Jumat, 11 September 2026

Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Desa Adat Tegenan: Jejak Kawitan, Tradisi, dan Jaringan Sakral Pelinggih


Desa Adat Tegenan menyimpan salah satu bentuk tradisi kawitan yang menarik untuk dikaji, yaitu Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan. Dadia ini tidak hanya menjadi tempat pemujaan leluhur bagi para pangeponya, tetapi juga memperlihatkan struktur keagamaan yang cukup kompleks. Keberadaan berbagai pelinggih, pembagian beberapa komplek pemujaan, tradisi odalan, hingga keterkaitan dengan kepemimpinan adat menunjukkan bahwa pura dadia ini mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan religius dan sosial masyarakat setempat.

Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan saat ini didukung oleh sekitar 50 kepala keluarga (KK). Piodalan atau odalan dilaksanakan setiap satu tahun sekali, bertepatan dengan Anggara Kasih Prangbakat. Waktu pelaksanaan tersebut menjadi momentum penting bagi seluruh sentana untuk berkumpul, melakukan persembahyangan, serta mempererat hubungan antara keluarga-keluarga yang berada dalam satu garis dadia.

Secara umum, kompleks pura dapat dipahami sebagai sebuah ruang sakral yang tidak hanya berisi satu bentuk pemujaan. Di dalamnya terdapat beberapa lapisan penghormatan: kepada Dewa-dewa manifestasi Ida Sang Hyang Widhi, kepada Betara Kawitan Hyang Gni Jaya, kepada para leluhur/Ibu Kawitan, serta kepada tokoh-tokoh suci yang mempunyai kedudukan khusus dalam tradisi setempat.

Empat Kompleks Utama Pelinggih

Keunikan Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan antara lain terlihat dari banyaknya bangunan suci yang terbagi ke dalam sekitar empat kompleks.

1. Kompleks Utama

Kompleks pertama merupakan bagian utama dari pura. Di dalamnya terdapat Padma dan dasar atau bataran utama, serta Meru Tumpang Tiga.

Meru tersebut menjadi stana:

  • Mpu Gni Jaya/Bhatara Kawitan;
  • Hyang Pasupati/Bhatara Guru;
  • Gedong Linggih Dalem Digde/Dalem Bugbugan.

Pada sisi utara terdapat Taksu, kemudian Stana Ratu Gede Sakti Penyarikan.

Pada jejer utara bagian barat terdapat sejumlah pelinggih yang mempunyai nama dan fungsi yang sangat menarik, yaitu:

  • Dewi Ulundanu;
  • Betara Sangkara;
  • Bang Manik Angkeran;
  • Sri Sedana;
  • Mpu Kuturan.
  • Ratu Ayu Manik Bingin

Di sekitar kompleks ini juga terdapat Samuan, Pepelik, dan Jaksa Jejeneng. Pada bagian depan terdapat pelinggih Anglurah dan Penegtegan.

Susunan tersebut memperlihatkan bahwa kompleks utama bukan sekadar ruang pemujaan kawitan dalam arti sempit. Ia juga memuat unsur-unsur yang berkaitan dengan kepemimpinan, kesuburan, kemakmuran, air, kesucian, kependetaan, serta fungsi penataan kehidupan masyarakat.

2. Kompleks Ratu Dukuh Bujangga Sakti

Kompleks kedua memiliki pelinggih yang diperuntukkan bagi:

  • Tri Purusa;
  • Dewi Saraswati;
  • Dukuh Bujangga Sakti;
  • Sanghyang Tapini/Umadewi.

Menariknya, keberadaan Dukuh Bujangga Sakti dalam satu lingkungan dengan Saraswati dan Sanghyang Tapini/Umadewi dapat dibaca sebagai penekanan terhadap aspek pengetahuan, kesucian, kependetaan, dan kekuatan sakral Perempuan sebagai tapeni.

Khusus mengenai linggih Dukuh, terdapat tradisi yang sangat kuat. Masyarakat memfungsikannya sebagai tempat memohon tirta secara niskala, terutama ketika terdapat kematian dan pelaksanaan Pitra Yadnya/Ngaben dan upacara Manusa Yadnya.

Walaupun dalam upacara telah digunakan sulinggih secara nyata, masyarakat masih meyakini bahwa permohonan tirta di linggih Dukuh merupakan bagian yang tidak boleh ditinggalkan. Kepercayaan seperti ini menunjukkan bahwa dalam pandangan masyarakat setempat terdapat hubungan antara sulinggih sekala dan fungsi kependetaan niskala yang diwariskan melalui tradisi dadia.

3. Kompleks Ibu Kawitan

Kompleks berikutnya merupakan kawasan yang secara khusus berhubungan dengan ibu kawitan. Di dalamnya terdapat:

  • Linggih Betara Guru Ibu Kawitan dan Kompyang
  • Stana Ibu Kawitan yang terdiri dari gedong didalamnya bertugu/pelinggih 3
  • Hyang Kewalunan;
  • Hyang Kerihinan;
  • Hyang Dewa/Hyang Kompyang;
  • Paruman.

Keberadaan linggih tersebut memperlihatkan adanya lapisan penghormatan terhadap leluhur yang tidak hanya dipahami sebagai satu figur tunggal. Dalam tradisi Bali, konsep leluhur dapat memiliki beberapa tingkat dan sebutan, sehingga keberadaan Hyang Kompyang, Hyang Dewa, dan bentuk-bentuk leluhur lainnya dapat merepresentasikan proses kesinambungan hubungan antara generasi yang masih hidup dengan para leluhur.

4. Jaba Tengah

Di jaba tengah terdapat linggih Bhatara Guru dan Hyang Nama.

Linggih Hyang Nama mempunyai fungsi yang sangat menarik. Tempat tersebut diperuntukkan bagi leluhur yang baru selesai diaben dan masih diketahui namanya. Dengan demikian, ruang ini dapat dipahami sebagai bagian dari proses transisi penghormatan leluhur: seseorang yang telah meninggalkan dunia manusia belum serta-merta hilang dari ingatan sosial keluarga, tetapi tetap mempunyai tempat dalam struktur pemujaan.

Pada bagian depan terdapat Apit Lawang, candi, serta Ganapati.serta Bale Kulkul

Keberadaan Ganapati juga menarik karena dalam tradisi Hindu, Ganapati/Ganesha berkaitan dengan penghalang dan pembukaan jalan, sehingga secara simbolis kehadirannya di area depan dapat dibaca sebagai penjaga sekaligus pembuka jalan menuju ruang sakral.

Pelinggih-Pelinggih yang Sangat Unik

Salah satu kekayaan utama Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan adalah keberadaan sejumlah pelinggih yang memiliki fungsi dan cerita khusus.

Di antaranya adalah Gedong Dalem Bugbugan, Dewi Danuh, Sangkara, Padma Capah  stana Bang Manik Angkeran, dan Gedong Ratu Gede Sakti Penyarikan.

Lontar Surat Pepegat

Salah satu tradisi yang paling menarik adalah keberadaan lontar Surat Pepegat.

Menurut tradisi yang diwariskan di dadia ini, lontar tersebut mempunyai fungsi berkaitan dengan pembuatan surat pepegat bagi almarhum atau dewa hyang yang semasa hidup pernah menjabat sebagai klian atau pemangku.

Ketika dilaksanakan proses meserah sampelan, orang yang bersangkutan harus dilengkapi dengan surat pepegat tersebut.

Tradisi ini memperlihatkan bahwa jabatan sosial dan keagamaan seseorang semasa hidup ternyata tidak berhenti begitu saja setelah kematian. Ada mekanisme ritual untuk menandai perubahan statusnya dari manusia yang menjalankan fungsi adat/agama menjadi leluhur yang telah memasuki ruang pemujaan.

Dengan demikian, surat pepegat dapat dipandang sebagai salah satu bentuk dokumentasi ritual mengenai perubahan status seseorang dalam struktur sosial-religius masyarakat.

Linggih Dukuh dan Konsep Sulinggih Niskala

Keberadaan Dukuh Bujangga Sakti merupakan salah satu aspek yang paling menarik secara antropologis.

Masyarakat mempercayai bahwa Dukuh mempunyai fungsi sebagai sulinggih secara niskala. Karena itu, ketika terjadi kematian, terutama dalam rangkaian ngaben atau Pitra Yadnya, masyarakat memohon tirta di tempat tersebut.

Hal ini tidak berarti menggantikan peran sulinggih secara sekala. Sebaliknya, keduanya berjalan berdampingan. Sulinggih secara nyata memimpin pelaksanaan upacara, sedangkan linggih Dukuh dipahami mempunyai fungsi sakral yang diwariskan dari leluhur dan dipercaya memberikan penyempurnaan secara niskala.

Kepercayaan semacam ini menunjukkan bagaimana masyarakat Bali dapat mempertahankan dua lapisan otoritas keagamaan sekaligus: otoritas ritual yang terlihat dan otoritas sakral yang diwariskan melalui tradisi.

Dadia dan Kepemimpinan Desa Adat

Hal lain yang sangat menarik adalah hubungan antara dadia dengan struktur kepemimpinan Desa Adat Tegenan.

Dalam tradisi yang masih berlangsung, posisi pengulu desa, seperti Bendesa, Klian Banjar, serta Pemangku Kahyangan Tiga, secara turun-temurun berasal dari dadia ini.

Menurut ingatan kolektif masyarakat, pernah terjadi suatu masa ketika jabatan-jabatan tersebut diisi oleh orang dari dadia lain, dan kondisi desa kemudian dianggap kurang kondusif. Pengalaman tersebut kemudian memperkuat keyakinan masyarakat bahwa kepemimpinan desa mempunyai hubungan tertentu dengan garis dadia ini.

Fenomena tersebut penting dilihat bukan semata-mata sebagai persoalan "siapa yang berhak memimpin", tetapi sebagai bentuk legitimasi adat yang dibangun dari sejarah, kepercayaan, dan pengalaman kolektif masyarakat.

Dengan kata lain, dadia tidak hanya berfungsi sebagai organisasi pemujaan leluhur. Ia juga menjadi salah satu sumber identitas dan legitimasi sosial dalam kehidupan desa adat.

Hubungan dengan Dadia Agung Pasek Gelgel Pegatepan

Menurut tradisi yang berkembang di Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan, Dadia Agung dari pura ini adalah Dadia Agung Pasek Gelgel Pegatepan.

Hal ini menjadi sangat penting ketika melihat keberadaan Dalem Digde/Dalem Bugbugan.

Jika benar tradisi lisan yang diwariskan menyebutkan bahwa asal-usul dadia ini berhubungan dengan Pegatepan, maka keberadaan Dalem Digde di dalam satu kompleks dengan pelinggih-pelinggih kawitan dapat menjadi petunjuk penting mengenai cara masyarakat dahulu mengonstruksi identitas asal-usul mereka.

Namun, perlu dibedakan antara:

tradisi genealogis tradisi pemujaan, dan
bukti sejarah tertulis.

Ketiganya tidak selalu identik.

Pura Dalem Digde sendiri mempunyai kedudukan penting dalam lanskap sejarah Gelgel; salah satu sumber mengenai Desa Adat Gelgel menyebut Dalem Digde sebagai salah satu pura Dalem penting di kawasan tersebut,Karena itu, keberadaan Dalem Digde dalam struktur pemujaan Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan dapat menjadi bahan penelitian yang sangat menarik, terutama jika nantinya dapat dicocokkan dengan prasasti, lontar babad, piagem, silsilah, atau penuturan panglingsir.

Lalu, Apa Hubungan Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan Sangkara?

Bagian ini justru merupakan salah satu aspek paling menarik dari Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan.

Jika titik awal pembacaan adalah bahwa Dalem Digde berkaitan dengan identitas Pegatepan, maka kehadiran Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan Sangkara di dalam kompleks yang sama kemungkinan besar tidak berdiri secara acak.

Namun, belum tepat jika langsung disimpulkan bahwa ketiganya merupakan leluhur langsung dari Pasek Gelgel Pegatepan. Hubungan tersebut perlu dibuktikan melalui sumber primer.

Ada beberapa kemungkinan interpretasi.

1. Hubungan melalui jaringan tradisi Siwa dan kependetaan

Bang Manik Angkeran dalam tradisi Bali mempunyai hubungan kuat dengan kisah Danghyang Siddhimantra, tradisi kependetaan, dan perjalanan spiritual. Sumber-sumber tradisi babad juga menghubungkan Manik Angkeran dengan lingkungan Besakih dan berbagai tokoh Pasek/Arya.

Sementara itu, Mpu Kuturan juga hadir dalam kompleks yang sama.

Menariknya, Mpu Kuturan dan figur-figur kependetaan seperti Dukuh/Bujangga muncul bersamaan dengan Bang Manik Angkeran. Ini membuka kemungkinan bahwa yang disimpan oleh pura bukan hanya silsilah darah, tetapi juga jaringan tokoh spiritual dan tradisi keagamaan yang pernah menjadi bagian dari pembentukan komunitas.

Artinya, Bang Manik Angkeran belum tentu harus dibaca sebagai "ayah atau leluhur langsung". Ia bisa saja hadir sebagai tokoh suci yang mempunyai hubungan ritual atau historis dengan komunitas penyungsung.

2. Dewi Danuh kemungkinan berkaitan dengan aspek air dan kesuburan

Nama Dewi Danuh sangat kuat mengarah kepada simbolisme danau, air, dan kesuburan.

Hal ini menjadi menarik karena di kompleks yang sama terdapat Dewi Ulundanu dan Sri Sedana.

Secara simbolik, rangkaian:

Dewi Danuh – Dewi Ulundanu – Sangkara – Sri Sedana

dapat dibaca sebagai sebuah jaringan simbol yang berkaitan dengan air, tanaman, kesuburan, pertanian, dan kesejahteraan.

Dalam tradisi Bali, unsur air bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga merupakan unsur sakral yang menopang kehidupan. Karena itu, keberadaan Dewi Danuh dalam sebuah pura dadia dapat mempunyai fungsi kosmologis, bukan harus berarti bahwa penyungsungnya mempunyai hubungan darah dengan tokoh yang bernama atau bergelar Dewi Danuh.

3. Sangkara memperkuat unsur kesuburan dan kehidupan

Sangkara mempunyai asosiasi kuat dengan tumbuh-tumbuhan dan aspek kehidupan yang berkembang.

Jika Sangkara ditempatkan bersama Sri Sedana, Dewi Danuh, dan Ulundanu, maka terdapat pola yang sangat menarik:

Air → pertumbuhan → hasil bumi → kemakmuran.

Dengan demikian, pelinggih-pelinggih tersebut mungkin merupakan satu jaringan konseptual yang menggambarkan kesuburan dan kesejahteraan, bukan semata-mata daftar tokoh yang mempunyai hubungan genealogis.

Ini justru bisa menjelaskan mengapa mereka ditempatkan dalam kompleks yang sama dengan pelinggih kawitan.

Kemungkinan Lain: Jejak Perjalanan Leluhur

Ada kemungkinan yang lebih menarik lagi.

Pura dadia sering kali tidak hanya menyimpan "siapa leluhur kami", tetapi juga menyimpan "ke mana leluhur kami pernah berhubungan atau dari mana mereka memperoleh legitimasi spiritual."

Artinya, susunan pelinggih bisa menjadi semacam peta memori leluhur.

Jika demikian, keberadaan:

  • Dalem Digde;
  • Bang Manik Angkeran;
  • Dewi Danuh;
  • Sangkara;
  • Mpu Kuturan;
  • Dukuh Bujangga Sakti;
  • Hyang Pasupati;
  • Bhatara Guru;

mungkin merupakan hasil dari beberapa lapisan sejarah yang kemudian dikristalkan menjadi satu sistem pemujaan.

Fenomena seperti ini tidak aneh dalam perkembangan pura-pura kawitan. Sebuah komunitas dapat mengalami perpindahan tempat, perkawinan antarkelompok, hubungan politik, hubungan kependetaan, atau perubahan struktur sosial. Dalam perjalanan waktu, berbagai memori tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk pelinggih dan ritual.

Karena itu, pura dapat dibaca seperti arsip sejarah yang ditulis bukan dengan kertas, melainkan dengan arsitektur, nama pelinggih, ritual, dan tradisi lisan.

Hipotesis yang Paling Masuk Akal

Jika seluruh data yang ada untuk sementara dirangkai, saya melihat ada tiga lapisan besar di Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan.

Lapisan pertama: Kawitan dan genealogis

Lapisan ini diwakili oleh:

Pasek Gelgel → Pegatepan → Dalem Digde/Dalem Bugbugan → Hyang Kawitan dan leluhur.

Ini merupakan lapisan identitas genealogis.

Lapisan kedua: Kependetaan dan kesucian

Lapisan ini terlihat dari:

Mpu Gni Jaya, Pasupati, Mpu Kuturan, Dukuh Bujangga Sakti, Sanghyang Tapini, dan tradisi tirta niskala.

Ini merupakan lapisan spiritual.

Lapisan ketiga: Kosmologi kehidupan

Lapisan ini terlihat dari:

Dewi Danuh, Ulundanu, Sangkara, Sri Sedana, Bang Manik Angkeran, serta pelinggih-pelinggih yang berkaitan dengan kemakmuran dan perlindungan.

Ini merupakan lapisan kosmologis.

Dengan pembacaan seperti ini, Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan Sangkara tidak harus dipaksakan sebagai satu garis keturunan dengan Pasek Gelgel Pegatepan. Bisa jadi mereka merupakan bagian dari jaringan religius yang lebih luas yang kemudian menyatu dengan identitas dadia.

Mengapa Hal Ini Penting?

Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan menjadi menarik justru karena tradisinya tidak sederhana.

Ia bukan hanya tempat untuk "menyembah kawitan", tetapi menjadi tempat bertemunya:

leluhur + kawitan + kependetaan + kosmologi + kesuburan + kematian + kepemimpinan desa.

Tradisi surat pepegat memperlihatkan hubungan antara status sosial dengan kematian. Linggih Dukuh menunjukkan hubungan antara sulinggih sekala dan niskala. Linggih Hyang Nama memperlihatkan bagaimana leluhur yang baru diaben ditempatkan dalam memori kolektif. Sementara keberadaan Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, Sangkara, Sri Sedana, dan Mpu Kuturan menunjukkan adanya lapisan religius yang lebih luas daripada sekadar genealogis.

Bahkan fakta bahwa jabatan pengulu desa secara tradisional berasal dari lingkungan dadia menunjukkan bahwa identitas kawitan telah berkelindan dengan struktur sosial Desa Adat Tegenan.

Dalam kajian sejarah lokal, kondisi seperti ini sangat berharga karena setiap pelinggih dapat menjadi "petunjuk" untuk menelusuri lapisan sejarah yang berbeda.

Penutup

Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Desa Adat Tegenan dapat dipandang sebagai sebuah ruang memori kolektif masyarakat. Sekitar 50 KK yang menjadi penyungsungnya tidak hanya mewarisi kewajiban odalan setiap Anggara Kasih Prangbakat, tetapi juga mewarisi sistem pengetahuan mengenai leluhur, kematian, kependetaan, kepemimpinan, dan hubungan manusia dengan alam.

Keberadaan Dalem Digde/Dalem Bugbugan sangat penting apabila identitas asal-usul dadia memang berkaitan dengan Pasek Gelgel Pegatepan. Sementara itu, kehadiran Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, Sangkara, Sri Sedana, Mpu Kuturan, dan Dukuh Bujangga Sakti membuka kemungkinan bahwa pura ini menyimpan lapisan sejarah yang lebih luas.

Hipotesis yang paling hati-hati adalah bahwa Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan Sangkara tidak harus merupakan satu garis genealogis dengan Pasek Gelgel Pegatepan, tetapi dapat merupakan bagian dari jaringan sakral, kosmologis, atau historis yang kemudian diintegrasikan ke dalam sistem pemujaan dadia.

Untuk membuktikan lebih jauh, penelitian berikutnya sebaiknya secara khusus mencari lontar, prasasti, piagem, babad, catatan pelinggih, silsilah Pasek Gelgel Pegatepan, serta cerita panglingsir mengenai asal-usul masing-masing pelinggih. Bahkan, jika nama-nama pelinggih tersebut dapat dibandingkan dengan pura-pura Pasek Gelgel Pegatepan lainnya, kemungkinan besar akan muncul pola yang dapat membantu menjawab mengapa Dalem Digde, Bang Manik Angkeran, Dewi Danuh, dan Sangkara ditempatkan bersama dalam satu kompleks.

Dengan demikian, pertanyaan tentang hubungan ketiganya bukan sekadar pertanyaan mengenai "siapa leluhur siapa", tetapi mungkin merupakan pintu masuk untuk membaca perjalanan sejarah dan pembentukan identitas religius Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan itu sendiri.(manixs)


Minggu, 31 Mei 2026

Purnama Ketiga Icaka 1948, Dadia Pasek Gelgel Gelar Ngadegang Pemangku Jan Bangul Ratu Dukuh Bujangga Sakti

GATRA MANIXGNI,Kamis,27 Agustus 2026 — Bertepatan dengan Purnama ketiga Icaka 1948, Kamis (27/8/2026), Dadia Pasek Gelgel, Ibu Kanginan, Desa Adat Tegenan, menyelenggarakan upacara ngadegang Pemangku Jan Bangul Ratu Dukuh Bujangga Sakti.

Upacara tersebut merupakan tindak lanjut keputusan paruman Dadia yang digelar pada Anggara Kasih Tambir, 11 Agustus 2026. Dalam paruman tersebut disepakati pemilihan calon pemangku dilakukan menggunakan kwangen dengan dua kandidat, yakni Mangku Ketut Darmawan dan Guru Made Kariana.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 16.00 Wita itu dihadiri para pemangku Dadia, prajuru Dadia, serta seluruh krama Dadia.

Rangkaian upacara dipimpin Jero Mangku Manik Jan Bangul Bhetara Hyang Gnijaya atau Bhetara Kawitan. Prosesi diawali dengan mereresik, kemudian dilanjutkan dengan ngayab sayut presista yang dilakukan para calon bersama seluruh krama Dadia.

Setelah itu, dilakukan matur piuning di linggih Ida Bhetara Kawitan, Ibu Kawitan, dan Dewa Hyang. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pemujaan kepada Bhetara Dukuh untuk memohon petunjuk mengenai calon yang dikehendaki secara niskala.

Usai persembahyangan bersama, Jero Mangku Dalem didampingi Klian Dadia yang sekaligus Bendesa Desa Adat Tegenan, Jero Ketut Wana Yasa, mengambil kwangen yang telah disediakan di linggih Bhetara Dukuh.

Pemilihan dilakukan dengan cara para calon berdiri sehingga proses pengambilan kwangen tidak dapat dilihat oleh pihak lain. Dari prosesi tersebut, pilihan secara niskala jatuh kepada Guru Made Kariana bersama istrinya, Ni Nyoman Darmini.

Made Kariana kemudian dipasangkan sirawista oleh Jero Mangku Dalem sebagai tanda resmi terpilih menjadi Pemangku Jan Bangul Bhetara Dukuh.

Jero Mangku Manik menyampaikan ucapan selamat kepada pemangku terpilih. Ia berpesan agar keputusan tersebut diterima dengan penuh rasa syukur dan tanpa penyesalan maupun kesedihan.

"Patut bersyukur karena beliau menganugerahkan tugas untuk ngabih linggih beliau," ujar Jero Mangku Manik dalam pesannya kepada pemangku terpilih.

Menurut dia, Pemangku Dukuh memiliki tugas yang berkaitan dengan pelaksanaan upacara manusa yadnya, mulai dari manusia lahir hingga meninggal dunia. Tugas tersebut antara lain mersihin sawa, nelahin sanggah, nyurat kajang, dan berbagai rangkaian upacara lainnya.

Sementara itu, Pemangku Dadia yang berkaitan dengan Bhetara Kawitan bertugas dalam pelaksanaan dewa yadnya dan bhuta yadnya. Adapun Pemangku Ibu Kawitan bertugas dalam pelaksanaan pitra yadnya, khususnya upacara Dewa Hyang.

"Karena itu jelas tupoksi masing-masing," katanya.

Tekankan persatuan Dadia

Dalam kesempatan tersebut, Jero Mangku Manik juga mengingatkan seluruh krama Dadia agar menjaga persatuan, solidaritas, dan kerja sama.

Ia mengatakan Dadia Ibu Kanginan selama ini memiliki peran penting dalam kepemimpinan di Desa Adat Tegenan. Sejumlah posisi adat, seperti bendesa, klian banjar, klian subak, klian pakis, serati, hingga pemangku Kahyangan Tiga dan Kahyangan Desa, disebut berasal dari Dadia Ibu Kanginan.

"Karena itu mari kita memberikan contoh dengan menjalin persatuan, solidaritas, dan kerja sama. Jangan saling menyalahkan, bahkan sampai bermusuhan. Ingat, kita setelah meninggal akan disembah bersama di pura ini," pesannya.

Ia juga mengajak warga yang memiliki kemampuan lebih untuk membimbing warga lainnya.

"Yang pintar mari membimbing yang kurang. Yang pintar jangan sombong. Ingat jati diri Anda, satu darah dari warih kawitan Dadia Ibu Kanginan," ujarnya.

Calon pemangku diminta belajar

Klian Dadia sekaligus Bendesa Desa Adat Tegenan, Jero Ketut Wana Yasa, menyampaikan harapan agar terpilihnya Made Kariana menjadi langkah awal untuk menyiapkan pemangku yang akan menjalani proses pawintenan pada piodalan mendatang.

"Silakan mulai belajar dan bertanya kepada pemangku yang senior. Jangan lupa dresta, adat, dan tradisi Desa Tegenan yang telah diwariskan leluhur sebagai darah merah sukma kita," kata Jero Ketut Wana Yasa.

Ia juga mengingatkan para pemangku lainnya untuk saling bekerja sama dalam menjalankan kewajiban. Menurutnya, pemangku tidak boleh bersikap pasif ketika kegiatan mereresik maupun kegiatan ngayah di lingkungan pura dilaksanakan.

Para pemangku, kata dia, harus selalu eling ring swadarma atau mengingat kewajiban ngayah kepada Kawitan sebagai orang tua leluhur.

"Jangan sampai melupakan kawitan dan menjunjung tinggi pura lain. Ibaratnya kepada ayah dan ibu tidak pernah sujud mempersembahkan sesuatu, tetapi kepada orang lain sangat memuliakan. Alpaka itu namanya," ujarnya.

Ia berharap pesan tersebut dapat diimplementasikan dengan tulus dan ikhlas sebagai wujud bakti kepada leluhur.

Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan ngadegang tersebut, krama Dadia berharap kesatuan dan persatuan warga semakin kuat. Selain itu, keberadaan pemangku yang baru diharapkan dapat semakin memperjelas dan mengoptimalkan pelaksanaan tugas sesuai swadarma masing-masing.(manixs)

Melukat krama

Mresista calon mangku




Ngataurang piuning


Pengambilan kwangen dipimpin Jero Mk.Dalem

Pengambilan kwangin oleh calon

                                   
       Jero Klian ngecek kwangen siapoa yang dapat    pemasangan sira wista pada mk istri oleh Bendesa

Sambramawecana Jero Mangku pemuput
Sambramawecana jero klian


















Senin, 25 Mei 2026

 Berikut saya susun kembali kisah keluarga Anda agar lebih rapi dan mudah dibaca sebagai catatan silsilah keluarga.

Kisah Keluarga

Leluhur keluarga kami berasal dari garis keturunan kelab yang dipimpin oleh Dewa Hyang Pekak Gentos, yang menjabat sebagai Kelian Dadia sekitar tahun 1896 sampai 1920.

Beliau menurunkan:

Generasi Kedua

  1. Hyang Nesa (1896–1967)
    Menikah dengan perempuan dari Waringin, Pempatan.
    Beliau kemudian menjadi Kelian Dadia pada tahun 1921–1967.

  2. Adiknya bernama Ni Rampih (1899–1970)
    Menikah dengan Mekel Menanga Guru Gentiada.

Anak-anak Hyang Nesa

  • Ni Wayan Sukarma (1923–1994)

  • I Nyoman Kanyar (1936 – 18-09-2016)

  • Ni Ketut Suwasta (lahir 1945)

  • Ni Wayan Ginantra (lahir 1950)

  • Ni Nyoman Wirna (lahir 1956)

  • I Ketut Satra (1958 – 22-02-2022)

Disebutkan pula bahwa nenek memiliki 11 orang anak, namun banyak yang meninggal dunia saat masih kecil.


Keturunan I Nyoman Kanyar

I Nyoman Kanyar menikah dengan Ni Luh Pinget (1938 – 03-12-2017).

Mereka memiliki anak-anak:

  • I Wayan Suiji (lahir 1962)

  • Alm. Ni Md… (lahir 1963)

  • Ni Nyoman Wartami (1965–1987)

  • I Ketut Wana Yasa (lahir 1968)

  • I Wayan Kariana (lahir 1970)

  • Ni Nyoman Sariani (lahir 1972)


Keturunan I Ketut Satra

I Ketut Satra (1958 – 22-02-2022) menikah dengan Ni Wayan Suarti (lahir 1960).

Mereka dikaruniai anak-anak:

  • Ni Wayan Lasmini (lahir 1975)

  • Ni Nyoman Rapiani (lahir 1977)

  • Ni Ketut Warsini (lahir 1980)

  • Ni Wayan Listyawati (lahir 1983)


Catatan keluarga seperti ini sangat berharga untuk menjaga sejarah leluhur dan hubungan antargenerasi. Jika Anda mau, saya juga bisa membantu membuat:

  • bagan silsilah keluarga,

  • versi bahasa Bali halus,

  • cerita naratif keluarga,

  • atau dokumen resmi silsilah yang rapi untuk dicetak.

Selasa, 30 September 2025

Rapat Rutin Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Diselenggarakan Usai Kegiatan Naurin Hyang Nama

Tegenan, 30 September 2025 — Keluarga besar Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan kembali melaksanakan rapat rutin , yang dilaksanakan pada hari Selasa (Anggara Kasih Kulantir) kemarin, bertempat di balai dadia setempat. Uniknya, sebelum rapat digelar, terlebih dahulu dilaksanakan kegiatan naurin Hyang Nama, yang merupakan bagian dari upacara penyucian roh leluhur oleh salah satu keluarga dadia yaitu I Komang Sudani dan keluarganya.

Acara naurin Hyang Nama ini berlangsung sejak pagi hari dan merupakan lanjutan dari prosesi ritual yang telah diawali tiga hari sebelumnya dengan matur piuning ke sejumlah pura, antara lain: Pura Kahyangan Desa, Pura Dadia, dan Bhetara Guru. Hari puncaknya pada Anggara Kasih diisi dengan upacara nangyang Hyang Nama, dilanjutkan dengan mepanauran di lokasi tempat almarhum meninggal dunia.

Diketahui, semasa hidupnya, almarhum mengalami gangguan kejiwaan, dan meninggal dunia dengan ulah pati (kematian disengaja) karena menceburkan diri. Secara kepercayaan, arwah yang mengalami ulah pati diyakini tidak langsung mendapatkan tempat yang baik di alam roh, sehingga perlu dilakukan penebusan karma melalui upacara khusus.

Lokasi pelaksanaan upacara penebusan ini dilakukan di dua titik penting:

  • Grubug: tempat jatuhnya almarhum
  • Titi Gonggang: tempat simbolis di mana arwah menerima hukuman

Upacara tersebut disertai dengan persembahan banten dandanan, sayut guru piduka, bendu piduka, giri pati, serta caru ayam brumbun yang dilengkapi sayut pemegat. Prosesi sakral ini dipuput oleh Mangku Manik Puspayoga selaku pemangku pura dadia dan Jero Mangku Pura Titi Gonggang Besakih.acara akan berakhir tiga hari lagi dengan upacara yasa kerti (ngeyasaang) setiap hari jam 18.00 selama 3 hari sesuai petunjuk niskala Ida Bhetara kawitan.

Rapat Rutin Bahas Tertib Administrasi dan Keuangan

Sore harinya, kegiatan dilanjutkan dengan rapat rutin dadia usai bersih bersih dilingkungan pura, yang dipimpin oleh I Ketut Wana Yasa, selaku Klian Dadia sekaligus Bendesa Adat Tenganan. Dalam arahannya, beliau mengajak seluruh krama dadia untuk terus menjaga disiplin dan tertib dalam melaksanakan aturan, khususnya terkait sistem simpan pinjam keuangan dadia, yang ke depannya akan diatur melalui perarem (aturan adat tertulis). Masalah keuangan ini akan bisa berdampak positip mensejahtrakan anggota kalau dilaksanakan secara konsekwen tertib dan terukur,tetapi sebaliknya akan membuat kehancuran apabila kita tidak hati hati dalam pengelolaan dan penggunaan uang pinjaman tersebut apalagi ini sebagai pelaba duen Ida Bhetara Kawitan,mohon kepada warga tertib pelaksnaannya.

Sementara itu, Mangku Manik turut menyampaikan beberapa hal penting dalam rapat tersebut, antara lain:

  • Ketidakseimbangan antara banten mesegehan tiap Kajeng Kliwon yang menggunakan segehan mancapala (segeh agung), namun aturan keluurnya (upakara ke dewa) hanya berupa canang. Hal ini diminta untuk segera disesuaikan secara adat dan etika persembahan.
  • Pendataan Ayahan Tanah (tanah milik yang wajib sebagai ayahan di dadia) yang perlu diinventarisasi dengan baik untuk mencegah kelalaian atau kekeliruan ke depannya.
  • Terkait sistem simpan pinjam, beliau mengingatkan agar seluruh warga bijak dalam menggunakan uang:

“Uang itu ibarat api. Kalau kecil dan bisa kita kendalikan, ia bisa membantu kita memasak. Tapi kalau tidak bisa dikendalikan, ibarat api besar yang bisa membakar diri kita sendiri,” ujar Mangku Manik bijak.

Rapat berakhir menjelang malam hari dengan komitmen bersama untuk menjaga kekompakan, keterbukaan, dan keharmonisan antar warga dadia dalam menjalankan kewajiban adat dan sosial (manixs).

 

Naurin Hyang Nama 

Rapat Rutin Anggarakasih Kulantir,30 Septemebr 2025

Suasana rapat rutin