Menghidupkan Semangat Bebarungan melalui Pembentukan Sekaa Gong Wanita Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan
oleh
Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan memiliki seperangkat gamelan gong yang diperoleh melalui tekad, kemauan, dan semangat bakti para krama untuk melengkapi sarana pelaksanaan upacara yadnya. Kehadiran gong bukan sekadar pelengkap kegiatan adat, melainkan bagian penting dari Panca Gita, lima unsur suara suci yang mengiringi pelaksanaan upacara keagamaan Hindu Bali. Terutama pada saat piodalan, alunan gamelan diharapkan mampu menambah kekhidmatan persembahan serta memperdalam rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para leluhur.
Dengan semangat tulus ikhlas dan gotong royong melalui punia, harapan untuk memiliki seperangkat gamelan gong akhirnya dapat terwujud. Astungkara, sarana yang selama ini diimpikan kini telah tersedia. Namun, memiliki seperangkat gamelan ternyata bukanlah akhir dari perjuangan. Justru di sinilah tantangan baru mulai terasa.
Persoalan yang muncul adalah bagaimana mengumpulkan dan melatih para penabuh agar mampu memainkan gamelan secara teratur dan harmonis. Beberapa krama, khususnya para bapak, sesungguhnya telah memiliki sedikit pengetahuan tentang menabuh gong. Akan tetapi, keinginan untuk berkumpul dan berlatih bersama masih perlu ditumbuhkan. Akibatnya, ketika gamelan digunakan dalam upacara, hasil tabuhannya belum dapat mencapai kesempurnaan yang diharapkan karena kurangnya latihan dan kebersamaan.
Jika keadaan ini terus dibiarkan, perangkat gamelan yang telah diperoleh melalui perjuangan bersama dikhawatirkan hanya akan menjadi benda yang tersimpan, perlahan-lahan lapuk, dan kehilangan fungsinya. Padahal, gamelan tidak cukup hanya dimiliki. Ia harus dirawat, dimainkan, dan dihidupkan melalui latihan yang berkesinambungan. Setiap bilah dan pencon perlu disentuh, setiap nada perlu dipahami, dan setiap irama perlu diselaraskan agar menghasilkan alunan yang merdu, terutama ketika mengiringi piodalan di lingkungan dadia.
Gamelan sebagai Cermin Kehidupan Krama
Seperangkat gamelan menyimpan filosofi kehidupan yang sangat mendalam. Setiap instrumen memiliki bentuk, karakter, dan suara yang berbeda. Ada yang berfungsi menjaga irama, mengatur tempo, mempertegas aksen, dan membangun melodi. Tidak satu pun dapat berdiri sendiri untuk menghasilkan keseluruhan keindahan. Semuanya harus berpadu, saling mendengarkan, dan menempatkan diri sesuai dengan fungsi masing-masing.
Perbedaan suara bukanlah penghalang untuk menciptakan keharmonisan. Sebaliknya, perbedaan itulah yang membentuk keindahan ketika dirangkai dalam kesatuan irama. Setiap instrumen harus tahu kapan bersuara, kapan memberikan ruang bagi instrumen lain, seberapa kuat bunyi yang dihasilkan, dan bagaimana mengikuti tempo yang telah disepakati.
Demikian pula kehidupan krama Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan. Di antara warga terdapat berbagai peran dan tanggung jawab. Ada pemangku, klian, prajuru, serta krama yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi sesuai kedudukannya. Perbedaan peran tersebut semestinya menjadi kekuatan untuk membangun dadia yang harmonis, bukan menjadi alasan untuk saling menjauh atau mempertentangkan pendapat.
Seperti halnya gamelan yang membutuhkan keselarasan, kehidupan dadia juga memerlukan perpaduan yang baik dalam berbicara, bersikap, dan bertindak. Setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, tetapi perlu memahami di mana, kapan, dan bagaimana pendapat itu disampaikan.
Suara yang berbeda akan menemukan tempat terbaiknya dalam paruman atau rapat. Di sanalah berbagai pandangan dipertemukan, persoalan dibicarakan, dan keputusan dirumuskan demi kepentingan bersama. Paruman menjadi ruang untuk menyelaraskan pikiran, sebagaimana latihan gamelan menjadi ruang untuk menyelaraskan nada.
Sebaliknya, apabila persoalan dibicarakan di luar bebarungan, tanpa kejelasan dan tanpa semangat mencari solusi, suara yang semestinya membawa kebaikan dapat berubah menjadi kegaduhan. Kata-kata yang keluar tanpa pertimbangan dapat melukai perasaan, menimbulkan kesalahpahaman, bahkan merenggangkan hubungan persaudaraan.
Karena itu, mari kita belajar dari gamelan. Bukan sekadar belajar menabuh, melainkan belajar mendengarkan. Bukan sekadar belajar bersuara, melainkan memahami kapan suara itu perlu disampaikan. Sebab, suara yang indah bukan hanya suara yang terdengar merdu, tetapi juga suara yang membawa kesejukan, kebijaksanaan, dan manfaat bagi kebersamaan.
Merawat Bebarungan, Menjaga Warisan Leluhur
Bebarungan merupakan kekuatan penting dalam kehidupan dadia. Di dalamnya tumbuh rasa persaudaraan, kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab bersama. Kebersamaan tidak akan terpelihara hanya dengan berkumpul pada saat upacara. Kebersamaan harus dirawat melalui komunikasi yang baik, kegiatan bersama, dan kesediaan untuk meluangkan waktu demi kepentingan dadia.
Mari kita jaga bebarungan ini dengan sebaik-baiknya. Jika ada perbedaan, mari kita selesaikan melalui musyawarah. Jika ada kekurangan, mari kita lengkapi bersama. Jika ada pekerjaan yang terasa berat, mari kita ringankan melalui gotong royong. Sebagaimana sebuah gamelan membutuhkan seluruh instrumennya untuk menghasilkan tabuhan yang utuh, demikian pula dadia membutuhkan keterlibatan seluruh krama untuk mewujudkan tujuan bersama.
Alunan gamelan yang harmonis akan melengkapi Panca Gita dalam pelaksanaan yadnya. Suaranya menenteramkan jiwa, membantu menciptakan suasana khidmat, dan menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur serta bakti kepada leluhur. Melalui pelestarian gamelan, kita tidak hanya menjaga benda warisan, tetapi juga merawat nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu.
Oleh karena itu, perangkat gamelan yang telah kita miliki harus dipelihara dengan baik dan ditabuh secara teratur. Latihan bukan sekadar persiapan untuk tampil dalam upacara, melainkan juga sarana membangun disiplin, kesabaran, kekompakan, dan rasa saling menghargai. Dari setiap latihan, kita belajar bahwa hasil yang indah hanya dapat dicapai melalui proses, ketekunan, dan kesediaan untuk berjalan bersama.
Sekaa Gong Wanita: Langkah Baru, Semangat Baru
Melihat tantangan dalam mengumpulkan dan melatih para penabuh, sudah saatnya kita membuka ruang bagi gagasan baru. Sebagai salah satu wujud emansipasi dan pemberdayaan perempuan dalam pelestarian seni budaya serta kegiatan adat, ke depan kita dapat membentuk Sekaa Gong Wanita Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan.
Gagasan ini bukan untuk mempertentangkan peran laki-laki dan perempuan, melainkan untuk memperluas partisipasi, menumbuhkan semangat baru, dan memberikan kesempatan kepada para wanita untuk turut mengambil bagian dalam pelestarian seni tabuh serta pelaksanaan yadnya. Dengan adanya sekaa gong wanita, diharapkan kegiatan latihan dapat berkembang, regenerasi penabuh dapat berjalan, dan perangkat gamelan yang telah diperjuangkan bersama semakin hidup serta bermanfaat.
Pembentukan sekaa ini tentu membutuhkan niat yang tulus, dukungan seluruh krama, kesediaan para wanita untuk belajar, serta komitmen untuk berlatih secara berkelanjutan. Tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk memulai. Yang terpenting adalah adanya kemauan, kebersamaan, dan keyakinan bahwa sesuatu yang baik dapat diwujudkan melalui langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Kelak, ketika alunan gong terdengar merdu mengiringi piodalan, kita tidak hanya mendengar perpaduan nada dari berbagai instrumen. Kita juga akan mendengar cerita tentang ketulusan punia, semangat gotong royong, ketekunan berlatih, serta persatuan krama yang diwujudkan dalam sebuah persembahan suci.
Itulah harapan kita bersama: menjadikan gamelan bukan sekadar perangkat seni, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan, membangun keharmonisan, dan menghidupkan nilai-nilai luhur leluhur.
Penutup: Satu Irama, Satu Tujuan, Satu Bakti
Mari kita rawat gong ini dengan penuh tanggung jawab. Mari kita hidupkan melalui latihan, kita merdukan melalui kekompakan, dan kita persembahkan melalui yadnya dengan hati yang tulus. Jangan sampai perangkat gamelan yang diperoleh melalui semangat punia dan perjuangan bersama kehilangan maknanya karena kurangnya perhatian dan kebersamaan.
Semoga gagasan pembentukan Sekaa Gong Wanita Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan dapat menjadi langkah nyata untuk mewujudkan harapan tersebut. Semoga semakin banyak krama yang tergerak untuk berpartisipasi, semakin erat hubungan persaudaraan, dan semakin terjaga warisan seni budaya yang kita miliki.
Sebab, gamelan yang baik bukan hanya tentang nada yang selaras, melainkan juga tentang hati yang seirama. Krama yang kuat bukan hanya tentang banyaknya orang yang berkumpul, melainkan tentang kesediaan untuk saling mendengarkan, menghormati, dan bekerja bersama.
Dengan satu irama, satu tujuan, dan satu semangat bakti, mari kita wujudkan keharmonisan Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan sebagai persembahan tulus kepada leluhur dan warisan berharga bagi generasi mendatang.
Om Santih, Santih, Santih Om.
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)







.jpeg)



.jpeg)

