Selasa, 30 September 2025

Rapat Rutin Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Diselenggarakan Usai Kegiatan Naurin Hyang Nama

Tegenan, 30 September 2025 — Keluarga besar Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan kembali melaksanakan rapat rutin , yang dilaksanakan pada hari Selasa (Anggara Kasih Kulantir) kemarin, bertempat di balai dadia setempat. Uniknya, sebelum rapat digelar, terlebih dahulu dilaksanakan kegiatan naurin Hyang Nama, yang merupakan bagian dari upacara penyucian roh leluhur oleh salah satu keluarga dadia yaitu I Komang Sudani dan keluarganya.

Acara naurin Hyang Nama ini berlangsung sejak pagi hari dan merupakan lanjutan dari prosesi ritual yang telah diawali tiga hari sebelumnya dengan matur piuning ke sejumlah pura, antara lain: Pura Kahyangan Desa, Pura Dadia, dan Bhetara Guru. Hari puncaknya pada Anggara Kasih diisi dengan upacara nangyang Hyang Nama, dilanjutkan dengan mepanauran di lokasi tempat almarhum meninggal dunia.

Diketahui, semasa hidupnya, almarhum mengalami gangguan kejiwaan, dan meninggal dunia dengan ulah pati (kematian disengaja) karena menceburkan diri. Secara kepercayaan, arwah yang mengalami ulah pati diyakini tidak langsung mendapatkan tempat yang baik di alam roh, sehingga perlu dilakukan penebusan karma melalui upacara khusus.

Lokasi pelaksanaan upacara penebusan ini dilakukan di dua titik penting:

  • Grubug: tempat jatuhnya almarhum
  • Titi Gonggang: tempat simbolis di mana arwah menerima hukuman

Upacara tersebut disertai dengan persembahan banten dandanan, sayut guru piduka, bendu piduka, giri pati, serta caru ayam brumbun yang dilengkapi sayut pemegat. Prosesi sakral ini dipuput oleh Mangku Manik Puspayoga selaku pemangku pura dadia dan Jero Mangku Pura Titi Gonggang Besakih.acara akan berakhir tiga hari lagi dengan upacara yasa kerti (ngeyasaang) setiap hari jam 18.00 selama 3 hari sesuai petunjuk niskala Ida Bhetara kawitan.

Rapat Rutin Bahas Tertib Administrasi dan Keuangan

Sore harinya, kegiatan dilanjutkan dengan rapat rutin dadia usai bersih bersih dilingkungan pura, yang dipimpin oleh I Ketut Wana Yasa, selaku Klian Dadia sekaligus Bendesa Adat Tenganan. Dalam arahannya, beliau mengajak seluruh krama dadia untuk terus menjaga disiplin dan tertib dalam melaksanakan aturan, khususnya terkait sistem simpan pinjam keuangan dadia, yang ke depannya akan diatur melalui perarem (aturan adat tertulis). Masalah keuangan ini akan bisa berdampak positip mensejahtrakan anggota kalau dilaksanakan secara konsekwen tertib dan terukur,tetapi sebaliknya akan membuat kehancuran apabila kita tidak hati hati dalam pengelolaan dan penggunaan uang pinjaman tersebut apalagi ini sebagai pelaba duen Ida Bhetara Kawitan,mohon kepada warga tertib pelaksnaannya.

Sementara itu, Mangku Manik turut menyampaikan beberapa hal penting dalam rapat tersebut, antara lain:

  • Ketidakseimbangan antara banten mesegehan tiap Kajeng Kliwon yang menggunakan segehan mancapala (segeh agung), namun aturan keluurnya (upakara ke dewa) hanya berupa canang. Hal ini diminta untuk segera disesuaikan secara adat dan etika persembahan.
  • Pendataan Ayahan Tanah (tanah milik yang wajib sebagai ayahan di dadia) yang perlu diinventarisasi dengan baik untuk mencegah kelalaian atau kekeliruan ke depannya.
  • Terkait sistem simpan pinjam, beliau mengingatkan agar seluruh warga bijak dalam menggunakan uang:

“Uang itu ibarat api. Kalau kecil dan bisa kita kendalikan, ia bisa membantu kita memasak. Tapi kalau tidak bisa dikendalikan, ibarat api besar yang bisa membakar diri kita sendiri,” ujar Mangku Manik bijak.

Rapat berakhir menjelang malam hari dengan komitmen bersama untuk menjaga kekompakan, keterbukaan, dan keharmonisan antar warga dadia dalam menjalankan kewajiban adat dan sosial (manixs).

 

Naurin Hyang Nama 

Rapat Rutin Anggarakasih Kulantir,30 Septemebr 2025

Suasana rapat rutin





Kamis, 24 Juli 2025

PEMLASPASAN CANDI DAN PELINGGIH DI DADIA PS.GELGEL IBU KANGINAN BERLANGSUNG HIDMAT

Tegenan, 22 Juli 2025 – Upacara Mlaspas Candi Bentar, pelinggih Anglurah, serta dua Apit Lawang telah dilaksanakan dengan khidmat di Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan, Desa Adat Tegenan,Kecamatan Rendang,Kabupaten Karangasem pada hari  Anggara Kasih Prangbakat . Rangkaian upacara suci ini dipimpin oleh Jero Mangku Jan Bangul Pura Dadia Ibu Kanginan Jero Mk. Manik Puspa Yoga.

Klian Dadia Pura Dadia Ibu Kanginan,  Jero Ketut Wana Yasa, yang juga menjabat sebagai  Bendesa Desa Adat Tegenan, menyampaikan rasa syukurnya ke hadapan  Ida Sang Hyang Widhi Wasa  dan  Bhatara Kawitan  atas kelancaran proses pembangunan yang dimulai pada bulan Mei lalu. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh krama Dadia  atas kerja sama dan semangat gotong royongnya  dalam menyukseskan pembangunan ini.

Khusus kepada para puniawan yang dengan tulus ikhlas telah memberikan dana punia, kami sampaikan terima kasih dan penghargaan yang setulusnya,ujar Jero Ketut Wana dalam perbincangannya dengan krama sebelum acara mlaspas.

Menurut  Guru Mangku Lanus , selaku sekretaris Dadia yang didampingi oleh  I Made Juliarta  (bendahara), total biaya pembangunan termasuk pembelian patung pengapit candi dan kabel-kebel listrik mencapai keseluruhan Rp 176,536 juta belum termasuk pembelian bunga dan tenaga swadaya gotong royong krama. Pembangunan meliputi Candi bentar beserta tembok sekitar panjang 22 meter, Dua pelinggih Apit Lawang,Satu pelinggih Anglurah,Renovasi undag samuan dengan relief ukiran naga, dua buah patung di candi bentar.

Sumber dana berasal dari urunan krama Dadia, iuran/urunan wajib tanah duwe dadia, serta  punia  dari berbagai pihak yang secara global  rinciannyasebagai berikut:

1. Punia tunai dari Koperasi  Rp 8.000.000 untuk pembuatan  Naga Undag Samuan

2. Punia uang dari Mk. Manik  Rp 8.000.000 untuk pembelian pelinggih Apit Lawang tengen

3. Punia Mk. Lanus Rp 8.000.000 untuk pelinggih ratu Gde Anglurah

4. Punia uang dari I Ketut SelerAriawan: Rp 2.000.000

5. Punia I Ketut Bayu Pujana  Rp 1.000.000

dari punia tersebut dan yang Lainnya, total punia uang: Rp 33.050.000

Disamping punia uang ada punia Ongkos transportasi dari,Mk. Sulaba: Rp 500.000 angkut material bekas 2 dum truk ke arca,I Wayan Puspa Yoga: Rp 300.000 transport beli patung ke Sakah Gianyar,I Made Bakat Rp 200.000 angkut sampah 2 kali. ujar Mangku Lanus.

Akhirnya rangkaian pembangunan dan upacara ini diakhiri dengan persembahyangan bersama sebagai bentuk rasa bhakti dan syukur atas terselenggaranya seluruh proses pembangunan secara lancar dan penuh makna spiritual.(manixs)

Rapat perencanaan pembangunan
Pembongkaran bangunan


Acara Mulang Dasar










Senin, 12 Mei 2025

PURNAMA JIYESTA MULANG DASAR CANDI DAN APIT LAWANG

Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan salah satu dadia di Desa Adat Tegenan yang memiliki tanah due ayahan dadia yang dulunya berjumlah 19 ayahan sejak 1958 berubah menjadi 16 ayahan karena dibawa sebagai pengempon  Dukuh delodan sebanyak tiga ayahan,walaupun demikian secara estafet kepemimpinan yang berkesinambungan mampu mewujudkan kaderisasi generasi dan peremajaan pembangunan.

Seperti pada tahun ini (2025), peremajaan pembangunan dilakukan pada pembangunan Candi,tembok, paduraksa,apit lawang dan pembangunan apit surang yang dikembalikan pada posisi awal,karena terakhir hanya ada luanan kecil dekat pelinggih Dewa Hyang,sehingga dalam peremajaan pembangunan kali ini dikembalikan pada tatanan awal yang dibangun oleh para leluhur. Motif pembangunan mengambil motif majapahitan menyesuaikan dengan tembok dan candi batu bata yang sudah terbangun sebelumnya,bedanya material yang digunakan adalah batu padas hitam produksi desa selat,dengan anggaran pembangunan sebesar Rp 144 juta rupiah yang tendernya dimenangkan oleh I Made Suparta pemborong asal Selat,dimana sebelumnya sudah didatangkan 3 pemborong oleh Mk.Manik untuk ikut melelang.

Pembongkaran candi dan tembok dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 10 dan 11 Mei 2025, sedangkan apit lawang dibongkar pada hari Anggara Kasih Medangsya bertepatan dengan Purnama Jiyesta sekaligus dilakukan mulang dasar yang dilaksanakan oleh Mangku Manik,sebagai pertanda dimulainya pembangunan. Peletakan batu pertama pada candi dilakukan oleh Jro Kt Wana Yasa klian dadia,sedangkan pada pelinggih apitlawang(Nandiswara) dilakukan oleh Sekretaris Mk.Md Lanus dan pelinggih Mahakala dilakukan oleh Bendahara I Made Juliarta,dilanjutkan oleh krama dadia masing masing.

I Ketut Wana Yasa selaku klian dadia, disela sela acara mulang dasar menjelaskan,bahwa pembangunan ini sudah direncanakan cukup lama,mengingat kondisi bangunan sudah tua dan beberapa sisi candi sudah retak dimakan usia,rencana awal kami restorasi(disusun ulang) namun untuk mencari tukangnya tidak ada yang sanggup,maka keputusan krama dipugar saja disesuaikan dengan bangunan yang ada tetapi dengan bahan batu padas. Untuk sumber dana kami sudah membuat proposal kepada salah satu anggota dewan provinsi Bu Kadek Darmini,beliau menjanjikan namun sampai saat ini belum cair, semoga segera direalisasikan janjinya. Sementara dari warga ayahan tanah(16) dikenakan iuran masing masing 4,5 juta sedangkan anggota dadia (50) masaing-masing 500 ribu sehingga terkumpul dana kurang lebih Rp.97.000.000.kekurangannya diambil dari kas termasuk bantuan Bu Kadek Darmini tempo hari 20 juta serta diharapkan krama dadia yang mampu agar maturan dana punia terutama  teman teman yang sudah memiliki usaha lebih agar maturan kehadapan Ida Bhetara sesuhunan atau Bhetara Kawitan. Krama sangat antusias ngayah melakukan pembongkaran bangunan sehingga dalam waktu singkat dapat diselesaikan dengan baik,itulah wujud bakti kepada leluhur,ujar jero klian. Dalam rapat rutin pada Anggarakasih Medangsya juga disampaikan agenda pemlaspasan tanggal 10 Juli 2025 pada hari Wraspati Pon Uye,Purnama Kasa dan 22 Juli 2025 Anggarakasih Prangbakat dilaksanakan Piodalan Ida Bhetara kalau tidak ada halangan. Sedangkan agenda mendesak adalah Tumpek Krulut tanggal 7 Juni 2025 dilakukan Pekeling saja karena lingkungan masih dalam proses pembangunan.(manixs)  

Rapat Sosialisasi program kerja oleh Klian Dadia
Candi sebelum dipugar dan tidak ada apit surang
Pemborong memngitung jarak candi apit surang

Suasana pembongkaran bangunan candi hingga pondasinya

Istirahat sejenak

                                                         Segera akan diadakan pecaruan

Mk.Manik sedang melakukan proses ritualisasi mecaru dan mendem dasar

Klian melakukan peletakan batu pertama pada candi bentar.

Bendara melakukan peletakan batu pertama pada pelinggih Mahakala(apit lawang tengen)

Sekretaris melakukan peletakan pertama pada pelinggih Nandiswara/apitlawang kiwa.

Mk.Manik memantau krama saat mendem dasar

FOTO ANEH,
Tampak sinar tajam dari akasa ke pertiwi,semoga ini pertanda sinar suci beliau
menganugrahkan kerukunan,kerahayuan dan keselamatan serta kesejahtraan bagi umatNya.
Beberapa dokumen film dalam keseruan Ngayah



Prosesi saat ngingsirang dan mendem dasar.





Senin, 22 Juli 2024

NGABEN PROSESI PULANG PADA ALAM KEABADIAN

Pemangku Pura Dalem Putra Desa Adat Tegenan,sekaligus pemangku Dukuh Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan, Jero Mangku Ketut Kania (82), pada hari Kamis Umanis wuku Sinta,penanggal 13 sasih Kasa icaka 1946 tanggal 18 Juli 2024,menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 17.28 Wita di rumahnya. Saat kejadian sempat dibawa ke Puskesmas Rendang di Menanga,namun jiwanya tak tertolong. Memang dua bulan sebelumnya beliau sempat dirawat di rumah sakit Umum Klungkung karena radang persendian sehingga tidak bisa berjalan normal. Pembangkakan yang cukup serius di lutut didiagnosa peradangan akut,lambung serta syaraf sedikit bermasalah,sehingga tiap minggu menjalani pishio terafi. Kesehatannya berangsur membaik,bahkan kemarin sempat kerumah dalam melaksnakan piodalan di kemulan,ujar Made Kariana anak keduanya. Hal tersebut diperkuat oleh Mk.Manik, mengatakan bahwa dirinya sempat berbincang sekitar 1 jam sebelum melaksanakan upacara piodalan,dengan santai almarhum berbincang,bahkan beliau sempat meminta saya untuk ikut sembahyang di Pura Dalem dihari purnama ini dan ia minta supaya disediakan tempat duduk kursi karena belum bisa bersila dan hal itu saya sanggupi untuk mengantar sembahyang,namun nasib bercerita lain, yah mungkin sedemikian pengabdiannya di dunia ini,ujar Mk.Manik disela sela pengabenan kemarin.

Setelah 3 hari kematiannya,dilaksanakan upacara pengabenan,karena beliau adalah pemangku kahyangan tiga khususnya di Pura Dalem Putra sejak tahun 2018 silam. pelaksanaan upacara diambil madya hanya sampai tingkat pengabenan yang dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Yoga Semadi dari Gria Pucaksari Pesaban. Klian Banjar Adat Tegenan Kelod sekaligus klian Pura Dalem I Wayan Suiji mengkordinasikan kegiatan ini karena krama banjar adat Tegenan kelod mempunyai kewajiban terhadap upacara ini,sehingga sesuai ketentuan krama banjar aktif dikenakan iuran pengabenan sebesar Rp.150.000,- /KK ,sedangkan krama banjar penyada dikenakan urunan Rp.100.000,Desa Adat memberikan bantuan punia sebesar Rp.2.500.000,-. Dana tersebut digunakan untuk membeli banten Ngaskara,narpana,meras cucu,pengabenan dan penganyutan di gria Pucaksari Pesaban,banten piuning dan keperluan upakara yadnya dibuat oleh krama Banjar Adat Tegenan Kelod dan didukung oleh warga dadia ibu kanginan sebagai tuan rumah,sedangkan wadah dan penganyutan dibeli di Banjarangkan seharga Rp.6.000.000,-

Pada hari sabtu 20 Juli 2024 jam 07.00 krama Banjar Adat Tegenan Kaja bertugas Ngeruak dipimpin oleh klian I Km Jana,dan upacaranya oleh Jero Suryadarma dengan dimulai mepiuning dari margi catur,tulaktanggul,margi 3 dan tengah cetra dengan banten encetan beserta kelengkapannya serta rajapati,sedangkan kemarinnya dilaksanakan mepiuning di Kahyangan Tiga,Kahyangan Desa,Pura Swagina dan Pura Dadia beserta Ibu Kawitan. Juga dilaksanakan Nunas tirta kahyangan,tirta Dukuh dan Tirta Tunggang di Besakih.

Minggu Wage  wuku Landep,panglong 1(apisan)  sasih Kasa icaka 1946 tanggal 21 Juli 2024 mulai pagi pukul 7.30 dilaksanakan upacara Nangiang dan ngembak lawang dimulai dari Pura Dalem Putra dipimpin oleh Jero Dalang Sujata,lanjut ke Pura Prajapati dengan bakti dandanan sayut 5 pebangkit tos beserta kelengkapannya di pimpin Jero Surya Darma,dilanjutkan ke tengah setra,kemudian ke Margi tiga,juga dilaksanakan upacara ngening dengan nunas tirta di Uma Kolong sebagai simbul ngayehang sekah  dan lanjut ke Margi Catur ngungkab/ngembak lawang dengan bakti dandanan dan sayut pengembak lawang. Pada saat bersamaan juga dilaksanakan pemlaspasan wadah oleh Jero Dalang Sujata, selesai sekitar jam 10 pulang kerumah duka dipendak seperti biasa, Jemek sebagai simbul sanghyang atma,kemudian ditempatkan di Bale yadnya,banten Pengulap,Penuntun dan ganjaran. Baru kemudian dilaksana acara mersihin sawa dan ngereka yang dipinmpin oleh Jero W.Suparta,pelima Desa Adat Tegenan. Usai memandikan dan ngereka maka mayat dimasukan kepeti selanjutnya diadakan upacara Ngaskara,lanjut narpana dan pemerasan yang dipimpin oleh Ida pandita Mpu Dharma Yoga Semadi. Sekitar 2jam 15 menit upacara selesai kemudian wadah berangkat sekitar pukul 15.05 menit. sampai di setra upacara pengabenan sekitar 2 jam dan akhirnya pukul 17.15 dilaksanakan acara nganyut ke uma kolong dipimpin Jero Surya Dharma. terakhir sekitar pukul 18.18 dilaksanakan upacara mekala mijian dwngan banten pejati dan caru ekosato di rumah duka yang dipimpin Mk.Manik Puspa Yoga,dengan demikian selesailah paket acara pengabenan dan akan dilanjutkan dengan bakti penyapuh dipura pura tempat ngaturang piuning sebelum ngaben sebagai wujud syukur dan laporan bahwa upacara sudah berjalan lancar. Semoga dengan dilaksanakan pengabenan,beliau mendapat tempat dan amor ing acintya Pulang pada Alam Keabadian, sesuai dengan amal perbuatannya,terimakasih kepada krama sami ,khususnya pada ibu ibu Dharma Patni,Serati,Pecalang,Paiketan Pemangku,Jero Bendesa ,Jero Pelima dan jero Klian banjar Adat Tegenan kaler Kelod,yang telah mendukung yadnya tiyang niki,ujar I Wayan Sulaba Yasa,SP salah seorang ponakan almarhum(manixs).


Sosok almarhum Jero Mangku Ketut Kania di usia 82 tahun

Prosesi pengabenan Jero Mangku Kt.Kania,Minggu 21 juli 2024





Sabtu, 01 Juni 2024

MEPENAURAN DI DALEM PURI

Mepenauran adalah sebuah acara persembahan atau pembayaran hutang melalui yadnya/banten  orang yang sudah meninggal atau sudah menjadi Dewa Hyang pada pura tertentu disebabkan kena hukuman oleh para dewa yang berwenang,karena semasa hidupnya melakukan kesalahan sehingga dihukum atau dipasung pada tempat tertentu. Untuk melepaskan hukuman itu perlu diadakan penauran/pembayaran yang dilakukan oleh pertisentananya ,sehingga roh leluhur itu terbebas dari hukuman. Sehubungan dengan hal tersebut Klian Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Jero Ketut Wana Yasa mengatakan,bahwa anggota dadia ibu banyak mendapat petunjuk ketika menunasan bahwa leluhur leluhur dadia ibu ada yang meayaban kena hukuman metegul meblagbag di Dalem Puri,namun tidak mendapat penanganan oleh keluarga yang bersangkutan dan karena beliau sudah melinggih di dadia,maka mau tak mau menjadi kewajiban bersama,dengan harapan dengan dilaksanakannya upacara ini kepanesan leluhur dapat dikurangi maka kerahayuan dadia semakin meningkat.Beryadnya kepada leluhur adalah karma mulia dan mereka yang tidak melakukan yadnya sebagai kewajiban kepada leluhurnya,maka leluhur tidak akan menganugrahkan kemakmuran dan kerahayuan. Untuk itu yadnya ini sangat penting dilakukan. Dan hari ini Buda Manis Prangbakat,29 Mei 2024 jam 10.00 kita lakukan penauran itu disini di Dalem Puri dengan banten bebangkit, caru manca sato dipuput oleh Ida pandita Mpu Dharma Yoga Semadi gria Pucaksari,Pesaban,sedangkan di Prajapati dan Tegal Penangsaran baktinya dandanan sayut 7 meguling bebek. Usai ngaturang bakti dilaksanakan persembahyangan.Ketika Ida Hyang Murwa daksina terjadi jeritan dari Mk.Warsi yang dari ibu sudah kelinggihan,sedangkan yang dirasuki oleh Dewa Hyang yang dibayari /ketaurin hari ini adalah  Ni Made Pandi sambil menangis yang mengatakan bahwa dirinya sangat sakit dan menderita di-blagbag di pura ini karena semasa hidupnya pernah melakukan kesalahan,bersyukur bahwa hari ini dibayar utangnya dan atas pembayaran ini, beliau merasa priutangan dengan pertisentana semua keluarga dadia ibu, karena sudah naurin utangnya. Usai murwa daksina di Jeroan dilanjutkan di Prajapati,di pohon beringin Made Pandi lebih histeris menangis karena ditempat inilah beliau di-blagbag dan meminta tolong untuk dilepaskan. Sedangkan Mk.Warsi dengan menunjuk nunjuk serati bibi Tresna agar ngayah dengan baik,Tresna mengatakan bahwa dirinya sudah ngayah dengan iklas dan baik baik bahkan sejak ngenteg linggihpun ia dengan iklas melakukannya. Acara selanjutnya dilakukan di Tegal penangsaran dan kembali ke pura sekitar jam 13.00 dipendak di pemedal pura,kemudian murwa daksina di paruman dan melinggih(manixs).

Hari Rabu Umanis Prangbakat,29 Mei 2024. Acara hari ini adalah Pitra Rnam dengan mengadakan penauran di Pura Dalem Puri Besakih,sekitar pukul 08.30 muspa ngaturang petangi di ibu Kawitan dan Hyang Dewa  akan diiring ke Dalem Puri,sekitar jam 10 mulai melaksanakan penauran dengan bakti bebangkit caru manca sato dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Yoga Semadi dengan prosesi seperti biasa diakhiri dengan ngentas sayut pepegat,setelah meguru piduka,lalu sembahyang kemudian murwa daksinaa,mepamit dan nangkil di Prajapati Dalem Puri,setelah itu lanjut di Tegal Penangsaran ngaturang bakti dan setelah selesai mepamit mantuk ke Dadia,lalu dipendak dengan meobor obor di jaba lanjut melinggih. katuran rayunan,pangan kinum,muspa hingga selesai. Sore hari sekitar jam 18.00 katuran penganyar hingga selesai.
 
Saat mepenauran di Dalem Puri

Koordinator seke gong remaja (I Wayan Rama)ngayah bleganjur

 
Ni Made Pandi saat kelinggihan

 
Mk.Warsi  kelinggihan saat membrefing klian dadia dan serati

DADIA PASEK GELGEL IBU KANGINAN GELAR PIODALAN

Keluarga Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Desa Adat Tegenan,Selasa,28 Mei 2024 kemarin menggelar piodalan di Pura setempat yang dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Yoga Semadi gria Pucaksari Pesaban yang sehari sebelumnya dilaksanakan acara meebat dari pagi hingga siang. Klian Dadia Jero Ketut Wana Yasa mengatakan rangkaian acara piodalan dimulai pukul 06.00 pagi diawali dengan melaksanakan upacara mesesapuh sarana banten dandanan sayut lima dan pecaruan satu ekor ayam brumbun dan dimasing masing pelinggih yang diadegang dilengkapi dengan masing masing banten pejati,sedangkan di Dukuh mulai distanakan di pewedan Ida Bhetara Dukuh. Usai ngaturang penyapuh dilanjutkan dengan nuur Ida Bhetara Sesuhunan,Bhetara Kawitan,Hyang Kewalunan,Kerihinan,Hyang Dewa atau Hyang Kompyang dan Hyang Nama beserta Bhetara Gurunya untuk dilaksanakan pemelastian di Tegal Suci dengan banten dandanan sayut 5,caru abrumbunan dan beberapa pejati dihaturkan di pura sekitar dengan nunas tirta di Klebutan grobogan sebagai petirtan Bhetara ring Besakih. Sekitar jam 09.30 katuran pemendak dan ketedunang Ida Bhetara untuk melinggih di Tapakan masing masing,belum selesai acara mendak sulinggih sudah datang dan sekitar jam 10.15 upacara piodalan dimulai dan selesai sekitar jam 12.00 yang diakhiri dengan acara pemuspaan bersama. Selanjutnya dilaksanakan acara pepintonan oleh beberapa keluarga yang memiliki,namun agenda sesungguhnya acara pepintonan dan ngaturang punagi adalah di sore hari jam 18.00 wita,ujar klian pura.

Sementara itu di sore hari jam 17.00 pemangku pura sudah melaksanakan acara penauran mulai melaksanakan acara sauh atur manumadi I Wayan Dirandra Artha Jaya di Ibu Kawitan dengan bakti dandanan sayut 7 beserta kelengkapannya,dilanjutkan dengan Ni Mk.Gunasih (Kusamba) ngaturang punagi pejati beserta sepasang ungkulan karena sakit,Ni Kadek Revi acara yang sama,Guru Wayan KAriana dan Jero Diahari nebus bekel,Mk Ketut Restu ngaturang sauh atur dandanana sayut 7 guling babi beserta sayut sayut dan kelengkapan lainnya. Kurang lebih 3,5 jam pelaksanaannya dan dilanjutkan dengan bakti penganyar dilengkapi merejang dan pependetan diakhiri dengan sembahyang bersama.(manixs)

 
Persiapan mebat

Prejuru sedang beremug

Mebatan

 
Ngayah

 
Teguh,Jana,Pt.Cina,Surya ngayah





Selasa, 14 Mei 2024

SESANA NGELARANG YADNYA

Sajeroning ngemargiang upacara Panca Yadnya minekadi : Dewa Yadnya,Bhuta Yadnya,Rsi Yadnya, Pitra Yadnya lan Manusa Yadnya,sang sane ngemargiang karya, manut Lontar Dewa Tattwa.10 mungguh “Manah lega dadi ayu, aywa ngalem drewya. Mwang kamagutan, kaliliraning wang atuwa aywa mengambekang krodha mwang ujar gangsul.  Ujar menak juga kawedar denira. Mangkana kramaning sang ngarepang karya aywa simpanging budhi mwang krodha”

Artosipun:

Yening nangun yadnya manah sane lega, lascaria sane patut gamel ,sampunang alem/bridbid ring padruwean yening sampun keanggen meyadnya,sampunang piwal ring piteket nak lingsir sane wikan,sampunang brahmantya/emosi/galak/brangasan,mebaos kasar lan degag.baos sane becik alus banban patut uncarang.Asapunika kepatutan anake sane ngemargyang yadnya. Sampunang piwal ring manah suci nirmala pinaka agem-ageman ngeyasaang karya.


Selantur ipun manut lontar Widhi Sastra Tutur Tapeni Yadnya(72-73), kebaosang     “…ngaran ling nira Bhatari Tapeni, ngaran Bhatari Uma Dewi sira Hyang ring Pura Dalem, maka lingga gama kerthi ulahing wong kamanusan.  Adruwe pariwara watek apsari maka, Dewi Kancak, Dewi Pradnya, Dewi Wastu mwang Dewi Sidhi, ika pariwaranira mekabehan.

Uduh sira sang umara yadnya, sang parama kerti sang akinkin akerti yasa, nguni weh ta kita sang anggaduh gama-gaman, rengo lingku mangke, dak, sun warahi kita parikraman ing bhkati astiti ring gama tirta, aja sira tan mitulu ri hing ning sastra iki, nimita kweh wetun ikang yadnya, sapta yadnya, sapta yadnya luire: Aswameda yadnya, Siwa yadnya, Dewa yadnya,  Rsi yadnya, Pitra yadnya, Bhuta yadnya, Manusa yadnya, samadania limuwih-aken pada luwih ika tinemuni ya, palan ing yadnya, samangkana juga wineh utamaning kang yadnya, patemuang kunang kang  Agama, Ugama, muang Igama, apan ika ngaran pamurtian Sanghyang Tri Murti, tan wenang amalaku yadnya yan tan ingangge tattwa, ika ingaran Wuta, yan tan ingangge solah ayu sang umara yadnya, ika ingaran Tuli, muah tan ingannge yadnya ngaran rumpuh tan sida karyania, apan sukmania ika kadi anggan sira, ana hulu, ana awak, muang ana juga sukunia, mangkana utamaning kang yadnya. Apan sukmania, yadnya palan ikan yadnya wahya diatmika nemu sira rahayu”…..

Suksmanipun:

..”meparab Bhatari Tapeni utawi Bhatari Uma Dewi, Ida wantah sungsungan ring Pura Dalem, Ida pinaka pengrajeg uger-uger ngemargiang agama ring panegara krama, Ida keabih olih para widyadari sane meparab Dewi Kancak, Dewi Pradnya, Dewi Wastu lan Dewi Sidhi, nika wantah pengabih ida sami.


"Uduh cening-cening ane lakar ngelarang Yadnya, manira ngicen pewarah-warah kapinang cening ane demen nyalanang agama, pirengang pewarah manira ne jani,pamekas cening ajak makejang ane demen nyalanang agama tirta/Hindu , sujatine anak liu pepalihan yadnyane, ada pepitu bebacakan yadnya luire ; Aswameda yadnya, Siwa yadnya, Dewa yad-nya,  Rsi yadnya, Pitra yadnya, Bhuta yadnya, Manusa yadnya, mekejang padé utama, keto masi manira ngicen piteket tetuek nyalanang ajaran agama, ugama lan igama sawireh buka tetelu ento tusing ada len tuah Sanghynag Tri Murti nyekala, adungang nyen pantaraning upakara; yadnya muah tattwane, sawireh ento madan yadnya, yening mimpas uli Tattwane ento kebaos “buta”, yening sing manut uli uger-ugering nyalanang yadnya ento madan “bongol”, lan yen sing nganggo upakara ento suksmane “rumpuh’, nirdon gegaene,ento mekejang tusing ada len tuah niasa ukudan iraga , adá ulu/sirah, adá awak/ukudan, lan adá batis, ento kautaman iraga meyadnya, mekarma sekala lan niskala,lakar sida nemuang ane madan morksartam jagatita ya ca iti dharma.

Asapunika kocap yasa kertin iraga yening ngelarang yadnya,mangda nenten rugi iraga meyadnya patut nika margiang,ngiring sareng sareng renga lan melaksana becik.(manixs)