Minggu, 31 Mei 2026

Purnama Ketiga Icaka 1948, Dadia Pasek Gelgel Gelar Ngadegang Pemangku Jan Bangul Ratu Dukuh Bujangga Sakti

GATRA MANIXGNI,Kamis,27 Agustus 2026 — Bertepatan dengan Purnama ketiga Icaka 1948, Kamis (27/8/2026), Dadia Pasek Gelgel, Ibu Kanginan, Desa Adat Tegenan, menyelenggarakan upacara ngadegang Pemangku Jan Bangul Ratu Dukuh Bujangga Sakti.

Upacara tersebut merupakan tindak lanjut keputusan paruman Dadia yang digelar pada Anggara Kasih Tambir, 11 Agustus 2026. Dalam paruman tersebut disepakati pemilihan calon pemangku dilakukan menggunakan kwangen dengan dua kandidat, yakni Mangku Ketut Darmawan dan Guru Made Kariana.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 16.00 Wita itu dihadiri para pemangku Dadia, prajuru Dadia, serta seluruh krama Dadia.

Rangkaian upacara dipimpin Jero Mangku Manik Jan Bangul Bhetara Hyang Gnijaya atau Bhetara Kawitan. Prosesi diawali dengan mereresik, kemudian dilanjutkan dengan ngayab sayut presista yang dilakukan para calon bersama seluruh krama Dadia.

Setelah itu, dilakukan matur piuning di linggih Ida Bhetara Kawitan, Ibu Kawitan, dan Dewa Hyang. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pemujaan kepada Bhetara Dukuh untuk memohon petunjuk mengenai calon yang dikehendaki secara niskala.

Usai persembahyangan bersama, Jero Mangku Dalem didampingi Klian Dadia yang sekaligus Bendesa Desa Adat Tegenan, Jero Ketut Wana Yasa, mengambil kwangen yang telah disediakan di linggih Bhetara Dukuh.

Pemilihan dilakukan dengan cara para calon berdiri sehingga proses pengambilan kwangen tidak dapat dilihat oleh pihak lain. Dari prosesi tersebut, pilihan secara niskala jatuh kepada Guru Made Kariana bersama istrinya, Ni Nyoman Darmini.

Made Kariana kemudian dipasangkan sirawista oleh Jero Mangku Dalem sebagai tanda resmi terpilih menjadi Pemangku Jan Bangul Bhetara Dukuh.

Jero Mangku Manik menyampaikan ucapan selamat kepada pemangku terpilih. Ia berpesan agar keputusan tersebut diterima dengan penuh rasa syukur dan tanpa penyesalan maupun kesedihan.

"Patut bersyukur karena beliau menganugerahkan tugas untuk ngabih linggih beliau," ujar Jero Mangku Manik dalam pesannya kepada pemangku terpilih.

Menurut dia, Pemangku Dukuh memiliki tugas yang berkaitan dengan pelaksanaan upacara manusa yadnya, mulai dari manusia lahir hingga meninggal dunia. Tugas tersebut antara lain mersihin sawa, nelahin sanggah, nyurat kajang, dan berbagai rangkaian upacara lainnya.

Sementara itu, Pemangku Dadia yang berkaitan dengan Bhetara Kawitan bertugas dalam pelaksanaan dewa yadnya dan bhuta yadnya. Adapun Pemangku Ibu Kawitan bertugas dalam pelaksanaan pitra yadnya, khususnya upacara Dewa Hyang.

"Karena itu jelas tupoksi masing-masing," katanya.

Tekankan persatuan Dadia

Dalam kesempatan tersebut, Jero Mangku Manik juga mengingatkan seluruh krama Dadia agar menjaga persatuan, solidaritas, dan kerja sama.

Ia mengatakan Dadia Ibu Kanginan selama ini memiliki peran penting dalam kepemimpinan di Desa Adat Tegenan. Sejumlah posisi adat, seperti bendesa, klian banjar, klian subak, klian pakis, serati, hingga pemangku Kahyangan Tiga dan Kahyangan Desa, disebut berasal dari Dadia Ibu Kanginan.

"Karena itu mari kita memberikan contoh dengan menjalin persatuan, solidaritas, dan kerja sama. Jangan saling menyalahkan, bahkan sampai bermusuhan. Ingat, kita setelah meninggal akan disembah bersama di pura ini," pesannya.

Ia juga mengajak warga yang memiliki kemampuan lebih untuk membimbing warga lainnya.

"Yang pintar mari membimbing yang kurang. Yang pintar jangan sombong. Ingat jati diri Anda, satu darah dari warih kawitan Dadia Ibu Kanginan," ujarnya.

Calon pemangku diminta belajar

Klian Dadia sekaligus Bendesa Desa Adat Tegenan, Jero Ketut Wana Yasa, menyampaikan harapan agar terpilihnya Made Kariana menjadi langkah awal untuk menyiapkan pemangku yang akan menjalani proses pawintenan pada piodalan mendatang.

"Silakan mulai belajar dan bertanya kepada pemangku yang senior. Jangan lupa dresta, adat, dan tradisi Desa Tegenan yang telah diwariskan leluhur sebagai darah merah sukma kita," kata Jero Ketut Wana Yasa.

Ia juga mengingatkan para pemangku lainnya untuk saling bekerja sama dalam menjalankan kewajiban. Menurutnya, pemangku tidak boleh bersikap pasif ketika kegiatan mereresik maupun kegiatan ngayah di lingkungan pura dilaksanakan.

Para pemangku, kata dia, harus selalu eling ring swadarma atau mengingat kewajiban ngayah kepada Kawitan sebagai orang tua leluhur.

"Jangan sampai melupakan kawitan dan menjunjung tinggi pura lain. Ibaratnya kepada ayah dan ibu tidak pernah sujud mempersembahkan sesuatu, tetapi kepada orang lain sangat memuliakan. Alpaka itu namanya," ujarnya.

Ia berharap pesan tersebut dapat diimplementasikan dengan tulus dan ikhlas sebagai wujud bakti kepada leluhur.

Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan ngadegang tersebut, krama Dadia berharap kesatuan dan persatuan warga semakin kuat. Selain itu, keberadaan pemangku yang baru diharapkan dapat semakin memperjelas dan mengoptimalkan pelaksanaan tugas sesuai swadarma masing-masing.(manixs)

Melukat krama

Mresista calon mangku




Ngataurang piuning


Pengambilan kwangen dipimpin Jero Mk.Dalem

Pengambilan kwangin oleh calon

                                   
       Jero Klian ngecek kwangen siapoa yang dapat    pemasangan sira wista pada mk istri oleh Bendesa

Sambramawecana Jero Mangku pemuput
Sambramawecana jero klian


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar