pelaksanaan sunia serta memastikan seluruh tahapan dilakukan sesuai petunjuk dan ketentuan yang diwariskan secara turun-temurun.

“Ila-ila dahat apabila ketentuan ini dilanggar,” demikian penegasan yang disampaikan terkait pentingnya menaati ketentuan niskala dalam pelaksanaan naur sampelan. (manixs)

 

Persiapan Ngingu Banjar dengan menyerahkan sekwintal beras,basa-basa dan babi sejumlah 1kg tiap KK banjar jangkepan aktif,babi mebangun urip untuk bakti dandanan leleb,paica kawas 5 iket .

Matur piuning lan nunas tirtan Ratu Dukuh

Prosesi saat dimulainya  nunas surat pepegat

Ngadegang Dewa Hyang

Banten Dandanan sayut 7 iwak itik plus  Encetan dan sesantun wakul jinah 1.200 kepeng asli

Encetan belakang

Encetan depan

Galaan ngempat

Matur piuning jagi nyurat nedun lontar pepegat

Nedunang Lontar Surat Pepegat

Ngaturin Bakti pemendak 

Ngungkab lontar

Ngawit Nyurat

Muputang penyurat

Ngilenang upakara

Ngelenang bakti pemlaspas Surat Pepegat

Pemuspaan nunas Lugra Dewa Hyang jagi naur sampelan

Mepenauran ring Sanghyang Iswara Kukul Banjar

Peresikan diajeng pemedal Pura Dalem dwaning pacang nangkil ke jeroan

Naur sampelan keputus surat pemegat sane mepenauran olih Jero Bendesa mapan dados klian banjar adat, yan menadi mangku kaputus olih mangku desa mejalaran sayut pemegat,maguru piduka,pejati lan sesantun 

Ilikita ngemargiang surat pepegat ring naur sampelan diajeng pemangku penyarikan, pejati lan sesantun

Ngayab sayut pemegat/Puput

Jumat, 11 September 2026

Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Desa Adat Tegenan: Jejak Kawitan, Tradisi, dan Jaringan Sakral Pelinggih


Desa Adat Tegenan menyimpan salah satu bentuk tradisi kawitan yang menarik untuk dikaji, yaitu Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan. Dadia ini tidak hanya menjadi tempat pemujaan leluhur bagi para pangeponya, tetapi juga memperlihatkan struktur keagamaan yang cukup kompleks. Keberadaan berbagai pelinggih, pembagian beberapa komplek pemujaan, tradisi odalan, hingga keterkaitan dengan kepemimpinan adat menunjukkan bahwa pura dadia ini mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan religius dan sosial masyarakat setempat.

Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan saat ini didukung oleh sekitar 50 kepala keluarga (KK). Piodalan atau odalan dilaksanakan setiap satu tahun sekali, bertepatan dengan Anggara Kasih Prangbakat. Waktu pelaksanaan tersebut menjadi momentum penting bagi seluruh sentana untuk berkumpul, melakukan persembahyangan, serta mempererat hubungan antara keluarga-keluarga yang berada dalam satu garis dadia.

Secara umum, kompleks pura dapat dipahami sebagai sebuah ruang sakral yang tidak hanya berisi satu bentuk pemujaan. Di dalamnya terdapat beberapa lapisan penghormatan: kepada Dewa-dewa manifestasi Ida Sang Hyang Widhi, kepada Betara Kawitan Hyang Gni Jaya, kepada para leluhur/Ibu Kawitan, serta kepada tokoh-tokoh suci yang mempunyai kedudukan khusus dalam tradisi setempat.

Empat Kompleks Utama Pelinggih

Keunikan Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan antara lain terlihat dari banyaknya bangunan suci yang terbagi ke dalam sekitar empat kompleks.

1. Kompleks Utama

Kompleks pertama merupakan bagian utama dari pura. Di dalamnya terdapat Padma dan dasar atau bataran utama, serta Meru Tumpang Tiga.

Meru tersebut menjadi stana:

  • Mpu Gni Jaya/Bhatara Kawitan;
  • Hyang Pasupati/Bhatara Guru;
  • Gedong Linggih Dalem Digde/Dalem Bugbugan.

Pada sisi utara terdapat Taksu, kemudian Stana Ratu Gede Sakti Penyarikan.

Pada jejer utara bagian barat terdapat sejumlah pelinggih yang mempunyai nama dan fungsi yang sangat menarik, yaitu:

  • Dewi Ulundanu;
  • Betara Sangkara;
  • Bang Manik Angkeran;
  • Sri Sedana;
  • Mpu Kuturan.
  • Ratu Ayu Manik Bingin

Di sekitar kompleks ini juga terdapat Samuan, Pepelik, dan Jaksa Jejeneng. Pada bagian depan terdapat pelinggih Anglurah dan Penegtegan.

Susunan tersebut memperlihatkan bahwa kompleks utama bukan sekadar ruang pemujaan kawitan dalam arti sempit. Ia juga memuat unsur-unsur yang berkaitan dengan kepemimpinan, kesuburan, kemakmuran, air, kesucian, kependetaan, serta fungsi penataan kehidupan masyarakat.

2. Kompleks Ratu Dukuh Bujangga Sakti

Kompleks kedua memiliki pelinggih yang diperuntukkan bagi:

  • Tri Purusa;
  • Dewi Saraswati;
  • Dukuh Bujangga Sakti;
  • Sanghyang Tapini/Umadewi.

Menariknya, keberadaan Dukuh Bujangga Sakti dalam satu lingkungan dengan Saraswati dan Sanghyang Tapini/Umadewi dapat dibaca sebagai penekanan terhadap aspek pengetahuan, kesucian, kependetaan, dan kekuatan sakral Perempuan sebagai tapeni.

Khusus mengenai linggih Dukuh, terdapat tradisi yang sangat kuat. Masyarakat memfungsikannya sebagai tempat memohon tirta secara niskala, terutama ketika terdapat kematian dan pelaksanaan Pitra Yadnya/Ngaben dan upacara Manusa Yadnya.

Walaupun dalam upacara telah digunakan sulinggih secara nyata, masyarakat masih meyakini bahwa permohonan tirta di linggih Dukuh merupakan bagian yang tidak boleh ditinggalkan. Kepercayaan seperti ini menunjukkan bahwa dalam pandangan masyarakat setempat terdapat hubungan antara sulinggih sekala dan fungsi kependetaan niskala yang diwariskan melalui tradisi dadia.

3. Kompleks Ibu Kawitan

Kompleks berikutnya merupakan kawasan yang secara khusus berhubungan dengan ibu kawitan. Di dalamnya terdapat:

  • Linggih Betara Guru Ibu Kawitan dan Kompyang
  • Stana Ibu Kawitan yang terdiri dari gedong didalamnya bertugu/pelinggih 3
  • Hyang Kewalunan;
  • Hyang Kerihinan;
  • Hyang Dewa/Hyang Kompyang;
  • Paruman.

Keberadaan linggih tersebut memperlihatkan adanya lapisan penghormatan terhadap leluhur yang tidak hanya dipahami sebagai satu figur tunggal. Dalam tradisi Bali, konsep leluhur dapat memiliki beberapa tingkat dan sebutan, sehingga keberadaan Hyang Kompyang, Hyang Dewa, dan bentuk-bentuk leluhur lainnya dapat merepresentasikan proses kesinambungan hubungan antara generasi yang masih hidup dengan para leluhur.

4. Jaba Tengah

Di jaba tengah terdapat linggih Bhatara Guru dan Hyang Nama.

Linggih Hyang Nama mempunyai fungsi yang sangat menarik. Tempat tersebut diperuntukkan bagi leluhur yang baru selesai diaben dan masih diketahui namanya. Dengan demikian, ruang ini dapat dipahami sebagai bagian dari proses transisi penghormatan leluhur: seseorang yang telah meninggalkan dunia manusia belum serta-merta hilang dari ingatan sosial keluarga, tetapi tetap mempunyai tempat dalam struktur pemujaan.

Pada bagian depan terdapat Apit Lawang, candi, serta Ganapati.serta Bale Kulkul

Keberadaan Ganapati juga menarik karena dalam tradisi Hindu, Ganapati/Ganesha berkaitan dengan penghalang dan pembukaan jalan, sehingga secara simbolis kehadirannya di area depan dapat dibaca sebagai penjaga sekaligus pembuka jalan menuju ruang sakral.

Pelinggih-Pelinggih yang Sangat Unik

Salah satu kekayaan utama Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan adalah keberadaan sejumlah pelinggih yang memiliki fungsi dan cerita khusus.

Di antaranya adalah Gedong Dalem Bugbugan, Dewi Danuh, Sangkara, Padma Capah  stana Bang Manik Angkeran, dan Gedong Ratu Gede Sakti Penyarikan.

Lontar Surat Pepegat

Salah satu tradisi yang paling menarik adalah keberadaan lontar Surat Pepegat.

Menurut tradisi yang diwariskan di dadia ini, lontar tersebut mempunyai fungsi berkaitan dengan pembuatan surat pepegat bagi almarhum atau dewa hyang yang semasa hidup pernah menjabat sebagai klian atau pemangku.

Ketika dilaksanakan proses meserah sampelan, orang yang bersangkutan harus dilengkapi dengan surat pepegat tersebut.

Tradisi ini memperlihatkan bahwa jabatan sosial dan keagamaan seseorang semasa hidup ternyata tidak berhenti begitu saja setelah kematian. Ada mekanisme ritual untuk menandai perubahan statusnya dari manusia yang menjalankan fungsi adat/agama menjadi leluhur yang telah memasuki ruang pemujaan.

Dengan demikian, surat pepegat dapat dipandang sebagai salah satu bentuk dokumentasi ritual mengenai perubahan status seseorang dalam struktur sosial-religius masyarakat.

Linggih Dukuh dan Konsep Sulinggih Niskala

Keberadaan Dukuh Bujangga Sakti merupakan salah satu aspek yang paling menarik secara antropologis.

Masyarakat mempercayai bahwa Dukuh mempunyai fungsi sebagai sulinggih secara niskala. Karena itu, ketika terjadi kematian, terutama dalam rangkaian ngaben atau Pitra Yadnya, masyarakat memohon tirta di tempat tersebut.

Hal ini tidak berarti menggantikan peran sulinggih secara sekala. Sebaliknya, keduanya berjalan berdampingan. Sulinggih secara nyata memimpin pelaksanaan upacara, sedangkan linggih Dukuh dipahami mempunyai fungsi sakral yang diwariskan dari leluhur dan dipercaya memberikan penyempurnaan secara niskala.

Kepercayaan semacam ini menunjukkan bagaimana masyarakat Bali dapat mempertahankan dua lapisan otoritas keagamaan sekaligus: otoritas ritual yang terlihat dan otoritas sakral yang diwariskan melalui tradisi.

Dadia dan Kepemimpinan Desa Adat

Hal lain yang sangat menarik adalah hubungan antara dadia dengan struktur kepemimpinan Desa Adat Tegenan.

Dalam tradisi yang masih berlangsung, posisi pengulu desa, seperti Bendesa, Klian Banjar, serta Pemangku Kahyangan Tiga, secara turun-temurun berasal dari dadia ini.

Menurut ingatan kolektif masyarakat, pernah terjadi suatu masa ketika jabatan-jabatan tersebut diisi oleh orang dari dadia lain, dan kondisi desa kemudian dianggap kurang kondusif. Pengalaman tersebut kemudian memperkuat keyakinan masyarakat bahwa kepemimpinan desa mempunyai hubungan tertentu dengan garis dadia ini.

Fenomena tersebut penting dilihat bukan semata-mata sebagai persoalan "siapa yang berhak memimpin", tetapi sebagai bentuk legitimasi adat yang dibangun dari sejarah, kepercayaan, dan pengalaman kolektif masyarakat.

Dengan kata lain, dadia tidak hanya berfungsi sebagai organisasi pemujaan leluhur. Ia juga menjadi salah satu sumber identitas dan legitimasi sosial dalam kehidupan desa adat.

Hubungan dengan Dadia Agung Pasek Gelgel Pegatepan

Menurut tradisi yang berkembang di Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan, Dadia Agung dari pura ini adalah Dadia Agung Pasek Gelgel Pegatepan.

Hal ini menjadi sangat penting ketika melihat keberadaan Dalem Digde/Dalem Bugbugan.

Jika benar tradisi lisan yang diwariskan menyebutkan bahwa asal-usul dadia ini berhubungan dengan Pegatepan, maka keberadaan Dalem Digde di dalam satu kompleks dengan pelinggih-pelinggih kawitan dapat menjadi petunjuk penting mengenai cara masyarakat dahulu mengonstruksi identitas asal-usul mereka.

Namun, perlu dibedakan antara:

tradisi genealogis tradisi pemujaan, dan
bukti sejarah tertulis.

Ketiganya tidak selalu identik.

Pura Dalem Digde sendiri mempunyai kedudukan penting dalam lanskap sejarah Gelgel; salah satu sumber mengenai Desa Adat Gelgel menyebut Dalem Digde sebagai salah satu pura Dalem penting di kawasan tersebut,Karena itu, keberadaan Dalem Digde dalam struktur pemujaan Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan dapat menjadi bahan penelitian yang sangat menarik, terutama jika nantinya dapat dicocokkan dengan prasasti, lontar babad, piagem, silsilah, atau penuturan panglingsir.

Lalu, Apa Hubungan Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan Sangkara?

Bagian ini justru merupakan salah satu aspek paling menarik dari Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan.

Jika titik awal pembacaan adalah bahwa Dalem Digde berkaitan dengan identitas Pegatepan, maka kehadiran Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan Sangkara di dalam kompleks yang sama kemungkinan besar tidak berdiri secara acak.

Namun, belum tepat jika langsung disimpulkan bahwa ketiganya merupakan leluhur langsung dari Pasek Gelgel Pegatepan. Hubungan tersebut perlu dibuktikan melalui sumber primer.

Ada beberapa kemungkinan interpretasi.

1. Hubungan melalui jaringan tradisi Siwa dan kependetaan

Bang Manik Angkeran dalam tradisi Bali mempunyai hubungan kuat dengan kisah Danghyang Siddhimantra, tradisi kependetaan, dan perjalanan spiritual. Sumber-sumber tradisi babad juga menghubungkan Manik Angkeran dengan lingkungan Besakih dan berbagai tokoh Pasek/Arya.

Sementara itu, Mpu Kuturan juga hadir dalam kompleks yang sama.

Menariknya, Mpu Kuturan dan figur-figur kependetaan seperti Dukuh/Bujangga muncul bersamaan dengan Bang Manik Angkeran. Ini membuka kemungkinan bahwa yang disimpan oleh pura bukan hanya silsilah darah, tetapi juga jaringan tokoh spiritual dan tradisi keagamaan yang pernah menjadi bagian dari pembentukan komunitas.

Artinya, Bang Manik Angkeran belum tentu harus dibaca sebagai "ayah atau leluhur langsung". Ia bisa saja hadir sebagai tokoh suci yang mempunyai hubungan ritual atau historis dengan komunitas penyungsung.

2. Dewi Danuh kemungkinan berkaitan dengan aspek air dan kesuburan

Nama Dewi Danuh sangat kuat mengarah kepada simbolisme danau, air, dan kesuburan.

Hal ini menjadi menarik karena di kompleks yang sama terdapat Dewi Ulundanu dan Sri Sedana.

Secara simbolik, rangkaian:

Dewi Danuh – Dewi Ulundanu – Sangkara – Sri Sedana

dapat dibaca sebagai sebuah jaringan simbol yang berkaitan dengan air, tanaman, kesuburan, pertanian, dan kesejahteraan.

Dalam tradisi Bali, unsur air bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga merupakan unsur sakral yang menopang kehidupan. Karena itu, keberadaan Dewi Danuh dalam sebuah pura dadia dapat mempunyai fungsi kosmologis, bukan harus berarti bahwa penyungsungnya mempunyai hubungan darah dengan tokoh yang bernama atau bergelar Dewi Danuh.

3. Sangkara memperkuat unsur kesuburan dan kehidupan

Sangkara mempunyai asosiasi kuat dengan tumbuh-tumbuhan dan aspek kehidupan yang berkembang.

Jika Sangkara ditempatkan bersama Sri Sedana, Dewi Danuh, dan Ulundanu, maka terdapat pola yang sangat menarik:

Air → pertumbuhan → hasil bumi → kemakmuran.

Dengan demikian, pelinggih-pelinggih tersebut mungkin merupakan satu jaringan konseptual yang menggambarkan kesuburan dan kesejahteraan, bukan semata-mata daftar tokoh yang mempunyai hubungan genealogis.

Ini justru bisa menjelaskan mengapa mereka ditempatkan dalam kompleks yang sama dengan pelinggih kawitan.

Kemungkinan Lain: Jejak Perjalanan Leluhur

Ada kemungkinan yang lebih menarik lagi.

Pura dadia sering kali tidak hanya menyimpan "siapa leluhur kami", tetapi juga menyimpan "ke mana leluhur kami pernah berhubungan atau dari mana mereka memperoleh legitimasi spiritual."

Artinya, susunan pelinggih bisa menjadi semacam peta memori leluhur.

Jika demikian, keberadaan:

  • Dalem Digde;
  • Bang Manik Angkeran;
  • Dewi Danuh;
  • Sangkara;
  • Mpu Kuturan;
  • Dukuh Bujangga Sakti;
  • Hyang Pasupati;
  • Bhatara Guru;

mungkin merupakan hasil dari beberapa lapisan sejarah yang kemudian dikristalkan menjadi satu sistem pemujaan.

Fenomena seperti ini tidak aneh dalam perkembangan pura-pura kawitan. Sebuah komunitas dapat mengalami perpindahan tempat, perkawinan antarkelompok, hubungan politik, hubungan kependetaan, atau perubahan struktur sosial. Dalam perjalanan waktu, berbagai memori tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk pelinggih dan ritual.

Karena itu, pura dapat dibaca seperti arsip sejarah yang ditulis bukan dengan kertas, melainkan dengan arsitektur, nama pelinggih, ritual, dan tradisi lisan.

Hipotesis yang Paling Masuk Akal

Jika seluruh data yang ada untuk sementara dirangkai, saya melihat ada tiga lapisan besar di Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan.

Lapisan pertama: Kawitan dan genealogis

Lapisan ini diwakili oleh:

Pasek Gelgel → Pegatepan → Dalem Digde/Dalem Bugbugan → Hyang Kawitan dan leluhur.

Ini merupakan lapisan identitas genealogis.

Lapisan kedua: Kependetaan dan kesucian

Lapisan ini terlihat dari:

Mpu Gni Jaya, Pasupati, Mpu Kuturan, Dukuh Bujangga Sakti, Sanghyang Tapini, dan tradisi tirta niskala.

Ini merupakan lapisan spiritual.

Lapisan ketiga: Kosmologi kehidupan

Lapisan ini terlihat dari:

Dewi Danuh, Ulundanu, Sangkara, Sri Sedana, Bang Manik Angkeran, serta pelinggih-pelinggih yang berkaitan dengan kemakmuran dan perlindungan.

Ini merupakan lapisan kosmologis.

Dengan pembacaan seperti ini, Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan Sangkara tidak harus dipaksakan sebagai satu garis keturunan dengan Pasek Gelgel Pegatepan. Bisa jadi mereka merupakan bagian dari jaringan religius yang lebih luas yang kemudian menyatu dengan identitas dadia.

Mengapa Hal Ini Penting?

Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan menjadi menarik justru karena tradisinya tidak sederhana.

Ia bukan hanya tempat untuk "menyembah kawitan", tetapi menjadi tempat bertemunya:

leluhur + kawitan + kependetaan + kosmologi + kesuburan + kematian + kepemimpinan desa.

Tradisi surat pepegat memperlihatkan hubungan antara status sosial dengan kematian. Linggih Dukuh menunjukkan hubungan antara sulinggih sekala dan niskala. Linggih Hyang Nama memperlihatkan bagaimana leluhur yang baru diaben ditempatkan dalam memori kolektif. Sementara keberadaan Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, Sangkara, Sri Sedana, dan Mpu Kuturan menunjukkan adanya lapisan religius yang lebih luas daripada sekadar genealogis.

Bahkan fakta bahwa jabatan pengulu desa secara tradisional berasal dari lingkungan dadia menunjukkan bahwa identitas kawitan telah berkelindan dengan struktur sosial Desa Adat Tegenan.

Dalam kajian sejarah lokal, kondisi seperti ini sangat berharga karena setiap pelinggih dapat menjadi "petunjuk" untuk menelusuri lapisan sejarah yang berbeda.

Penutup

Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Desa Adat Tegenan dapat dipandang sebagai sebuah ruang memori kolektif masyarakat. Sekitar 50 KK yang menjadi penyungsungnya tidak hanya mewarisi kewajiban odalan setiap Anggara Kasih Prangbakat, tetapi juga mewarisi sistem pengetahuan mengenai leluhur, kematian, kependetaan, kepemimpinan, dan hubungan manusia dengan alam.

Keberadaan Dalem Digde/Dalem Bugbugan sangat penting apabila identitas asal-usul dadia memang berkaitan dengan Pasek Gelgel Pegatepan. Sementara itu, kehadiran Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, Sangkara, Sri Sedana, Mpu Kuturan, dan Dukuh Bujangga Sakti membuka kemungkinan bahwa pura ini menyimpan lapisan sejarah yang lebih luas.

Hipotesis yang paling hati-hati adalah bahwa Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan Sangkara tidak harus merupakan satu garis genealogis dengan Pasek Gelgel Pegatepan, tetapi dapat merupakan bagian dari jaringan sakral, kosmologis, atau historis yang kemudian diintegrasikan ke dalam sistem pemujaan dadia.

Untuk membuktikan lebih jauh, penelitian berikutnya sebaiknya secara khusus mencari lontar, prasasti, piagem, babad, catatan pelinggih, silsilah Pasek Gelgel Pegatepan, serta cerita panglingsir mengenai asal-usul masing-masing pelinggih. Bahkan, jika nama-nama pelinggih tersebut dapat dibandingkan dengan pura-pura Pasek Gelgel Pegatepan lainnya, kemungkinan besar akan muncul pola yang dapat membantu menjawab mengapa Dalem Digde, Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan Sangkara ditempatkan bersama dalam satu kompleks.

Dengan demikian, pertanyaan tentang hubungan ketiganya bukan sekadar pertanyaan mengenai "siapa leluhur siapa", tetapi mungkin merupakan pintu masuk untuk membaca perjalanan sejarah dan pembentukan identitas religius Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan itu sendiri.(manixs)