Desa Adat Tegenan menyimpan salah satu bentuk tradisi kawitan yang menarik untuk dikaji, yaitu Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan. Dadia ini tidak hanya menjadi tempat pemujaan leluhur bagi para pangeponya, tetapi juga memperlihatkan struktur keagamaan yang cukup kompleks. Keberadaan berbagai pelinggih, pembagian beberapa komplek pemujaan, tradisi odalan, hingga keterkaitan dengan kepemimpinan adat menunjukkan bahwa pura dadia ini mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan religius dan sosial masyarakat setempat.
Dadia Pasek
Gelgel Ibu Kanginan saat ini didukung oleh sekitar 50 kepala keluarga (KK).
Piodalan atau odalan
dilaksanakan setiap satu tahun sekali, bertepatan dengan Anggara
Kasih Prangbakat. Waktu pelaksanaan tersebut menjadi momentum penting bagi
seluruh sentana untuk berkumpul, melakukan persembahyangan, serta mempererat
hubungan antara keluarga-keluarga yang berada dalam satu garis dadia.
Secara umum, kompleks pura dapat dipahami sebagai sebuah ruang sakral
yang tidak hanya berisi satu bentuk pemujaan. Di dalamnya terdapat beberapa
lapisan penghormatan: kepada Dewa-dewa manifestasi Ida Sang Hyang Widhi,
kepada Betara Kawitan Hyang Gni Jaya, kepada para leluhur/Ibu Kawitan,
serta kepada tokoh-tokoh suci yang mempunyai kedudukan khusus dalam tradisi
setempat.
Empat Kompleks Utama
Pelinggih
Keunikan Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan antara lain terlihat dari
banyaknya bangunan suci yang terbagi ke dalam sekitar empat kompleks.
1. Kompleks Utama
Kompleks pertama merupakan bagian utama dari pura. Di dalamnya terdapat Padma
dan dasar atau bataran utama, serta Meru Tumpang Tiga.
Meru tersebut
menjadi stana:
- Mpu Gni Jaya/Bhatara Kawitan;
- Hyang Pasupati/Bhatara Guru;
- Gedong Linggih Dalem Digde/Dalem Bugbugan.
Pada sisi utara terdapat Taksu, kemudian Stana Ratu Gede Sakti
Penyarikan.
Pada jejer utara bagian barat terdapat sejumlah pelinggih yang mempunyai
nama dan fungsi yang sangat menarik, yaitu:
- Dewi Ulundanu;
- Betara Sangkara;
- Bang Manik Angkeran;
- Sri Sedana;
- Mpu Kuturan.
- Ratu Ayu Manik Bingin
Di sekitar kompleks ini juga terdapat Samuan, Pepelik, dan
Jaksa Jejeneng. Pada bagian depan terdapat pelinggih Anglurah dan
Penegtegan.
Susunan tersebut memperlihatkan bahwa kompleks utama bukan sekadar ruang
pemujaan kawitan dalam arti sempit. Ia juga memuat unsur-unsur yang berkaitan
dengan kepemimpinan, kesuburan, kemakmuran, air, kesucian, kependetaan,
serta fungsi penataan kehidupan masyarakat.
2. Kompleks Ratu Dukuh
Bujangga Sakti
Kompleks kedua memiliki pelinggih yang diperuntukkan bagi:
- Tri Purusa;
- Dewi Saraswati;
- Dukuh Bujangga Sakti;
- Sanghyang Tapini/Umadewi.
Menariknya,
keberadaan Dukuh Bujangga Sakti dalam satu lingkungan dengan Saraswati dan
Sanghyang Tapini/Umadewi dapat dibaca sebagai penekanan terhadap aspek pengetahuan,
kesucian, kependetaan, dan kekuatan sakral Perempuan sebagai tapeni.
Khusus
mengenai linggih Dukuh, terdapat tradisi yang sangat kuat. Masyarakat
memfungsikannya sebagai tempat memohon tirta secara niskala, terutama
ketika terdapat kematian dan pelaksanaan Pitra Yadnya/Ngaben dan upacara
Manusa Yadnya.
Walaupun dalam
upacara telah digunakan sulinggih secara nyata, masyarakat masih meyakini bahwa
permohonan tirta di linggih Dukuh merupakan bagian yang tidak boleh
ditinggalkan. Kepercayaan seperti ini menunjukkan bahwa dalam pandangan
masyarakat setempat terdapat hubungan antara sulinggih sekala dan fungsi
kependetaan niskala yang diwariskan melalui tradisi dadia.
3. Kompleks Ibu Kawitan
Kompleks
berikutnya merupakan kawasan yang secara khusus berhubungan dengan ibu kawitan.
Di dalamnya terdapat:
- Linggih Betara Guru Ibu Kawitan dan Kompyang
- Stana Ibu Kawitan yang terdiri dari gedong
didalamnya bertugu/pelinggih 3
- Hyang Kewalunan;
- Hyang Kerihinan;
- Hyang Dewa/Hyang Kompyang;
- Paruman.
Keberadaan
linggih tersebut memperlihatkan adanya lapisan penghormatan terhadap leluhur
yang tidak hanya dipahami sebagai satu figur tunggal. Dalam tradisi Bali,
konsep leluhur dapat memiliki beberapa tingkat dan sebutan, sehingga keberadaan
Hyang Kompyang, Hyang Dewa, dan bentuk-bentuk leluhur lainnya dapat
merepresentasikan proses kesinambungan hubungan antara generasi yang masih
hidup dengan para leluhur.
4. Jaba Tengah
Di jaba tengah
terdapat linggih Bhatara Guru dan Hyang Nama.
Linggih Hyang
Nama mempunyai fungsi yang sangat menarik. Tempat tersebut diperuntukkan bagi
leluhur yang baru selesai diaben dan masih diketahui namanya. Dengan
demikian, ruang ini dapat dipahami sebagai bagian dari proses transisi
penghormatan leluhur: seseorang yang telah meninggalkan dunia manusia belum
serta-merta hilang dari ingatan sosial keluarga, tetapi tetap mempunyai tempat
dalam struktur pemujaan.
Pada bagian
depan terdapat Apit Lawang, candi, serta Ganapati.serta Bale
Kulkul
Keberadaan
Ganapati juga menarik karena dalam tradisi Hindu, Ganapati/Ganesha berkaitan
dengan penghalang dan pembukaan jalan, sehingga secara simbolis kehadirannya di
area depan dapat dibaca sebagai penjaga sekaligus pembuka jalan menuju ruang
sakral.
Pelinggih-Pelinggih yang Sangat Unik
Salah satu
kekayaan utama Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan adalah keberadaan sejumlah
pelinggih yang memiliki fungsi dan cerita khusus.
Di antaranya
adalah Gedong Dalem Bugbugan, Dewi Danuh, Sangkara, Padma Capah stana Bang Manik Angkeran, dan Gedong Ratu
Gede Sakti Penyarikan.
Lontar Surat Pepegat
Salah satu
tradisi yang paling menarik adalah keberadaan lontar Surat Pepegat.
Menurut
tradisi yang diwariskan di dadia ini, lontar tersebut mempunyai fungsi
berkaitan dengan pembuatan surat pepegat bagi almarhum atau dewa hyang
yang semasa hidup pernah menjabat sebagai klian atau pemangku.
Ketika
dilaksanakan proses meserah sampelan, orang yang bersangkutan harus
dilengkapi dengan surat pepegat tersebut.
Tradisi ini
memperlihatkan bahwa jabatan sosial dan keagamaan seseorang semasa hidup
ternyata tidak berhenti begitu saja setelah kematian. Ada mekanisme ritual
untuk menandai perubahan statusnya dari manusia yang menjalankan fungsi
adat/agama menjadi leluhur yang telah memasuki ruang pemujaan.
Dengan
demikian, surat pepegat dapat dipandang sebagai salah satu bentuk dokumentasi
ritual mengenai perubahan status seseorang dalam struktur sosial-religius
masyarakat.
Linggih Dukuh dan Konsep
Sulinggih Niskala
Keberadaan Dukuh Bujangga Sakti merupakan salah satu aspek yang
paling menarik secara antropologis.
Masyarakat mempercayai bahwa Dukuh mempunyai fungsi sebagai sulinggih
secara niskala. Karena itu, ketika terjadi kematian, terutama dalam
rangkaian ngaben atau Pitra Yadnya, masyarakat memohon tirta di tempat
tersebut.
Hal ini tidak berarti menggantikan peran sulinggih secara sekala.
Sebaliknya, keduanya berjalan berdampingan. Sulinggih secara nyata memimpin
pelaksanaan upacara, sedangkan linggih Dukuh dipahami mempunyai fungsi sakral
yang diwariskan dari leluhur dan dipercaya memberikan penyempurnaan secara
niskala.
Kepercayaan semacam ini menunjukkan bagaimana masyarakat Bali dapat
mempertahankan dua lapisan otoritas keagamaan sekaligus: otoritas ritual
yang terlihat dan otoritas sakral yang diwariskan melalui tradisi.
Dadia dan Kepemimpinan Desa
Adat
Hal lain yang sangat menarik adalah hubungan antara dadia dengan
struktur kepemimpinan Desa Adat Tegenan.
Dalam tradisi yang masih berlangsung, posisi pengulu desa,
seperti Bendesa, Klian Banjar, serta Pemangku Kahyangan Tiga, secara
turun-temurun berasal dari dadia ini.
Menurut ingatan kolektif masyarakat, pernah terjadi suatu masa ketika
jabatan-jabatan tersebut diisi oleh orang dari dadia lain, dan kondisi desa
kemudian dianggap kurang kondusif. Pengalaman tersebut kemudian memperkuat
keyakinan masyarakat bahwa kepemimpinan desa mempunyai hubungan tertentu dengan
garis dadia ini.
Fenomena tersebut penting dilihat bukan semata-mata sebagai persoalan
"siapa yang berhak memimpin", tetapi sebagai bentuk legitimasi
adat yang dibangun dari sejarah, kepercayaan, dan pengalaman kolektif
masyarakat.
Dengan kata lain, dadia tidak hanya berfungsi sebagai organisasi
pemujaan leluhur. Ia juga menjadi salah satu sumber identitas dan legitimasi
sosial dalam kehidupan desa adat.
Hubungan dengan Dadia Agung Pasek Gelgel
Pegatepan
Menurut
tradisi yang berkembang di Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan, Dadia Agung
dari pura ini adalah Dadia Agung Pasek Gelgel Pegatepan.
Hal ini
menjadi sangat penting ketika melihat keberadaan Dalem Digde/Dalem Bugbugan.
Jika benar
tradisi lisan yang diwariskan menyebutkan bahwa asal-usul dadia ini berhubungan
dengan Pegatepan, maka keberadaan Dalem Digde di dalam satu kompleks
dengan pelinggih-pelinggih kawitan dapat menjadi petunjuk penting mengenai cara
masyarakat dahulu mengonstruksi identitas asal-usul mereka.
Namun, perlu
dibedakan antara:
tradisi
genealogis tradisi pemujaan, dan
bukti sejarah tertulis.
Ketiganya
tidak selalu identik.
Pura Dalem
Digde sendiri mempunyai kedudukan penting dalam lanskap sejarah Gelgel; salah
satu sumber mengenai Desa Adat Gelgel menyebut Dalem Digde sebagai salah satu
pura Dalem penting di kawasan tersebut,Karena itu, keberadaan Dalem Digde dalam
struktur pemujaan Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan dapat menjadi bahan
penelitian yang sangat menarik, terutama jika nantinya dapat dicocokkan dengan prasasti,
lontar babad, piagem, silsilah, atau penuturan panglingsir.
Lalu, Apa Hubungan Bang Manik Angkeran, Dewi
Danuh, dan Sangkara?
Bagian ini
justru merupakan salah satu aspek paling menarik dari Dadia Pasek Gelgel Ibu
Kanginan.
Jika titik
awal pembacaan adalah bahwa Dalem Digde berkaitan dengan identitas Pegatepan,
maka kehadiran Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan Sangkara di dalam
kompleks yang sama kemungkinan besar tidak berdiri secara acak.
Namun, belum
tepat jika langsung disimpulkan bahwa ketiganya merupakan leluhur langsung dari
Pasek Gelgel Pegatepan. Hubungan tersebut perlu dibuktikan melalui sumber
primer.
Ada beberapa
kemungkinan interpretasi.
1. Hubungan melalui jaringan
tradisi Siwa dan kependetaan
Bang Manik Angkeran dalam tradisi Bali mempunyai hubungan kuat dengan
kisah Danghyang Siddhimantra, tradisi kependetaan, dan perjalanan
spiritual. Sumber-sumber tradisi babad juga menghubungkan
Manik Angkeran dengan lingkungan Besakih dan berbagai tokoh Pasek/Arya.
Sementara itu,
Mpu Kuturan juga hadir dalam kompleks yang sama.
Menariknya,
Mpu Kuturan dan figur-figur kependetaan seperti Dukuh/Bujangga muncul bersamaan
dengan Bang Manik Angkeran. Ini membuka kemungkinan bahwa yang disimpan oleh
pura bukan hanya silsilah darah, tetapi juga jaringan tokoh spiritual
dan tradisi keagamaan yang pernah menjadi bagian dari pembentukan komunitas.
Artinya, Bang
Manik Angkeran belum tentu harus dibaca sebagai "ayah atau leluhur
langsung". Ia bisa saja hadir sebagai tokoh suci yang mempunyai
hubungan ritual atau historis dengan komunitas penyungsung.
2. Dewi Danuh kemungkinan berkaitan dengan aspek
air dan kesuburan
Nama Dewi
Danuh sangat kuat mengarah kepada simbolisme danau, air, dan kesuburan.
Hal ini
menjadi menarik karena di kompleks yang sama terdapat Dewi Ulundanu dan Sri
Sedana.
Secara
simbolik, rangkaian:
Dewi Danuh –
Dewi Ulundanu – Sangkara – Sri Sedana
dapat dibaca
sebagai sebuah jaringan simbol yang berkaitan dengan air, tanaman,
kesuburan, pertanian, dan kesejahteraan.
Dalam tradisi
Bali, unsur air bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga merupakan unsur sakral
yang menopang kehidupan. Karena itu, keberadaan Dewi Danuh dalam sebuah pura
dadia dapat mempunyai fungsi kosmologis, bukan harus berarti bahwa
penyungsungnya mempunyai hubungan darah dengan tokoh yang bernama atau bergelar
Dewi Danuh.
3. Sangkara memperkuat unsur
kesuburan dan kehidupan
Sangkara mempunyai asosiasi kuat dengan tumbuh-tumbuhan dan aspek kehidupan yang
berkembang.
Jika Sangkara ditempatkan bersama Sri Sedana, Dewi Danuh,
dan Ulundanu, maka terdapat pola yang sangat menarik:
Air → pertumbuhan → hasil bumi → kemakmuran.
Dengan demikian, pelinggih-pelinggih tersebut mungkin merupakan satu
jaringan konseptual yang menggambarkan kesuburan dan kesejahteraan,
bukan semata-mata daftar tokoh yang mempunyai hubungan genealogis.
Ini justru bisa menjelaskan mengapa mereka ditempatkan dalam kompleks
yang sama dengan pelinggih kawitan.
Kemungkinan Lain: Jejak
Perjalanan Leluhur
Ada kemungkinan yang lebih menarik lagi.
Pura dadia sering kali tidak hanya menyimpan "siapa leluhur
kami", tetapi juga menyimpan "ke mana leluhur kami pernah
berhubungan atau dari mana mereka memperoleh legitimasi spiritual."
Artinya, susunan pelinggih bisa menjadi semacam peta memori leluhur.
Jika demikian,
keberadaan:
- Dalem Digde;
- Bang Manik Angkeran;
- Dewi Danuh;
- Sangkara;
- Mpu Kuturan;
- Dukuh Bujangga Sakti;
- Hyang Pasupati;
- Bhatara Guru;
mungkin merupakan hasil dari beberapa lapisan sejarah yang kemudian dikristalkan
menjadi satu sistem pemujaan.
Fenomena seperti ini tidak aneh dalam perkembangan pura-pura kawitan.
Sebuah komunitas dapat mengalami perpindahan tempat, perkawinan antarkelompok,
hubungan politik, hubungan kependetaan, atau perubahan struktur sosial. Dalam
perjalanan waktu, berbagai memori tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk
pelinggih dan ritual.
Karena itu, pura dapat dibaca seperti arsip sejarah yang ditulis
bukan dengan kertas, melainkan dengan arsitektur, nama pelinggih, ritual, dan
tradisi lisan.
Hipotesis yang Paling Masuk
Akal
Jika seluruh data yang ada untuk sementara dirangkai, saya melihat ada tiga
lapisan besar di Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan.
Lapisan pertama: Kawitan dan
genealogis
Lapisan ini diwakili oleh:
Pasek Gelgel → Pegatepan → Dalem Digde/Dalem Bugbugan → Hyang Kawitan
dan leluhur.
Ini merupakan lapisan identitas genealogis.
Lapisan kedua: Kependetaan
dan kesucian
Lapisan ini terlihat dari:
Mpu Gni Jaya, Pasupati, Mpu Kuturan, Dukuh Bujangga Sakti, Sanghyang
Tapini, dan tradisi tirta niskala.
Ini merupakan lapisan spiritual.
Lapisan ketiga: Kosmologi
kehidupan
Lapisan ini terlihat dari:
Dewi Danuh, Ulundanu, Sangkara, Sri Sedana, Bang Manik Angkeran, serta
pelinggih-pelinggih yang berkaitan dengan kemakmuran dan perlindungan.
Ini merupakan lapisan kosmologis.
Dengan pembacaan seperti ini, Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan
Sangkara tidak harus dipaksakan sebagai satu garis keturunan dengan Pasek
Gelgel Pegatepan. Bisa jadi mereka merupakan bagian dari jaringan
religius yang lebih luas yang kemudian menyatu dengan identitas dadia.
Mengapa Hal Ini Penting?
Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan menjadi menarik justru karena tradisinya
tidak sederhana.
Ia bukan hanya tempat untuk "menyembah kawitan", tetapi
menjadi tempat bertemunya:
leluhur + kawitan + kependetaan + kosmologi + kesuburan + kematian +
kepemimpinan desa.
Tradisi surat pepegat memperlihatkan hubungan antara status sosial
dengan kematian. Linggih Dukuh menunjukkan hubungan antara sulinggih sekala dan
niskala. Linggih Hyang Nama memperlihatkan bagaimana leluhur yang baru diaben
ditempatkan dalam memori kolektif. Sementara keberadaan Bang Manik Angkeran,
Dewi Danuh, Sangkara, Sri Sedana, dan Mpu Kuturan menunjukkan adanya lapisan
religius yang lebih luas daripada sekadar genealogis.
Bahkan fakta bahwa jabatan pengulu desa secara tradisional berasal dari
lingkungan dadia menunjukkan bahwa identitas kawitan telah berkelindan
dengan struktur sosial Desa Adat Tegenan.
Dalam kajian sejarah lokal, kondisi seperti ini sangat berharga karena
setiap pelinggih dapat menjadi "petunjuk" untuk menelusuri lapisan
sejarah yang berbeda.
Penutup
Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Desa Adat Tegenan dapat dipandang
sebagai sebuah ruang memori kolektif masyarakat. Sekitar 50 KK yang
menjadi penyungsungnya tidak hanya mewarisi kewajiban odalan setiap Anggara
Kasih Prangbakat, tetapi juga mewarisi sistem pengetahuan mengenai leluhur,
kematian, kependetaan, kepemimpinan, dan hubungan manusia dengan alam.
Keberadaan Dalem
Digde/Dalem Bugbugan sangat penting apabila identitas asal-usul dadia
memang berkaitan dengan Pasek Gelgel Pegatepan. Sementara itu, kehadiran
Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, Sangkara, Sri Sedana, Mpu Kuturan, dan
Dukuh Bujangga Sakti membuka kemungkinan bahwa pura ini menyimpan lapisan
sejarah yang lebih luas.
Hipotesis yang
paling hati-hati adalah bahwa Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan Sangkara
tidak harus merupakan satu garis genealogis dengan Pasek Gelgel Pegatepan,
tetapi dapat merupakan bagian dari jaringan sakral, kosmologis, atau historis
yang kemudian diintegrasikan ke dalam sistem pemujaan dadia.
Untuk
membuktikan lebih jauh, penelitian berikutnya sebaiknya secara khusus mencari lontar,
prasasti, piagem, babad, catatan pelinggih, silsilah Pasek Gelgel Pegatepan,
serta cerita panglingsir mengenai asal-usul masing-masing pelinggih.
Bahkan, jika nama-nama pelinggih tersebut dapat dibandingkan dengan pura-pura
Pasek Gelgel Pegatepan lainnya, kemungkinan besar akan muncul pola yang dapat
membantu menjawab mengapa Dalem Digde, Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan
Sangkara ditempatkan bersama dalam satu kompleks.
Dengan
demikian, pertanyaan tentang hubungan ketiganya bukan sekadar pertanyaan
mengenai "siapa leluhur siapa", tetapi mungkin merupakan pintu masuk
untuk membaca perjalanan sejarah dan pembentukan identitas religius Dadia
Pasek Gelgel Ibu Kanginan itu sendiri.(manixs)










.jpeg)
