Rabu, 21 Oktober 2026

GONG DADIA: HARMONI SUARA, HARMONI KRAMA, DAN BAKTI KEPADA LELUHUR

Menghidupkan Semangat Bebarungan melalui Pembentukan Sekaa Gong Wanita Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan

oleh

Mk.Manik Puspa Yoga

Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan memiliki seperangkat gamelan gong yang diperoleh melalui tekad, kemauan, dan semangat bakti para krama untuk melengkapi sarana pelaksanaan upacara yadnya. Kehadiran gong bukan sekadar pelengkap kegiatan adat, melainkan bagian penting dari Panca Gita, lima unsur suara suci yang mengiringi pelaksanaan upacara keagamaan Hindu Bali. Terutama pada saat piodalan, alunan gamelan diharapkan mampu menambah kekhidmatan persembahan serta memperdalam rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para leluhur.

Dengan semangat tulus ikhlas dan gotong royong melalui punia, harapan untuk memiliki seperangkat gamelan gong akhirnya dapat terwujud. Astungkara, sarana yang selama ini diimpikan kini telah tersedia. Namun, memiliki seperangkat gamelan ternyata bukanlah akhir dari perjuangan. Justru di sinilah tantangan baru mulai terasa.

Persoalan yang muncul adalah bagaimana mengumpulkan dan melatih para penabuh agar mampu memainkan gamelan secara teratur dan harmonis. Beberapa krama, khususnya para bapak, sesungguhnya telah memiliki sedikit pengetahuan tentang menabuh gong. Akan tetapi, keinginan untuk berkumpul dan berlatih bersama masih perlu ditumbuhkan. Akibatnya, ketika gamelan digunakan dalam upacara, hasil tabuhannya belum dapat mencapai kesempurnaan yang diharapkan karena kurangnya latihan dan kebersamaan.

Jika keadaan ini terus dibiarkan, perangkat gamelan yang telah diperoleh melalui perjuangan bersama dikhawatirkan hanya akan menjadi benda yang tersimpan, perlahan-lahan lapuk, dan kehilangan fungsinya. Padahal, gamelan tidak cukup hanya dimiliki. Ia harus dirawat, dimainkan, dan dihidupkan melalui latihan yang berkesinambungan. Setiap bilah dan pencon perlu disentuh, setiap nada perlu dipahami, dan setiap irama perlu diselaraskan agar menghasilkan alunan yang merdu, terutama ketika mengiringi piodalan di lingkungan dadia.

Gamelan sebagai Cermin Kehidupan Krama

Seperangkat gamelan menyimpan filosofi kehidupan yang sangat mendalam. Setiap instrumen memiliki bentuk, karakter, dan suara yang berbeda. Ada yang berfungsi menjaga irama, mengatur tempo, mempertegas aksen, dan membangun melodi. Tidak satu pun dapat berdiri sendiri untuk menghasilkan keseluruhan keindahan. Semuanya harus berpadu, saling mendengarkan, dan menempatkan diri sesuai dengan fungsi masing-masing.

Perbedaan suara bukanlah penghalang untuk menciptakan keharmonisan. Sebaliknya, perbedaan itulah yang membentuk keindahan ketika dirangkai dalam kesatuan irama. Setiap instrumen harus tahu kapan bersuara, kapan memberikan ruang bagi instrumen lain, seberapa kuat bunyi yang dihasilkan, dan bagaimana mengikuti tempo yang telah disepakati.

Demikian pula kehidupan krama Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan. Di antara warga terdapat berbagai peran dan tanggung jawab. Ada pemangku, klian, prajuru, serta krama yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi sesuai kedudukannya. Perbedaan peran tersebut semestinya menjadi kekuatan untuk membangun dadia yang harmonis, bukan menjadi alasan untuk saling menjauh atau mempertentangkan pendapat.

Seperti halnya gamelan yang membutuhkan keselarasan, kehidupan dadia juga memerlukan perpaduan yang baik dalam berbicara, bersikap, dan bertindak. Setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, tetapi perlu memahami di mana, kapan, dan bagaimana pendapat itu disampaikan.

Suara yang berbeda akan menemukan tempat terbaiknya dalam paruman atau rapat. Di sanalah berbagai pandangan dipertemukan, persoalan dibicarakan, dan keputusan dirumuskan demi kepentingan bersama. Paruman menjadi ruang untuk menyelaraskan pikiran, sebagaimana latihan gamelan menjadi ruang untuk menyelaraskan nada.

Sebaliknya, apabila persoalan dibicarakan di luar bebarungan, tanpa kejelasan dan tanpa semangat mencari solusi, suara yang semestinya membawa kebaikan dapat berubah menjadi kegaduhan. Kata-kata yang keluar tanpa pertimbangan dapat melukai perasaan, menimbulkan kesalahpahaman, bahkan merenggangkan hubungan persaudaraan.

Karena itu, mari kita belajar dari gamelan. Bukan sekadar belajar menabuh, melainkan belajar mendengarkan. Bukan sekadar belajar bersuara, melainkan memahami kapan suara itu perlu disampaikan. Sebab, suara yang indah bukan hanya suara yang terdengar merdu, tetapi juga suara yang membawa kesejukan, kebijaksanaan, dan manfaat bagi kebersamaan.

Merawat Bebarungan, Menjaga Warisan Leluhur

Bebarungan merupakan kekuatan penting dalam kehidupan dadia. Di dalamnya tumbuh rasa persaudaraan, kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab bersama. Kebersamaan tidak akan terpelihara hanya dengan berkumpul pada saat upacara. Kebersamaan harus dirawat melalui komunikasi yang baik, kegiatan bersama, dan kesediaan untuk meluangkan waktu demi kepentingan dadia.

Mari kita jaga bebarungan ini dengan sebaik-baiknya. Jika ada perbedaan, mari kita selesaikan melalui musyawarah. Jika ada kekurangan, mari kita lengkapi bersama. Jika ada pekerjaan yang terasa berat, mari kita ringankan melalui gotong royong. Sebagaimana sebuah gamelan membutuhkan seluruh instrumennya untuk menghasilkan tabuhan yang utuh, demikian pula dadia membutuhkan keterlibatan seluruh krama untuk mewujudkan tujuan bersama.

Alunan gamelan yang harmonis akan melengkapi Panca Gita dalam pelaksanaan yadnya. Suaranya menenteramkan jiwa, membantu menciptakan suasana khidmat, dan menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur serta bakti kepada leluhur. Melalui pelestarian gamelan, kita tidak hanya menjaga benda warisan, tetapi juga merawat nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu.

Oleh karena itu, perangkat gamelan yang telah kita miliki harus dipelihara dengan baik dan ditabuh secara teratur. Latihan bukan sekadar persiapan untuk tampil dalam upacara, melainkan juga sarana membangun disiplin, kesabaran, kekompakan, dan rasa saling menghargai. Dari setiap latihan, kita belajar bahwa hasil yang indah hanya dapat dicapai melalui proses, ketekunan, dan kesediaan untuk berjalan bersama.

Sekaa Gong Wanita: Langkah Baru, Semangat Baru

Melihat tantangan dalam mengumpulkan dan melatih para penabuh, sudah saatnya kita membuka ruang bagi gagasan baru. Sebagai salah satu wujud emansipasi dan pemberdayaan perempuan dalam pelestarian seni budaya serta kegiatan adat, ke depan kita dapat membentuk Sekaa Gong Wanita Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan.

Gagasan ini bukan untuk mempertentangkan peran laki-laki dan perempuan, melainkan untuk memperluas partisipasi, menumbuhkan semangat baru, dan memberikan kesempatan kepada para wanita untuk turut mengambil bagian dalam pelestarian seni tabuh serta pelaksanaan yadnya. Dengan adanya sekaa gong wanita, diharapkan kegiatan latihan dapat berkembang, regenerasi penabuh dapat berjalan, dan perangkat gamelan yang telah diperjuangkan bersama semakin hidup serta bermanfaat.

Pembentukan sekaa ini tentu membutuhkan niat yang tulus, dukungan seluruh krama, kesediaan para wanita untuk belajar, serta komitmen untuk berlatih secara berkelanjutan. Tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk memulai. Yang terpenting adalah adanya kemauan, kebersamaan, dan keyakinan bahwa sesuatu yang baik dapat diwujudkan melalui langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Kelak, ketika alunan gong terdengar merdu mengiringi piodalan, kita tidak hanya mendengar perpaduan nada dari berbagai instrumen. Kita juga akan mendengar cerita tentang ketulusan punia, semangat gotong royong, ketekunan berlatih, serta persatuan krama yang diwujudkan dalam sebuah persembahan suci.

Itulah harapan kita bersama: menjadikan gamelan bukan sekadar perangkat seni, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan, membangun keharmonisan, dan menghidupkan nilai-nilai luhur leluhur.

Penutup: Satu Irama, Satu Tujuan, Satu Bakti

Mari kita rawat gong ini dengan penuh tanggung jawab. Mari kita hidupkan melalui latihan, kita merdukan melalui kekompakan, dan kita persembahkan melalui yadnya dengan hati yang tulus. Jangan sampai perangkat gamelan yang diperoleh melalui semangat punia dan perjuangan bersama kehilangan maknanya karena kurangnya perhatian dan kebersamaan.

Semoga gagasan pembentukan Sekaa Gong Wanita Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan dapat menjadi langkah nyata untuk mewujudkan harapan tersebut. Semoga semakin banyak krama yang tergerak untuk berpartisipasi, semakin erat hubungan persaudaraan, dan semakin terjaga warisan seni budaya yang kita miliki.

Sebab, gamelan yang baik bukan hanya tentang nada yang selaras, melainkan juga tentang hati yang seirama. Krama yang kuat bukan hanya tentang banyaknya orang yang berkumpul, melainkan tentang kesediaan untuk saling mendengarkan, menghormati, dan bekerja bersama.

Dengan satu irama, satu tujuan, dan satu semangat bakti, mari kita wujudkan keharmonisan Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan sebagai persembahan tulus kepada leluhur dan warisan berharga bagi generasi mendatang.

Om Santih, Santih, Santih Om.

Sabtu, 17 Oktober 2026

Keluarga I Ketut Seler Ariawan Gelar Upacara Naur Sampelan, Surat Pepegat Jadi Bagian Penting.

TEGENAN,POST MANIK GNI – Keluarga I Ketut Seler Ariawan melaksanakan upacara naur sampelan di Pura Dalem Putra, Desa Adat Tegenan, pada Rabu Wage, sasih kelima, pinanggal pang 4, rah 8, tenggek 4, Tahun Isaka 1948. Rangkaian upacara diawali dengan nuur Dewa Hyang, dilanjutkan dengan prosesi nunas surat pepegat sebelum Dewa Hyang diiring menuju Pura Dalem untuk melaksanakan kewajiban adat.

Upacara ini dilaksanakan sebagai bentuk pemenuhan kewajiban perti sentana kepada almarhum Dewa Hyang Ketut Tantri, yang semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Klian Banjar Dinas. Ketika terjadi kekosongan jabatan Klian Banjar Adat Tegenan sekitar tahun 1968, almarhum sempat merangkap tugas sebagai pejabat sementara (Pjs.) Klian Banjar Adat selama kurang lebih dua tahun, sebelum ditetapkan klian banjar adat definitif.

Berdasarkan petunjuk yang diterima keluarga, almarhum juga berkewajiban melaksanakan naur sampelan di Pura Dalem karena pernah menjalankan tugas sebagai pejabat sementara Klian Banjar Adat.

Dalam kepercayaan tradisi di Desa Adat Tegenan, terdapat ketentuan tidak tertulis bahwa setiap klian maupun pemangku yang akan melaksanakan naur sampelan atau kawas wajib terlebih dahulu nunas surat pepegat. Surat tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian prosesi agar kewajiban yang bersangkutan tidak dilaksanakan kembali untuk kedua kalinya(tidak kepindoan).

Selanjutnya setelah nedunang Dewa Hyang yang akan melaksanakan naur sampelan, keluarga langsung memohon surat pepegat di linggih Ratu Gde Sakti Penyarikan, Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan. Prosesi tersebut dilaksanakan oleh Jero Mangku Penyarikan Kubayan dengan banten sesuai ketentuan dan disaksikan oleh klian/prejuru dadia. Seluruh rangkaian berlangsung sekitar satu setengah hingga dua jam.

Menurut Pemangku Penyarikan Kubayan, MK Manik Puspa Yoga, pada masa lalu pernah terjadi sejumlah kasus pengulangan(kepindoan) naur sampelan akibat tidak dilengkapinya surat pepegat. Ia menyebutkan terdapat empat kasus, terdiri atas tiga pemangku dan satu klian, yang harus mengulang prosesi tersebut.

Menurut penuturannya, persoalan itu terjadi karena adanya provokasi atau pengaruh pihak tertentu yang membuat yang bersangkutan tidak mencari surat pepegat ke dadia Ibu karena dianggap pribadi. Akibatnya, kewajiban niskala yang telah dilaksanakan harus diulang kembali.

Mengacu pada lontar Surat Pepegat, menurut penjelasan yang disampaikan dalam prosesi tersebut, pelaksanaan naur sampelan harus dilengkapi surat pepegat yang dikeluarkan oleh Ki Pasek Kubayan. Istilah kubayan dijelaskan berasal dari kata kuub dan wayahan. Kuub berarti wilayah, sedangkan wayahan berarti kelihan atau pemimpin. Dengan demikian, istilah tersebut dimaknai berkaitan dengan kepemimpinan wilayah.

“Karena keluarga kami dari dahulu memang memegang tapuk kepemimpinan di desa ini, maka kewajiban niskala tersebut semestinya dilaksanakan sesuai ketentuan,” demikian penjelasan yang disampaikan pihak keluarga.

Setelah memperoleh surat pepegat, keluarga kemudian ngiringang Dewa Hyang menuju Pura Dalem untuk melaksanakan naur sampelan. Sarana upacara yang dipersembahkan berupa banten dandanan sayut pitu,  iwak itik, serta seekor babi dengan berat sekitar 100 kilogram lengkap dengan bumbunya.

Selain itu, keluarga menyiapkan beras sebanyak 100 kilogram untuk keperluan ngingu atau menjamu krama Banjar Adat. Setelah rangkaian persembahan di Pura Dalem selesai, prosesi dilanjutkan dengan ngaturang bakti pejati di tanguran atau kulkul banjar.

Selanjutnya, Dewa Hyang diiring kembali ke tempat semula untuk distanakan kembali setelah seluruh kewajiban  ditunaikan.

Klian Dadia sekaligus Bendesa, Jero Ketut Wana Yasa, menjelaskan bahwa banten saat memohon surat pepegat berupa dandanan sayut, pitu iwak itik, serta sesantun berupa wakul berisi uang kepeng asli sebanyak 1.200 kepeng asli.

Setelah melalui proses nregteg banten selama tiga hari, dilakukan penebusan sesantun yang nilainya disetarakan dengan Rp1.200.000. Untuk orang dalam yang telah melaksanakan maturan, standar penebusan tersebut kemudian dikembalikan atau kepaicayang sebesar 50 persen kepada yang bersangkutan. Sisanya dibagikan sesuai porsi dan tugas masing-masing, termasuk kepada krama, pihak yang membuat sarana upacara, dan prajuru.

Jero Ketut Wana Yasa menegaskan bahwa ketentuan tersebut merupakan bagian dari tata pelaksanaan adat yang perlu diperhatikan agar seluruh rangkaian upacara berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi keluarga, pelaksanaan naur sampelan ini bukan semata-mata memenuhi kewajiban ritual, melainkan juga menjaga tertibnya pelaksanaan sunia serta memastikan seluruh tahapan dilakukan sesuai petunjuk dan ketentuan yang diwariskan secara turun-temurun.

“Ila-ila dahat apabila ketentuan ini dilanggar,” demikian penegasan yang disampaikan terkait pentingnya menaati ketentuan niskala dalam pelaksanaan naur sampelan. (manixs)

 

Persiapan Ngingu Banjar dengan menyerahkan sekwintal beras,basa-basa dan babi sejumlah 1kg tiap KK banjar jangkepan aktif,babi mebangun urip untuk bakti dandanan leleb,paica kawas 5 iket .

Matur piuning lan nunas tirtan Ratu Dukuh

Prosesi saat dimulainya  nunas surat pepegat

Ngadegang Dewa Hyang

Banten Dandanan sayut 7 iwak itik plus  Encetan dan sesantun wakul jinah 1.200 kepeng asli

Encetan belakang

Encetan depan

Galaan ngempat

Matur piuning jagi nyurat nedun lontar pepegat

Nedunang Lontar Surat Pepegat

Ngaturin Bakti pemendak 

Ngungkab lontar

Ngawit Nyurat

Muputang penyurat

Ngilenang upakara

Ngelenang bakti pemlaspas Surat Pepegat

Pemuspaan nunas Lugra Dewa Hyang jagi naur sampelan

Mepenauran ring Sanghyang Iswara Kukul Banjar

Peresikan diajeng pemedal Pura Dalem dwaning pacang nangkil ke jeroan

Naur sampelan keputus surat pemegat sane mepenauran olih Jero Bendesa mapan dados klian banjar adat, yan menadi mangku kaputus olih mangku desa mejalaran sayut pemegat,maguru piduka,pejati lan sesantun 

Ilikita ngemargiang surat pepegat ring naur sampelan diajeng pemangku penyarikan, pejati lan sesantun

Ngayab sayut pemegat/Puput