Senin, 13 Mei 2024

PIODALAN 2024 IMPLEMENTASIKAN DEWA RNAM DENGAN PITRA RNAM

Kata Piodalan berasal dari kata odal ber-sumber dari kata medal yang artinya keluar atau lahir,sehingga piodalan juga mengandung makna upacara peringatan kelahiran sebuah pura,sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa khususnya kepada Bhetara Bhetari atau Dewa Dewi yang distanakan pada Pura tersebut. Sehubungan dengan hal itu, piodalan di Pura Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan tahun 2024 ini ,memiliki makna ritual Dewa Rnam yang khusus karena dirangkai dengan pelaksanaan pitra rnam yang scedule tahapan pelaksanaannya sebagai berikut :

1.Hari Selasa,Anggara Kasih Tambir,Purnama Jiesta,23 April 2023 ,Klian Dadia menye-lenggarakan paruman dadia,pembahasannya merencanakan upacara piodalan dan upacara Pitra Rnam,rapat berlangsung lancar sesuai rencana.

2.Hari Senin,29 April 2024,Soma Umanis Jiesta, Pemangku Pura menghubungi sulinggih untuk memastikan jadwal dan waktu pelaksanaan upacara agar terjadwal oleh pihak sulinggih, sehingga upacara diharapkan terlaksana sesuai rencana.

3.Hari Minggu Umanis Menail,19 Mei 2024 jam 07.00 Wita krama dadia lanang tedun mereresik dan mempersiapan upakara untuk nyanggra piodalan,sekaligus rapat mengintensifkan persiapan piodalan.

4.Buda Wage Menail,22 Mei 2024 bertepatan dengan Purnama Sadha dilaksanakan upacara rutin murnama dibarengi dengan upacara ngendek Ida Bhetara akan dilangsungkannya piodalan,Ngendek itu maknanya menyampaikan tujuan agar pelaksanaan upacara piodalan yang sudah ditentukan dapat berjalan lancar karena perkenaan Beliau.

5.Wraspati Klion Menail,23 Mei 2024 adalah hari dimulainya membuat bahan upakara banten seperti membuat suci dan bebangkit. Pagi Pemangku sudah ngaturang banten pejati sambil mereresik mesayut,mohon ijin karena akan dimulainya membuat sarana upacara. Krama yang hadir adalah kelompok prejuru dan pemangku serta saye ,krama yang iklas ngayah dan pengayah kalau ada. Untuk kelompok kerja banten dibuat di rumah oleh 24 orang krama jangkep,9 krama lingsir,6 saye,1 belawa. Mereka mendapat tugas sesuai dengan job masing masing,harapannya agar yadnya lebih simpel,tidak fokus pada yadnya,tetapi konsepnya adalah "bekerja sambil meyadnya".namun kalau ada kurang dan lebihnya pembagian tugas itu,jangan diomongkan dengan orang yang tidak membagikan,omongkanlah dengan kami prejuru yang membagikan,agar tidak timbul kata patutne..dan berpotensi menimbulkan kehiruk-pikukan dikalangan nyama.

6 Tanggal 24 Mei 2024 hari Sukra Umanis Menail,acaranya masih melengkapi pembuatan sesajen atau disebut menben/,melengkapi sarana upakara.

7.Saniscara Paing Menail,25 Mei 2024 adalah melaksanakan upacara mepiuning atau laporan kepada Pura Pura terkait sekaligus pada Pura yang ada ikatannya nunas tirta kekuluh sebagai tirta pesaksi yadnya seperti Pura Lempuyang Madya sebagai pura Kawitan,yang sebelumnya mepiuning juga di Pr Telaga Mas dan Telaga Sawang,Lanjut ke Silayukti,Munduk Dawa,Pegatepan Dadia Agung,Dasar bhuana dan Dalem Digde. Disamping nunas tirta pada Pura Pura tertentu juga sekalian Ngendek Pemangku,juga sulinggih yang akan dilaksanakan upacara Nilapati pada tanggal 30 berikutnya.Tujuannya adalah untuk memeperlancar acara kalau sudah diagendakan dengan baik.

8.Redite Pon Prangbakat,26 Mei 2024,adalah kegiatan phisik yakni memasang busana dan penjor oleh krama dadia lanang tentu upacaranya diawali dengan persembahyangan dan mesayut,karena akan naik ke pelinggih pelinggih agar tidak jentula/tulah.Alat-alat pendukung upacara juga dipersiapkan sebaik baiknya termasuk pencucian sarana upakara seperti bokor,sangku dll.

9.Soma Wage Prangbakat,27 Mei 2024 kegiatannya adalah menben bakti sekaligus maturan pejati dan nunas tirta pemegat prani di Dukuh untuk pembersihan binatang babi ayam,bebek yang akan dipotong untuk upacara yadnya,sebagai penyupatan. Hari ini ngias pengadeg,mebat jam 13.00 dan setelahnya saye membawa pengolem kepada pemuput yadnya tri manggalaning yadnya Sulinggih dan Pemangku ,Serati serta Klian,juga tetanguran gong dan tambur.

10.Anggara Kasih prangbakat,28 Mei 2024 sebagai acara puncak dari jam 06.00 sudah dimulai mesesapuh dengan caru eko sato abrumbunan untuk membersihkan secara niskala area pura dan prelingga Ida Bhetara hingga Hyang Nama,barulah kemudian ngerangsukang Ida Bhetara ke masing masing tapakan pengadeg di masing masing pelinggih lanjut ngemargiang guru piduka di betara Ibu Kawitan karena tertundanya penauran di Dalem Puri,kemudian sekitar jam 08.00 nedunang Ida Bhetara akan melaksanakan upacara pemelastian ngamet tirta kamandalu dan tirta amerta untuk dianugrahkan kepada penyungsung dan pemedeknya. Prosesi melasti diawali dengan nunas lugra nedunang Ida bhetara lanjut memargi diawali dengan tirta pelukatan,sukarura,tambur,perlengkapan upacara taah pengawin,tombak lelontek,pancapala canangsari,penuntun pengulap pengambyan,Betara Dukuh barulah komplek Betara Kawitan, Betara Ibu Kawitan,komplek Hyang Dewa,Hyang Nama,baru bleganjur dan terakhir iring iringan pengiring. Sesampai di tempat pemlastian dilaksanakan upacara pemendak tirta,mereresik,pecaruan penyapuh,pesucian,ngaturin Ida Bhetara ayaban bakti,Ngayab,muspa,murwa daksina lanjut mewali ke pura. Sampai di Pura kependak di bencingah,Ida Bhetara ngerangsuk busana, kejeroan murwa daksina sebagai simbolis Ida Bhetara tedun dan melinggih di Samuan dan Ibu Kawitan beserta para hyang melinggih di Paruman. Selanjutnya mesanekan katuran rayunan,pangan kinum di Samuan dan Paruman, juga di Hyang Nama. Istirahat sebentar selanjutnya acara puncak berupa Piodalan sekitar jam 10.00.wita yang dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Yoga Semadi. Setelah mulai mepuja dengan mereresik,ngaturang caru,ngaturang ayaban bebangkit beserta dandanan sayut pitu,sayut 5,dan pejati beserta sayut sayut dilengkapi dengan ilen ilen rejang dan pendetan.kalau ada rejang dewa dan baris gede,baru dilanjutkan dengan persembahyangan bersama dengan ngaturang sayut guru piduka. Rangkaian acara puncak Dewa rnam sudah selesai dan sorenya sekitar jam 18.00 dilaksanakan pekenak dan pepintonan serta naur punagi.

11.Hari Rabu Umanis Prangbakat,29 Mei 2024. Acara hari ini adalah Pitra Rnam dengan mengadakan penauran di Pura Dalem Puri Besakih,sekitar pukul 08.30 muspa ngaturang petangi di ibu Kawitan dan Hyang Dewa  akan diiring ke Dalem Puri,sekitar jam 10 mulai melaksanakan penauran dengan bakti bebangkit caru manca sato dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Yoga Semadi dengan prosesi seperti biasa diakhiri dengan ngentas sayut pepegat,setelah meguru piduka,lalu sembahyang kemudian murwa daksinaa,mepamit dan nangkil di Prajapati Dalem Puri,setelah itu lanjut di Tegal Penangsaran ngaturang bakti dan setelah selesai mepamit mantuk ke Dadia,lalu dipendak dengan meobor obor di jaba lanjut melinggih. katuran rayunan,pangan kinum,muspa hingga selesai. Sore hari sekitar jam 18.00 katuran penganyar hingga selesai.

12.Kamis Pahing Prangbakat,30 Mei 2024.hari ini adalah acara Pitra Rnam ke dua yakni upacara nilapati,seperti apa yang diwejangkan oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya jyoti, bahwa Nilapati berasal dari aksara Nila yang artinya kosong dan pati maknanya Raja,mulia nan agung,dengan demikian upacara nilapati adalah upacara penyucian roh menuju tempat sunia yang maha mulia nan agung,tujuannya untuk mencapai moksartam jagatitha ya ca iti dharma,menyatunya atman dengan paramaatman. Upacara ini biasanya dilaksanakan setelah upacara meajar ajar,lalu tangkil ke kawitan masing masing dan akhirnya daksina lingga sebagai pengawak roh diprelina dan abunya dimasukan ke bungkak gading dan dipendem dibelakang pelinggih stana beliau dan bisa juga beliau distanakan di bhetara guru rong tengah. Dewa Pitara konsepnya menuju kosong atau 0(nol) sebagai prelambang sunia,dilinggihkan ditengah karena rong tengah mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari dua rong disebelahnya agar Hyang Pitara menyatu dengan Siwa/Brahman sehingga Hyang Pitara kemudian bergelar Betara Hyang Guru,oleh karena itu beliau tidak bisa atau tidak boleh lagi dipanggil namanya seperti semasih hidup,karena beliau sudah menyatu dengan Brahman.. Dalam lontar Tattwajnana disebutkan bhatara Guru tunggal dengan Sanghyang Siwa dan beliau adalah Brahman,karena manunggalnya Atman dengan Brahman ,sebagai tujuan akhir umat Hindu,yang tujuannya tidak hanya masuk surga tetapi yang lebih penting adalah moksa atau menyatu dengan Sanghyang Tunggal,karena pelaksanaannya sudah lewat dari meajar ajar dan sudah melinggih di pelinggih Hyang Nama,maka prosesinya cukup ngadegang 2 pasang tapakan beserta dampingannya dan tidak menulis nama masing masing yang di abenkan dahulu dan tidak membuat daksina lingga cukup nangkilang saja di pura kawitan masing masing .  Selanjutnya pelaksanaan upacara hari ini mulai dilaksanakan pagi jam 05.00 sudah selesai persiapan penuur,muspa kemudian dengan sarana sayut penuntun,pengulap pengambe lengkap dengan sukarura Ida Bhetara Kawitan ,Hyang Kewalunan,Kerihinan,Hyang Kompyang/Dewa Hyang,Betara Guru Hyang Nama dan Hyang Nama purusa predana (apasang) beserta dedampingannya, memargi keiring oleh pertisentana prenamia menuju Pura Lempuyang Madya sebagai stana Ida Bhetara Kawitan Hyang Gni Jaya. Untuk dipenataran Lempuyang mengadakan piuning apejatian dilaksanakan oleh petugas saye, sedangkan Bhetara Kawitan dan Dewa Hyang langsung menuju Telaga Mas muspa,lanjut ke Telaga Sawang dan terakhir di linggih Ida Bhetara Kawitan di Lempuyang Madya. Sekitar jam 11.00 mepamit dari Lempuyang menuju Padangbai langsung ke linggih Mpu Kuturan,sedangkan piuning dilaksanakan di Segara,Pasraman,Payogan dan Enjungsari oleh petugas yang ditunjuk. Sekitar jam 13.00 sampai di Mundukdawa tangkil di parhyangan Mpu Gana dan Panca Rsi,Sekitar jam 13.00 meluncur menuju Dadia Agung Pegatepan,Lanjut ke Dasar Bhuana dan terakhir di pura Dalem Bugbugan atau Dalem Digde sebagai Dalemnya leluhur kita zaman dahulu semasih di Gelgel. Diperkirakan jam 17.00 selesai di Klungkung,balik meluncur pulang,sekitar jam 18.00 Wita dipoerkirakan sampai di Ibu,dipemedal jaba disambut dengan segeh agung,sayut telu,mebuhubuhu,nasi kambangan,lanjut murwa daksina di linggih masing masing,selanjutnya setelah melinggih katuran bakti soda rayunan di Pesamuan,paruman dan pelinggih Hyang Nama,sekalugus ngaturang upacara Penganyar,dengan rejang dan pependetan,sembahyang,maka acara hari ini selesai.

13.Sukra Pon Gumbreg,31 Mei 2024,Hari ini adalah upacara penyineban dimulai jam 06.00 ngaturin Ida Bhetara jagi mesineb,kemudian nedunang Ida Bhetara terus katuran mesineb di Jaba,tempat pemendakan saat rauh dari melasti dengan aturan dandanan sayut 5 beserta kelengkapannya,usai persembahyangan lalu Ida Bhetara kairing kejeroan mepresawya mengelilingi pelinggih sami sebanyak 3 kali sebagai simbolis mantuk ke kahyangan dan terakhir kembali ke surya dengan bakti ngeluur usai sembahyang prelinggan tapakan ida bhetara kembali ke pelinggih masing-masing,dengan menghadapkan prelinggan ida kedalam,baru kemudian di lebar,artinya rangkaian upacara piodalan sebagai wujud melaksanakan Dewa Rnam dan Pitra Rnam keluarga besar Dadia Ibu Kanginan.

14. Senin Umanis Bala,03 Juni 2024 sekitar jam 15.00 semua keluarga dadia melaksanakan upacara ngetelunin dengan upacara dandanan sayut 5,pengulap pengambian dan penyegjeg serta kelengkapan lainnya dengan tujuan ngaturang suksma karena rangkaian upacara sudah selesai,mensinkronisasi bhuana alit dan bhuana agung,termasuk penyucian Sanghyang Janggama dan Sanghyang Stawana.

Kesimpulannya bahwa yadnya adalah korban suci yang tulus iklas baik kepada Dewa Dewi,Para Bhuta Kala sebagai pembayaran Dewa Rna,Kepada leluhur sebagai wujud pembayaran Pitra Rnam dan kepada para pinandita dan Pandita sebagai wujud pembayaran Rsi Yadnya,karena dari  unsur itulah kita bisa hidup dan melaksanakan kehidupan sebagaimana mestinya. Untuk itu pada kesempatan ini saya mohon maaf karena keterbatasan pengetahuan kami,banyak hal yang masih kurang,namun itulah upaya maksimal kami,kalau ada semeton mempunyai pengetahuan lebih,maka saran sangat diharapkan demi kebaikan kita bersama,ini adalah milik dan tugas kita bersama. Terpenting keiklasan dan ketulusan,doa terbaik adalah diam,dengan diam akan menuju sunia atau kosong,karena kosonglah yang bisa berisi. Demikian dapat disampaikan,semoga adaa manfaatnya,terimakasih (manixs)

Acara saat meajar ajar atau nunas di gua lawah

Ngelinggihang Hyang Nama




Selasa, 23 Januari 2024

RENUNGAN PURNAMA KAWOLU

Prewanining purnama kawolu dimana hari ini adalah Buda Klion Gumbreg,bertepatan dengan kajeng klion penanggal 14 sasih kawulu icaka 1945  Ida Bhetara Mpu Semeru ring Ratu pasek dengan Panca Rsinya ketedunang,bertepatan dengan hari pewatekan Ida Bhetara Kawitan Mpu Semeru di Pura Ratu Pasek Besakih yang dikenal dengan rainan "saba pasek" yang akan dilaksanakan besok hari Purnama Kawolu. Ada yang patut kita renungkan,kenapa rahinan ini di sebut saba pasek,kalau kita lihat makna leksikal dari kata tersebut,saba itu sama dengan parum atau rapat dan pasek konotasinya adalah keturunan Mpu Gni Jaya, saudara tertua dari Panca Rsi. dengan demikian purnama kawolu itu pada zaman dahulu mungkin para leluhur kita Bhetara Kawitan kita, khususnya Panca Rsi mengadakan parum /rapat untuk kemaslahatan warih atau pertisentananya kelak dikemudian hari,sehingga dibuat aturan,tatanan, sehingga menjadi warga dan pertisentana yang beradab melalui besutan Bisama Kawitan sebagai pengikat kita eling ring Kawitan,sehingga hari ini diperingati sebagai Saba Pasek. Bait bait suci bisama kawitan hendaknya perlu kita sikapi dengan menurunkan ego kekinian,betapa hebatnya leluhur kita,sudah dapat meramalkan watak watak pertisentananya di era kekinian,sehingga dibuatlah bisama bisama itu untuk mengikat rasa persatuan dan kekeluargaan,seperti dipertajam dalam syair hymne MGPSSR berikut ini:

HYMNE MGPSSR.

Tunggal Kawitan Pinaka Dasar Utama,Mapidabdab ngiring nunggalang rasa,Tan sida jagi pacang kepalasang,Kaiket rasa Tunggal menyama

Hyang Gni Jaya wangsuh pangiket sarira,Sinareng memargi nuju tetujon utama,Astiti bakti ring betara kawitan,Trah Gni Jaya mangkin mesikian

 Reff:

Laksana segara tan petepi,Damuh Idane samui ngaturang bakti,Eling Bisama kawitan,Sida guyub iraga ring pasemetonan

Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rs,Maka jalaran sareng sareng ngrastiti,Maha Gotra pasek Sanak Sapta Rsi,Nincapang bakti meyasa kerti

Bakti ring Widhi,Eling Bisama Kawitan,Sida Guyub,Iraga ring pasemetonan

Kalau kita telaah syair lagu tersebut,sesungguhnya memiliki makna yang sangat dalam,dimana kita ini khususnya keluarga Dadia Pasek Gelgel Ibu kanginan,kita adalah tungal kawitan sebagai dasar utama dalam bertindak,mari kita satukan rasa sebagai saudara,karena kita tidak mungkin terpisah dari darah kawitan,kalau berani nilar kawitan,nanti akan kena azab,kutuk pastu Bhetara Kawitan,dalam hidup ini kita tidak bisa semaunya,karena merasa hebat,karena pintar orang lain dianggap goblok,karena kaya orang lain dianggap rendah,tak lagi butuh orang lain ,nyapa kadi aku,mari kita sadar dengan rasa bersaudara,turunkan sedikit ego masing-masing agar anak cucu kita tidak berat karena ke-egoan kita,sudah menjadi dewa pitara,kita tidak bisa disatukan di ibu di linggih dewa hyang,gara gara waktu hidup kita musuhan,sing nyak melinggih di ibu karena dulu bertengkar ,susah ketyurunan kita nanti .

Mari kita nunas pewangsuh pengiket sarsira ring Bhetara Kawitan Hyang Gni Jaya untuk mencapai tujuan utama Astiti bakti kepada  Bhetara Kawitan sebagai trah Hyang Gni Jaya agar menjadi satu menuju santi sekala niskala.  bagaikan segara tan petepi tiada tak terbatas,sehingga untuk menyatukan pikiran kita perlu menyembah dan Eling dengan Bisama kawitan,agar kita bisa  guyub bersatu dalam persaudaraan.  Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi khususnya Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan sebagai sarana bersama sama ngrastiti atau memuja leluhur  untuk meningkatkan  bakti meyasa kerti kepada Tuhan/Ida hyang Widhi,ingat melaksanakan  Bisama Kawitan,agar bisa Guyub bersatu dalam wadah keluarga Dadia Ibu.

Semoga Bhetara Kawitan melimpahkan rakhmatnya kepada pertisentana yang eling melaksanakan bisama kawitan dan disadarkan bagi pertisentana yang kualat dengan Bhetara Kawitan,astungkara. (manixs)



Minggu, 17 Desember 2023

SARASWATI DALAM KEBERSAMAAN

 Hari raya  Saraaswati adalah hari yang penting bagi umat hindu, khususnya bagi siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan karena Umat Hindu mempercayai hari Saraswati adalah turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia untuk kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan meningkatkan keberadaban umat manusia. Hari raya Saraswati diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Ujar klian Dadia Ibu Kanginan,Jero Ketut Wana Yasa sekaligus Bendesa Desa Adat Tegenan,lebih lanjut Jero Wana memaparkan apabila menelisik tentang sejarah rahina Saraswati maka tidak terlepas dari cerita Watugunung Runtuh yang dimulai saat jatuhnya wuku Watugunung dalam wariga dewasa yakni pada hari Redite Klion Watugunung,mitosnya ketika Watugunung kalah berperang disorga loka maka mayatnya jatuh kebumi pada hari itu. Permohonannya apabila jatuh di laut maka ijinkanlah cuaca panas agar tubuhnya tidak kedinginan,sebaliknya bila jatuh didarat maka akan turun hujan,begitulah mitosnya,seperti hari ini gerimis turun di hari Saraswati,mungkin juga Watugunung jatuh di darat maka mungkin juga karakter watugunung menyusupi jiwa jiwa manusia apalagi ini tahun pemilu akan kemungkinan akan terjadi berjiwa perang,mengedepankan ego,memfitnah dan menjelekan orang lain ,merasa diri paling hebat dan paling benar,serta unggul itulah karakter Watugunung,tapi akhirnya runtuh juga dan muncul pemenang yang dilindungi semesta ungkapnya

Lebih lanjut disampaikan bahwa mulai wuku Watugunung dan wuku Sinta adalah rangkain hari  yang penuh makna dalam menjalani kehidupan,dimulai dari hari Soma Umanis Candung atau dikenal juga dengan hari Candung Watang, ibaratnya ketika kita dilahirkan oleh ibu tercinta,betapa perjuangan beliau dalam melahirkan kita bagaikan air didaun talas,sedikit bergoyang maka air diatas daun talas itu akan jatuh,demikian juga ketika ibu melahirkan kita,sedikit saja salah maka nyawa akan melayang ibaratnya megantung bok akatih maka hargai dan hormatilah ibu atau orang tua kita,karena sorga ditelapak kaki ibu. Siaapa ibu itu yaitu yang mengadakan kita termasuk leluhur Ida Betara Kawitan, makanya kita harus sadar diri menghormatinya dengan cara sering tangkil ke sini setiap purnama atau rainan disini,ingat bisama kawitan,ih kita pertisentananku yan kita tan menget ring kalinganta,moga kita mungpang laku,sugih gawe kurang pangan,pecengilan ring sanak pekadangan,ila ila dahat ayua kita lupa ring catur parhyangan,ujarakna ring pertisentananta kabeh.Nah begitulah bisama beliau,karena itu mari dari sini kita ngayeng catur parhyangan agar kita tidak kena kutuk pastu. 

Kemudian pada hari anggara Pahing Watugunung disebut Paid-Paidan artinya ketika kita dilahirkan sebelum bisa berjalan pasti mengalami proses merangkak atau mepaid-paidan,mulai belajar dituntun orang tua,dipelihara orang tua sehingga nantinya kita bisa berdiri dan memulai kehidupan baru di semesta ini.

Buda Pon Watugunung disebut Urip Kelatas,setelah kita bisa berdiri,sedikit demi sedikit,selangkah demi langkah mulai maju berproses menjalani kehidupan,menuju masa depan sesuai usaha dan karma kita kedepannya.

Raspati Wage Watugunung disebut Penegtegan,disinilah kita mulai mengenal jati diri mulai bisa berkomunikasi dengan tetangga dan lingkungan sekitar,mulai mengenal orang lain selain keluarga menetapkan/negtegang jiwa jiwa kemanusiaan,bertumbuh sebagai manusia dengan menggunakan wiweka.

Sukra Klion disebut Pengredanaan,disini orang tua mendoakan dan membimbing bahwa kita akan dilepas untuk diberikan tanggungjawab mendidik kepada orang lain khususnya guru pengajian untuk lebih berkembang dan berkolaborasi dengan insan insan lainnya sesama manusia.

Sabtu Umanis Watugunung dikenal hari Saraswati  yang artinya Tuhan menurunkan Ilmu Pengetahuan sehingga manusia dianugrahkan keistimewaan dalam Tri Premana jika dibandingkan dengan makluk lain, karena kita dikaruniai kelebihan yang berupa idep dan idep inilah yang membedakan dan dapat menguasai makluk makluk lainnya. Kalau dalam kehidupan kita sudah mulai masuk sekolah dan diajarkan pengetahuan baru oleh guru guru kita sehingga pengetahuan hidup kita semakin luas dan mulai mengenal proses kehidupan.

Minggu Pahing Wuku Sinta dikenal dengan hari Banyu Pinaweruh/Banyu Pinaruh artinya apabila kita sudah melalui proses pendidikan dan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang luas, sehingga kecerdasan kita semakin mengalir seperti air (Banyu pinaruh) dengan sendirinya kita akan mempunyai posisi tertentu dalam kehidupan bermasyarakat karena punya kompetensi sehingga mudah mencari pekerjaan dan bahkan bisa menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat banyak.

Soma Pon Sinta disebut Soma Ribek merupakan hari yang penuh berkah pada umumnya hari ini mengupacarai harta benda khususnya uang.Artinya apabila kita sudah mempunyai kompetensi bisa mengelola hidup dan kehidupan tentu akan memiliki harta yang banyak karena berkah pengetahuan itu.

Anggara Wage Sinta disebut hari Sabuh Emas mengandung makna kemuliaan,karena orang yang dianugrahi Dewi Saraswati adalah orang pilihan karena dianugrahi kemuliaan,apakah kemuliaan karena jabatan,karena kebajikan,karena kedarmawanan dan sebagainya.

Terakhir Buda Klion Sinta disebut Pagerwesi atau Pagar dari besi artinya setelah memiliki kemakmuran dan kemuliaan jagalah semua itu dengan kuat dan kokoh sebagai anugrah dan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa khususnya Dewi Saraswati. Denngan demikian kehidupan kita akan berkah dan mendapatkan kemuliaan dan keberlimpahan.,Pungkas Jero Klian.

Demikian penting Pilosofi pelaksanaan  hari Saraswati mestinya bisa kita menyikapi dan mengimplementasikan dalam kehidupan nyata sehingga bisa membentuk karakter mulia sesuai ajaran dharma,kalau semua bisa melaksanakan,maka dunia akan tentram,damai sejahtra.astungkara cetus Jero Ketut Wana Yasa dalam bincang ringannya dengan Mk Adisuana disela sela persembahyangan Saraswati di Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan kemaren.Mk Adisuana juga menambahkan bahwa dengan persembahyangan secara bersama-sama di Pura Dadia akan menumbuhkan kesadaran persaudaraan dan eling dengan swadarma memuja leluhur,karena beliaulah kita ada,maka kita patut merasa bersyukur dan menaruh hormat dengan leluhur dengan cara sadar tangkil ke pura dadia ngaturang sembah bakti,marilah secara bersama-sama tumbuhkan kesadaran diri kita bersaudara satu rah leluhur,kesampingkan ego biar mengalir dan keberlimpahan,ujarnya. Semeton yang sadar hadir  menunggu sedikit lama karena jero mangku masih sibuk ngayah di tempat lain dan yang duanya dalam kondisi kurang sehat,sehingga terpaksa menunggu pemangku untuk ngayah ngaturang bakti,sabar ya ujar jero mangku sambil tergopoh gopoh menuju tempat pemujaan Saraswati.(manixs)

Pemangku dalam rangka ngaturang bakti pekeling odalan Saraswati

Sebagian krama dadia yang hadir dalam acara Saraswati

                            Menunggu pemangku belum datang dengan sabar karena pemangku 
                                          yang akan ngayah ngaturang pekeling belum hadir.

Kamis, 07 Desember 2023

DANA PUNIA/SEDEKAH MANUT AGAMA HINDU

 Suksman Dana Punia

Dana punia manut Hindu wantah sinalih tunggil ajaran hindu sane patut telebang pinaka aturan sane becik lan suci majeng ring Sanghyang Widhi pinaka sinalih tunggil ngemargiang ajaran dharma. Lengkara Dana punia, mawit saking kruna dana sane meartos aturan lan punia meartos , becik, bagia, alus lan suci. Dana punia pinaka sarana angge nincapang sradha lan bhaktin iraga majeng Ida Sanghyang Widi Wasa, sios ring punika dana punia prasida nincapang mana heling lan wirang ring sesama.

2.     Dasar  Medana Punia

a.   Tattawa

Dasar ajaran dana punia wantah ajaran Tattvam Asi sane meartos tityang wantah jerone,jerone wantah tityang iraga sareng sami pateh,elingang Vasudeva kutumbaka,. Iraga sareng sami wantah mesemeton,antuk punika sepatuta saling tulung tinuilung pantaraning sarwa mahurip.

b.     Munggah ring Sastra

ü  Manawadharmasastra

Menawa Dharmasastra wantah kitab hukum hindu muat indik dana punia kadi puniki:

” caktito’pacamanebhyo data-wyam grha medhina,

samwaibhagasca bhutebhyah kartawyo’nuparodhatah ”

Artosipun:

“Yening penua ring kulawarga(kepala Keluarga) sepatutne presida ngicenin ajeng-ajengan sarwa mahurip,sida mepaica ajengan ring sang ane nenten presida nyakan”. (Manawadharmasastra IV.32).

 

” triswapye tesu dattam hi widhina apyarjitam dhanam,

datur bhawatyan arthaya paratra daturewa ca ”

artosipun :

“Yadiastun arta brana punika kapikolihang sangkaning swadarma becik,nanging yening nenten kepuniaang ring sang patut,arta punika jagi kelem ke kawah neraka”. (Manawadharmasastra IV. 193).

 

” sraddhayestam ca purtam ca nityam kuryada tandritah,

craddhakrite hyaksaye te bhawatah swagatairdhanaih ”

Artosipun :

“Sampunang surud surud medana punia punika taler ngaturang banten majeng ida Bhetara.Mikolihang arta brana antuk pemargi sane becik,puniang raris,pemargine punika jagi molihang genah sane becik (Moksa)”. (Manawadharmasastra IV.226).

 

” yatkimcidapi data wyam yacitenanasuyaya,

utpatsyate hi tatpatram yattarayati sarwatah ”

Artosipun :

”Prade wenten anak nunas,sepatutnyane icen ipun yadiastun akidik,antuk manah lascaria, dwaning sane nerima sampun patut nerima,nika pacang presida ngelebur sehananing dosan sang micayang”.(Manawadharmasastra IV.228).

 

” waridastriptimapnoti sukha maksayyamannadah,

tila pradah prajamistam dipadascaksur uttamam ”

artosipun :

“dane sane mepunia toya pacing kepaica kepuasan, sane mepunia ajengan jagi mangguhang pahala kenikmatan, sane mepunia biji bijian jagi polih pertisentana, lan sane mepunia kewikanan jagi mangguh kasidian”. (Manawadharmasastra IV. 229).

 

” bhumido bhumimapnoti dirgam ayurhiranyadah,

grihado’gryani wesmani rupyado rupam uttamam ”

artosipun :

“Sane mepunia tanah jagi mangguh genah sane becik, mepunia emas jagi Panjang Yusa,sane mepunia jero/umah jagi mangguh anugrah agung, sane mepunia perak jagi mangguh keliangan”. (Manawadharmasastra IV. 230).

 

” wasodascandrasalokyam aswisalokyamaswadah,

anaduddah sriyam pustam godo bradhnasya wistapam ”

Artosipun :

“sane mpunia busana jagi mangguh kerahayuan ring jagat sekala niskala,Sane mepunia jaran jagi polih linggih kadi Dewa Asvina, mepunia kebo jagi kepaica keagetan lan sane mepunia lembu jagi kepaica suryaloka (Sorga)”. (Manawadharmasastra IV. 231).

 

” yena yena tu bhawena yadyaddanam prayacchati,

tattattenaiwa bhawena prapnoti pratipujitah ”

Artosnyane :

“Napi ja pikayunan jagi kepuniyang pastika jagi mangguh kesukertan kapungkur wekas”. (Manawadharmasastra IV. 234).

 

” yo’rcitam pratigrihnati dadatyarcitamewa ca,

tawubhau gacchatah swargam narakam tu wiparyaye ”

artosnyane :

“dane sane Nerima punia antuk rasa Syukur,dane sane lascarya maicayang,kekalihne jagi mangguh sorga, nanging sane Nerima lan sane micayang nenten tulus,kekalihne jagi ke neraka”. (Manawadharmasastra IV. 235).

 

ü  Sarasamucaya

 

Indik dana punia ring Sarasamuscaya kebaos kadi asapuniki :

 

“ na mata na pita kincit kasyacit pratipadyate,

danapathyodano jantuh svakarmaphalamacnute “

artosipun :

“Sang sapasira ugi sane mepaica dana punia,ipun sujatine sane jagi molihang jkarmanipun,mangguh rahayu,dirgayusa”. (Sarasamuccaya 169).

 

” danena bhogi bhavati medhavi vrddhasevaya,

ahinsaya ca dirghayuriti prahurmanisinah ”

Artosipun :

“prade ngicen dana punia akeh pacing kapica suka tanpaawali dukkha ,punika taler yasa kerti ayah ayah ring rerama pacing mikolihang kerahayuan,yenining nenten memati mati pacing mangguh Panjang yusa,asapunika panikan Ida Bhetara Sinuhun”. (Sarasamuccaya 171).

 

” dhanani jivitam caica pararthe prajna ut srajet,

sannimittam varam tyago vinace niyate sati ”

artosipun :

Yening agung adnyane,nenten kekeh ring arta brana,urip taler katur,yen sampun pacing nincapang sukertan krama;dawning dane uning urip nenten ja selamine; nike mawinen dane lascaria pati urip yen sampun nitenin krama.

 

” yasya pradanavandhyani dhananyayanti yanti ca,

sa lohakarabhastreva cvannapi na jivati ”

artosnyane :

“arta brana punika wantah titipan,lunga ngerauhin,yening nenten anggen medana punia, padem wastane,meangkyan binanipun, mekadi puputan pande besi”. (Sarasamuccaya 179).

 

 3.Soroh-soroh Dana Punia

Dana punia nentenja marupa arta brana kemanten,nanging laksana pikayun naler dados kepuniaang nanging mangda medasar tulus ikhlas. Manut dane Swami Wiwekananda wenten tetiga pepalihan dana punia,minekadi :

v  Dharmadana : Mesesana budi pekerti sane becik ngemargiang ajaran dharma.

v  Widyadana   : Mepunia kewikanan/ilmu pengetahuan/ niki sane utama.

v  Arthadana    :  Mepunia arta brana sane kebuatang, medasar lascaria lan ngemolihang antuk pemargin dharma.

Manut buku pedoman sederhana pelaksanaan agama Hindu dalam masa pembangunan ( 1986:136-137 ), kebaosang :

a.     Brahmadana : micayang ajah ajah ring anak sios utamanipun ajah ajah agama.

b.     Abdhanyadana : nyelametang sang kebyahparan pati utawi mebela pati.

c.     Atidana : lascaria micayang istri,pyanak yen sampun mebela pati ring panagara utawi agama

d.     Mahtidana : micayang/donor ginjal,darah miwah sane siosan nyelametang sangyang atma ( atmahuti ),( Triguna, I.B.G.Yudha.2011.68 ).

 

4.Galah Becik Medana Punia

Ring kitab  Sarasamuccaya kebaos :

” ayanesu ca yaddattam sadacitimukhesu ca,

candrasuryoparage ca visuve ca tadaksayam ”( Sarasamuccaya 183 )

Artosipun :

Niki galah sane becik medana punia;

a)  Uttarayana : rikala surya mentas ring kaletr katulistiwa,(utamine purnama lan tilem)

b)  Wisuwakala : kalaning sanghyang surya nepek ring khatulistiwa,(purnama lan tilem)

c)  Daksinayana : rikala sanghyang surya delod khatulistiwa,(purnama lan tilem)

d) rikala surya lan wulan caplok kala rau/gerhana.Taler rikala Ida Bhetara nyejer

 

5.Dana Punia manut Ajaran Bhagawadgita

” datavyam iti yad danam diyate ’nupakarine

dese kale ca patre ca tad danam sattvikam smrtam ”( Bhagawadgita XVII.20 )

artinya :

Medana punia nenten metetujon mikolihang hasil,maka serada pinaka swadarma manut genah,kala lan sang sane patut nerima,nika kebaos sattvika.

Yening Tegesang,micayang Dana Punia punika kedasarin antuk manah lascaria/tulus iklas, nenten pamer,kapikolihang antuk dharma lan kepaica ring sang sane patut,genah lan galah sane patut nika kebaos sattvika. Minekadi conto :

a.     Ngicen jinah ring sang lara sane yakti yakti lara tiwas.

b.     Medana punia ring pura nenten sangkaning jorjoran,pamer mangda kesumbungang

c.     Medana punia ring pemangku,sulinggih pinaka Rsi Yadnya.  

” yat tu pratyupakarartham phalam uddisya va punah,

diyate ca pariklistam tad danam rajasam smrtam”( Bhagawadgita XVII.21 )

artosipun :

Dana punia sane keaturang matetujon mangda polih keuntungan kapungkur wekas,napimalih antuk manah tan becik,pamer, punia sapunika mewastanin punia rajasik.conto ipun minekadi :

ü  Ngaturang dana punia ke pura paling ageng,mangda kekantenang ngangobin.

ü  Ngicen jinah ring anak tiwas mangda kesumbungang/dihormati / disegani.

.

” adesa-kale yad danam apatrebhyas ca diyate,

asat-krtam avajnatam tat tamasam udahrtam”( Bhagawadgita XVII.22 )

artosipun :

mepunia ring galah genah lan sane nenten patut Nerima ,naler  medasar irihari duleg beranti nika kewastanin tamasik .

conto :

v  Ngicenin pengemis jinah antuk nyamparang ketanah,saha akedik padahal anak sugih.

v  Medana punia ke pura antuk hasil korupsi,utawi pekaryan sane adharma

Pamuput;

Dana punia punika patut pisan kelaksanayang ring sang sane patut nerima,minekadi anak tiwas nektek,anak sungkan,ring pura rikala meyadnya utawi ngewangun,rikala ketiben baya kebyahparan ,ring pemangku lan sulinggih pinaka Rsi yadnya. Miwah sane tiosan,nika jagi mikolihang kasukertan kedirgayusan ring kahuripan nanging sane medasar punia satwika.

Manixs,medio 081223

Mepunia ring Pura

Rsi Bojana,punia ring sulinggih

ring pura pura perlu wenten kotak dana punia
angge ngewantu yadnya utawi pewangunan ring Pura inucap


  

Senin, 04 Desember 2023

INSPIRASI ANGGARA KASIH DUKUT

 Hari ini anggarakasih Dukut,panglong pangkutus sasih kenem icaka 1945 atau tanggal 5 Desember 2023, siang ini diatas meja ketua Koperasi Mekar Sari,otak terasa mekar ingat akan jasa leluhur betara kawitan, karena Beliaulah kita ada,dari leluhur-leluhur kita itulah,kita ada terlahir ke bumi ini, bumi yang penuh drama kehidupan. Itulah realita hidup,kita berjuang untuk bisa hidup masing-masing tetapi jangan lupa kepada yang meng-ada hingga kita ada dan berada didunia ini. Karena kebesaran itulah hari ini saya terinspirasi untuk mewujudkan sebuah lambang,lambang keutuhan dan kekuatan energi betara kawitan. karena melalui sabda bisama Beliau kita terikat oleh hukum alam untuk menebus karma lahir kita dengan berbuat dan berkarma baik pada leluhur, salah satu bisamanya menyebutkan, yan kita tan menget maring hyang kawitan kamimitan,lupa ring kalinganta mewastu kita sugih gawe kurang pangan,pecengilan ring sanak pekadaangan,tan mangguh sukerta, ayua kita lupa,ila-ila dahat,warahakna maring sanak putu pertisentananta kabeh...

Untuk itu mari kita berkarma pada leluhur apapun yang bisa kita persembahkan kepadaNya,seperti inspirasi membuat logo keluarga sebagai berikut:

 
Makna Logo:
1.Delapan helai kelopak bunga padma/lotus pilosofinya adalah bunga padma bisa hidup di 3 dunia,di air ditanah dan bunganya di udara sedangkan jumlahnya 8(padma bhuana) melambangkan arah mata angin maka harapannya agar warih betara kawitan dadia ibu kanginan bisa berada di segala penjuru dan bisa hidup dimanapun berdasarkan kompetensinya.
2.Tri datu warna lingkaran melambangkan tri murti yang artinya sejak kita lahir(merah) hidup(hitam) dan kembali kepadaNya/mati(warna Putih) secara berkesinambungan kita adalah keluarga satu warih betara kawitan ,maka jalinlah persaudaraan berdasarkan ajaran tatwamasi.
3.Meru tumpang 7 dan garis-garis bersinar kuning adalah simbul Betara Kawitan melimpahkan rahmat kepada pertisentanaNya.
4Tulisan Dadia Ibu Pasek Gelgel Pegatepan,ibu kanginan adalah identitas resmi leluhur kita dari Pegatepan Klungkung sebagai bukti kita nyungsung Dalem Digde/Dalem Bugbugan itu artinya kita asli dari Gelgel pegatepan.

KESIMPULANNYA
Wahai pertisentanaKu semua Kuanugrahkan sinar suciKu kepadaa kalian semua berdasarkan karmamu, semoga kalian bisa menguasai 8 penjuru dunia dan dimanapun kalian bisa berada,ingatlah kalian warihKu dari lahir,Hidup dan matimu akan bersamaKu disini,bersama kalian semua,sampaikanlah pada keturunanmu secara berkesinambungan bahwa kalian adalah saudara,tanamkan ajaran tatwamasi dan ingat Wasudeva Kutumbaka, Hidupkalian tergantung karmamu wahai keturunanku perstisentana Dadia Pasek Gelgel Pegatepan Ibu Kanginan,Desa Adat Tegenan,Kecamatan Rendang,Karangasem. jangan lupa pada leluhurmu,ingat sabda BhisamaKu.(manixs)


Minggu, 03 Desember 2023

JENIS PEMANGKU DI BALI

Menurut Lontar Raja Purana Gama. Ekajati yang tergolong pamangku dibedakan jenisnya, sesuai dengan tempat dan kedudukannya, dimana beliau ini melaksanakan tugasnya, yaitu:

1.      Pamangku Kahyangan (Pemangku Kusuma Dewa) Pamangku Kahyangan adalah Pamangku yang bertugas pada Kahyangan yang meliputi Kahyangan Tiga, Kahyangan Jagat maupun Sad Kahyangan. Masing-masing pura ini memiliki seorang atau lebih Pamangku pemucuk dan mengemban tugas dan bertanggung jawab terhadap segala kegiatan pada pura yang, diemongnya.Selain itu memahami tentang keberadaan pura serta upacara dan upakara yang semestinya dilaksanakan.Pemangku tersebut sering juga disebut Mangku Gde/Mangku Pemucuk. Seperti Pemangku Desa, Dalem, Puseh serta sesungsungan desa lainnya, Kahyangan Jagat serta. Dangkahyangan.

2.      Pamangku Pamongomong (Pembantu Pemangku Kusuma Dewa) Pamangku Pamongmomg juga disebut dengan sebutan Jro Bayan, atau dengan sebutan Mangku alit, yang memiliki tugas sebagai pebantu dari Pemangku Gde di suatu pura, yang sering juga disebut Pamangku alit, dengan tugas pokok mengatur tata pelaksanaan dan jalannya upacara, dan hal-hal lainnya sesuai dengan perintah Pemangku Gde.

3.     Pamangku Jan Banggul Pamangku Jan Banggul juga disebut dengan sebutan Jro Bahu, disebut juga Pamangku alit, yang bertugas sebagai pembantu Pemangku Gde, dalarn menghaturkan atau ngunggahang bebanten, menurunkan arca pratima, memasang bhusana pada pelingih, nyiratan wangsuh pada dan memberikan bija kepada umat yang sembahyang, serta hal-hal lainnya sesuai dengan perintah / waranuggraha Pemangku Gde pada pura tersebut.

4.    Pamangku Cungkub Pamangku Cungkub yaitu: Pamangku yang bertugas di Mrajan Gde yang memiliki jumlah Palinggih sebanyak sepuluh buah atau lebih.

5.    Pamangku Nilarta Pamangku Nilarta adalah Pamangku yang bertugas pada pura yang berstatus sebagai pura Kawitan atau pura Kawitan dari keluarga tertentu.

6.   Pamangku Pandita Pamangku Pandita memiliki tugas muput yadnva seperti Pandita. Adanya Pemangku jenis ini didasarkan atas adanya tradisi atau purana pada daerah tertentu yang tidak diperkenankan menggunakan pemuput Pandita. Sehingga segala tugas, menyangkut pelaksanaan Panca Yadnya diselesaikan oleh pemangku tersebut, dengan mohon tirtha pamuput dengan jalan nyelumbung.

7.   Pamangku Bhujangga Pamangku Bhujangga adalah pamangku yang bertugas pada pura yang berstatus sebagai paibon.

8.      Pamangku Balian Pamangku ini hanya bertugas melaksanakan swadharma Balian, dapat nganteb upacara atau upakara hanya yang berhubungan pengobatan terhadap pasiennya.

9.   Pamangku Dalang Pamangku yang melaksanakan swadharma sebagai Dalang, dapat nganteb upacara atau upakara yang hanya berhubungan dengan swadharma Pedalangannya saja, seperti mabayuh pawetonan atau Nyapuh Leger.

10. Pamangku Tapakan / lancuban Pamangku ini hanya bertugas apabila pada suatu pura melaksanakan kegiatan nyanjan atau nedunan Bhatara nunas bawos, untuk kepentingan pura tersebut untuk, memohon petunjuk, dari dunia niskala.

11.  Pamangku Tukang Pamangku ini juga disebut Pamangku Undagi, pamangku yang paham akan ajaran Wiswakarma serta segala pekerjaan tukang, seperti Undagi, Sangging, Pande dan sejenisnya, dapat nganteb upacara atau upakara hanya sebatas yang berhubungan dengan tugas beliau sebagai tukang.

12. Pamangku Sang Kulputih Pamangku Sang Kulputih swadharmanya sebagai pemangku yang memakai gagelaran Sang Kulputih dalam pemujaannya.

13.   Pamangku Sang Kulpine Pamangku yang memakai gagelaran Sang Kulputih dan Kusuma Dewa dalam swadharmanya sebagai pembantu Pamangku Sang Kulputih.

14.   Pamangku Kortenu, Pamangku Kortenu adalah Pemangku yang bertugas di Pura Prajapati, selain nganteb di Pura yang di emongnya, juga dapat nganteb upacara yang berhubungan dengan Pitra Yadnya, seperti Ngulapin Pitra pada saat akan melaksanakan upacara Atiwa-tiwa dan lain sebagainya. (*manixs)