Senin, 22 Juli 2024

NGABEN PROSESI PULANG PADA ALAM KEABADIAN

Pemangku Pura Dalem Putra Desa Adat Tegenan,sekaligus pemangku Dukuh Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan, Jero Mangku Ketut Kania (82), pada hari Kamis Umanis wuku Sinta,penanggal 13 sasih Kasa icaka 1946 tanggal 18 Juli 2024,menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 17.28 Wita di rumahnya. Saat kejadian sempat dibawa ke Puskesmas Rendang di Menanga,namun jiwanya tak tertolong. Memang dua bulan sebelumnya beliau sempat dirawat di rumah sakit Umum Klungkung karena radang persendian sehingga tidak bisa berjalan normal. Pembangkakan yang cukup serius di lutut didiagnosa peradangan akut,lambung serta syaraf sedikit bermasalah,sehingga tiap minggu menjalani pishio terafi. Kesehatannya berangsur membaik,bahkan kemarin sempat kerumah dalam melaksnakan piodalan di kemulan,ujar Made Kariana anak keduanya. Hal tersebut diperkuat oleh Mk.Manik, mengatakan bahwa dirinya sempat berbincang sekitar 1 jam sebelum melaksanakan upacara piodalan,dengan santai almarhum berbincang,bahkan beliau sempat meminta saya untuk ikut sembahyang di Pura Dalem dihari purnama ini dan ia minta supaya disediakan tempat duduk kursi karena belum bisa bersila dan hal itu saya sanggupi untuk mengantar sembahyang,namun nasib bercerita lain, yah mungkin sedemikian pengabdiannya di dunia ini,ujar Mk.Manik disela sela pengabenan kemarin.

Setelah 3 hari kematiannya,dilaksanakan upacara pengabenan,karena beliau adalah pemangku kahyangan tiga khususnya di Pura Dalem Putra sejak tahun 2018 silam. pelaksanaan upacara diambil madya hanya sampai tingkat pengabenan yang dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Yoga Semadi dari Gria Pucaksari Pesaban. Klian Banjar Adat Tegenan Kelod sekaligus klian Pura Dalem I Wayan Suiji mengkordinasikan kegiatan ini karena krama banjar adat Tegenan kelod mempunyai kewajiban terhadap upacara ini,sehingga sesuai ketentuan krama banjar aktif dikenakan iuran pengabenan sebesar Rp.150.000,- /KK ,sedangkan krama banjar penyada dikenakan urunan Rp.100.000,Desa Adat memberikan bantuan punia sebesar Rp.2.500.000,-. Dana tersebut digunakan untuk membeli banten Ngaskara,narpana,meras cucu,pengabenan dan penganyutan di gria Pucaksari Pesaban,banten piuning dan keperluan upakara yadnya dibuat oleh krama Banjar Adat Tegenan Kelod dan didukung oleh warga dadia ibu kanginan sebagai tuan rumah,sedangkan wadah dan penganyutan dibeli di Banjarangkan seharga Rp.6.000.000,-

Pada hari sabtu 20 Juli 2024 jam 07.00 krama Banjar Adat Tegenan Kaja bertugas Ngeruak dipimpin oleh klian I Km Jana,dan upacaranya oleh Jero Suryadarma dengan dimulai mepiuning dari margi catur,tulaktanggul,margi 3 dan tengah cetra dengan banten encetan beserta kelengkapannya serta rajapati,sedangkan kemarinnya dilaksanakan mepiuning di Kahyangan Tiga,Kahyangan Desa,Pura Swagina dan Pura Dadia beserta Ibu Kawitan. Juga dilaksanakan Nunas tirta kahyangan,tirta Dukuh dan Tirta Tunggang di Besakih.

Minggu Wage  wuku Landep,panglong 1(apisan)  sasih Kasa icaka 1946 tanggal 21 Juli 2024 mulai pagi pukul 7.30 dilaksanakan upacara Nangiang dan ngembak lawang dimulai dari Pura Dalem Putra dipimpin oleh Jero Dalang Sujata,lanjut ke Pura Prajapati dengan bakti dandanan sayut 5 pebangkit tos beserta kelengkapannya di pimpin Jero Surya Darma,dilanjutkan ke tengah setra,kemudian ke Margi tiga,juga dilaksanakan upacara ngening dengan nunas tirta di Uma Kolong sebagai simbul ngayehang sekah  dan lanjut ke Margi Catur ngungkab/ngembak lawang dengan bakti dandanan dan sayut pengembak lawang. Pada saat bersamaan juga dilaksanakan pemlaspasan wadah oleh Jero Dalang Sujata, selesai sekitar jam 10 pulang kerumah duka dipendak seperti biasa, Jemek sebagai simbul sanghyang atma,kemudian ditempatkan di Bale yadnya,banten Pengulap,Penuntun dan ganjaran. Baru kemudian dilaksana acara mersihin sawa dan ngereka yang dipinmpin oleh Jero W.Suparta,pelima Desa Adat Tegenan. Usai memandikan dan ngereka maka mayat dimasukan kepeti selanjutnya diadakan upacara Ngaskara,lanjut narpana dan pemerasan yang dipimpin oleh Ida pandita Mpu Dharma Yoga Semadi. Sekitar 2jam 15 menit upacara selesai kemudian wadah berangkat sekitar pukul 15.05 menit. sampai di setra upacara pengabenan sekitar 2 jam dan akhirnya pukul 17.15 dilaksanakan acara nganyut ke uma kolong dipimpin Jero Surya Dharma. terakhir sekitar pukul 18.18 dilaksanakan upacara mekala mijian dwngan banten pejati dan caru ekosato di rumah duka yang dipimpin Mk.Manik Puspa Yoga,dengan demikian selesailah paket acara pengabenan dan akan dilanjutkan dengan bakti penyapuh dipura pura tempat ngaturang piuning sebelum ngaben sebagai wujud syukur dan laporan bahwa upacara sudah berjalan lancar. Semoga dengan dilaksanakan pengabenan,beliau mendapat tempat dan amor ing acintya Pulang pada Alam Keabadian, sesuai dengan amal perbuatannya,terimakasih kepada krama sami ,khususnya pada ibu ibu Dharma Patni,Serati,Pecalang,Paiketan Pemangku,Jero Bendesa ,Jero Pelima dan jero Klian banjar Adat Tegenan kaler Kelod,yang telah mendukung yadnya tiyang niki,ujar I Wayan Sulaba Yasa,SP salah seorang ponakan almarhum(manixs).


Sosok almarhum Jero Mangku Ketut Kania di usia 82 tahun

Prosesi pengabenan Jero Mangku Kt.Kania,Minggu 21 juli 2024





Sabtu, 01 Juni 2024

MEPENAURAN DI DALEM PURI

Mepenauran adalah sebuah acara persembahan atau pembayaran hutang melalui yadnya/banten  orang yang sudah meninggal atau sudah menjadi Dewa Hyang pada pura tertentu disebabkan kena hukuman oleh para dewa yang berwenang,karena semasa hidupnya melakukan kesalahan sehingga dihukum atau dipasung pada tempat tertentu. Untuk melepaskan hukuman itu perlu diadakan penauran/pembayaran yang dilakukan oleh pertisentananya ,sehingga roh leluhur itu terbebas dari hukuman. Sehubungan dengan hal tersebut Klian Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Jero Ketut Wana Yasa mengatakan,bahwa anggota dadia ibu banyak mendapat petunjuk ketika menunasan bahwa leluhur leluhur dadia ibu ada yang meayaban kena hukuman metegul meblagbag di Dalem Puri,namun tidak mendapat penanganan oleh keluarga yang bersangkutan dan karena beliau sudah melinggih di dadia,maka mau tak mau menjadi kewajiban bersama,dengan harapan dengan dilaksanakannya upacara ini kepanesan leluhur dapat dikurangi maka kerahayuan dadia semakin meningkat.Beryadnya kepada leluhur adalah karma mulia dan mereka yang tidak melakukan yadnya sebagai kewajiban kepada leluhurnya,maka leluhur tidak akan menganugrahkan kemakmuran dan kerahayuan. Untuk itu yadnya ini sangat penting dilakukan. Dan hari ini Buda Manis Prangbakat,29 Mei 2024 jam 10.00 kita lakukan penauran itu disini di Dalem Puri dengan banten bebangkit, caru manca sato dipuput oleh Ida pandita Mpu Dharma Yoga Semadi gria Pucaksari,Pesaban,sedangkan di Prajapati dan Tegal Penangsaran baktinya dandanan sayut 7 meguling bebek. Usai ngaturang bakti dilaksanakan persembahyangan.Ketika Ida Hyang Murwa daksina terjadi jeritan dari Mk.Warsi yang dari ibu sudah kelinggihan,sedangkan yang dirasuki oleh Dewa Hyang yang dibayari /ketaurin hari ini adalah  Ni Made Pandi sambil menangis yang mengatakan bahwa dirinya sangat sakit dan menderita di-blagbag di pura ini karena semasa hidupnya pernah melakukan kesalahan,bersyukur bahwa hari ini dibayar utangnya dan atas pembayaran ini, beliau merasa priutangan dengan pertisentana semua keluarga dadia ibu, karena sudah naurin utangnya. Usai murwa daksina di Jeroan dilanjutkan di Prajapati,di pohon beringin Made Pandi lebih histeris menangis karena ditempat inilah beliau di-blagbag dan meminta tolong untuk dilepaskan. Sedangkan Mk.Warsi dengan menunjuk nunjuk serati bibi Tresna agar ngayah dengan baik,Tresna mengatakan bahwa dirinya sudah ngayah dengan iklas dan baik baik bahkan sejak ngenteg linggihpun ia dengan iklas melakukannya. Acara selanjutnya dilakukan di Tegal penangsaran dan kembali ke pura sekitar jam 13.00 dipendak di pemedal pura,kemudian murwa daksina di paruman dan melinggih(manixs).

Hari Rabu Umanis Prangbakat,29 Mei 2024. Acara hari ini adalah Pitra Rnam dengan mengadakan penauran di Pura Dalem Puri Besakih,sekitar pukul 08.30 muspa ngaturang petangi di ibu Kawitan dan Hyang Dewa  akan diiring ke Dalem Puri,sekitar jam 10 mulai melaksanakan penauran dengan bakti bebangkit caru manca sato dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Yoga Semadi dengan prosesi seperti biasa diakhiri dengan ngentas sayut pepegat,setelah meguru piduka,lalu sembahyang kemudian murwa daksinaa,mepamit dan nangkil di Prajapati Dalem Puri,setelah itu lanjut di Tegal Penangsaran ngaturang bakti dan setelah selesai mepamit mantuk ke Dadia,lalu dipendak dengan meobor obor di jaba lanjut melinggih. katuran rayunan,pangan kinum,muspa hingga selesai. Sore hari sekitar jam 18.00 katuran penganyar hingga selesai.
 
Saat mepenauran di Dalem Puri

Koordinator seke gong remaja (I Wayan Rama)ngayah bleganjur

 
Ni Made Pandi saat kelinggihan

 
Mk.Warsi  kelinggihan saat membrefing klian dadia dan serati

DADIA PASEK GELGEL IBU KANGINAN GELAR PIODALAN

Keluarga Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Desa Adat Tegenan,Selasa,28 Mei 2024 kemarin menggelar piodalan di Pura setempat yang dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Yoga Semadi gria Pucaksari Pesaban yang sehari sebelumnya dilaksanakan acara meebat dari pagi hingga siang. Klian Dadia Jero Ketut Wana Yasa mengatakan rangkaian acara piodalan dimulai pukul 06.00 pagi diawali dengan melaksanakan upacara mesesapuh sarana banten dandanan sayut lima dan pecaruan satu ekor ayam brumbun dan dimasing masing pelinggih yang diadegang dilengkapi dengan masing masing banten pejati,sedangkan di Dukuh mulai distanakan di pewedan Ida Bhetara Dukuh. Usai ngaturang penyapuh dilanjutkan dengan nuur Ida Bhetara Sesuhunan,Bhetara Kawitan,Hyang Kewalunan,Kerihinan,Hyang Dewa atau Hyang Kompyang dan Hyang Nama beserta Bhetara Gurunya untuk dilaksanakan pemelastian di Tegal Suci dengan banten dandanan sayut 5,caru abrumbunan dan beberapa pejati dihaturkan di pura sekitar dengan nunas tirta di Klebutan grobogan sebagai petirtan Bhetara ring Besakih. Sekitar jam 09.30 katuran pemendak dan ketedunang Ida Bhetara untuk melinggih di Tapakan masing masing,belum selesai acara mendak sulinggih sudah datang dan sekitar jam 10.15 upacara piodalan dimulai dan selesai sekitar jam 12.00 yang diakhiri dengan acara pemuspaan bersama. Selanjutnya dilaksanakan acara pepintonan oleh beberapa keluarga yang memiliki,namun agenda sesungguhnya acara pepintonan dan ngaturang punagi adalah di sore hari jam 18.00 wita,ujar klian pura.

Sementara itu di sore hari jam 17.00 pemangku pura sudah melaksanakan acara penauran mulai melaksanakan acara sauh atur manumadi I Wayan Dirandra Artha Jaya di Ibu Kawitan dengan bakti dandanan sayut 7 beserta kelengkapannya,dilanjutkan dengan Ni Mk.Gunasih (Kusamba) ngaturang punagi pejati beserta sepasang ungkulan karena sakit,Ni Kadek Revi acara yang sama,Guru Wayan KAriana dan Jero Diahari nebus bekel,Mk Ketut Restu ngaturang sauh atur dandanana sayut 7 guling babi beserta sayut sayut dan kelengkapan lainnya. Kurang lebih 3,5 jam pelaksanaannya dan dilanjutkan dengan bakti penganyar dilengkapi merejang dan pependetan diakhiri dengan sembahyang bersama.(manixs)

 
Persiapan mebat

Prejuru sedang beremug

Mebatan

 
Ngayah

 
Teguh,Jana,Pt.Cina,Surya ngayah





Selasa, 14 Mei 2024

SESANA NGELARANG YADNYA

Sajeroning ngemargiang upacara Panca Yadnya minekadi : Dewa Yadnya,Bhuta Yadnya,Rsi Yadnya, Pitra Yadnya lan Manusa Yadnya,sang sane ngemargiang karya, manut Lontar Dewa Tattwa.10 mungguh “Manah lega dadi ayu, aywa ngalem drewya. Mwang kamagutan, kaliliraning wang atuwa aywa mengambekang krodha mwang ujar gangsul.  Ujar menak juga kawedar denira. Mangkana kramaning sang ngarepang karya aywa simpanging budhi mwang krodha”

Artosipun:

Yening nangun yadnya manah sane lega, lascaria sane patut gamel ,sampunang alem/bridbid ring padruwean yening sampun keanggen meyadnya,sampunang piwal ring piteket nak lingsir sane wikan,sampunang brahmantya/emosi/galak/brangasan,mebaos kasar lan degag.baos sane becik alus banban patut uncarang.Asapunika kepatutan anake sane ngemargyang yadnya. Sampunang piwal ring manah suci nirmala pinaka agem-ageman ngeyasaang karya.


Selantur ipun manut lontar Widhi Sastra Tutur Tapeni Yadnya(72-73), kebaosang     “…ngaran ling nira Bhatari Tapeni, ngaran Bhatari Uma Dewi sira Hyang ring Pura Dalem, maka lingga gama kerthi ulahing wong kamanusan.  Adruwe pariwara watek apsari maka, Dewi Kancak, Dewi Pradnya, Dewi Wastu mwang Dewi Sidhi, ika pariwaranira mekabehan.

Uduh sira sang umara yadnya, sang parama kerti sang akinkin akerti yasa, nguni weh ta kita sang anggaduh gama-gaman, rengo lingku mangke, dak, sun warahi kita parikraman ing bhkati astiti ring gama tirta, aja sira tan mitulu ri hing ning sastra iki, nimita kweh wetun ikang yadnya, sapta yadnya, sapta yadnya luire: Aswameda yadnya, Siwa yadnya, Dewa yadnya,  Rsi yadnya, Pitra yadnya, Bhuta yadnya, Manusa yadnya, samadania limuwih-aken pada luwih ika tinemuni ya, palan ing yadnya, samangkana juga wineh utamaning kang yadnya, patemuang kunang kang  Agama, Ugama, muang Igama, apan ika ngaran pamurtian Sanghyang Tri Murti, tan wenang amalaku yadnya yan tan ingangge tattwa, ika ingaran Wuta, yan tan ingangge solah ayu sang umara yadnya, ika ingaran Tuli, muah tan ingannge yadnya ngaran rumpuh tan sida karyania, apan sukmania ika kadi anggan sira, ana hulu, ana awak, muang ana juga sukunia, mangkana utamaning kang yadnya. Apan sukmania, yadnya palan ikan yadnya wahya diatmika nemu sira rahayu”…..

Suksmanipun:

..”meparab Bhatari Tapeni utawi Bhatari Uma Dewi, Ida wantah sungsungan ring Pura Dalem, Ida pinaka pengrajeg uger-uger ngemargiang agama ring panegara krama, Ida keabih olih para widyadari sane meparab Dewi Kancak, Dewi Pradnya, Dewi Wastu lan Dewi Sidhi, nika wantah pengabih ida sami.


"Uduh cening-cening ane lakar ngelarang Yadnya, manira ngicen pewarah-warah kapinang cening ane demen nyalanang agama, pirengang pewarah manira ne jani,pamekas cening ajak makejang ane demen nyalanang agama tirta/Hindu , sujatine anak liu pepalihan yadnyane, ada pepitu bebacakan yadnya luire ; Aswameda yadnya, Siwa yadnya, Dewa yad-nya,  Rsi yadnya, Pitra yadnya, Bhuta yadnya, Manusa yadnya, mekejang padé utama, keto masi manira ngicen piteket tetuek nyalanang ajaran agama, ugama lan igama sawireh buka tetelu ento tusing ada len tuah Sanghynag Tri Murti nyekala, adungang nyen pantaraning upakara; yadnya muah tattwane, sawireh ento madan yadnya, yening mimpas uli Tattwane ento kebaos “buta”, yening sing manut uli uger-ugering nyalanang yadnya ento madan “bongol”, lan yen sing nganggo upakara ento suksmane “rumpuh’, nirdon gegaene,ento mekejang tusing ada len tuah niasa ukudan iraga , adá ulu/sirah, adá awak/ukudan, lan adá batis, ento kautaman iraga meyadnya, mekarma sekala lan niskala,lakar sida nemuang ane madan morksartam jagatita ya ca iti dharma.

Asapunika kocap yasa kertin iraga yening ngelarang yadnya,mangda nenten rugi iraga meyadnya patut nika margiang,ngiring sareng sareng renga lan melaksana becik.(manixs)

Senin, 13 Mei 2024

PIODALAN 2024 IMPLEMENTASIKAN DEWA RNAM DENGAN PITRA RNAM

Kata Piodalan berasal dari kata odal ber-sumber dari kata medal yang artinya keluar atau lahir,sehingga piodalan juga mengandung makna upacara peringatan kelahiran sebuah pura,sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa khususnya kepada Bhetara Bhetari atau Dewa Dewi yang distanakan pada Pura tersebut. Sehubungan dengan hal itu, piodalan di Pura Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan tahun 2024 ini ,memiliki makna ritual Dewa Rnam yang khusus karena dirangkai dengan pelaksanaan pitra rnam yang scedule tahapan pelaksanaannya sebagai berikut :

1.Hari Selasa,Anggara Kasih Tambir,Purnama Jiesta,23 April 2023 ,Klian Dadia menye-lenggarakan paruman dadia,pembahasannya merencanakan upacara piodalan dan upacara Pitra Rnam,rapat berlangsung lancar sesuai rencana.

2.Hari Senin,29 April 2024,Soma Umanis Jiesta, Pemangku Pura menghubungi sulinggih untuk memastikan jadwal dan waktu pelaksanaan upacara agar terjadwal oleh pihak sulinggih, sehingga upacara diharapkan terlaksana sesuai rencana.

3.Hari Minggu Umanis Menail,19 Mei 2024 jam 07.00 Wita krama dadia lanang tedun mereresik dan mempersiapan upakara untuk nyanggra piodalan,sekaligus rapat mengintensifkan persiapan piodalan.

4.Buda Wage Menail,22 Mei 2024 bertepatan dengan Purnama Sadha dilaksanakan upacara rutin murnama dibarengi dengan upacara ngendek Ida Bhetara akan dilangsungkannya piodalan,Ngendek itu maknanya menyampaikan tujuan agar pelaksanaan upacara piodalan yang sudah ditentukan dapat berjalan lancar karena perkenaan Beliau.

5.Wraspati Klion Menail,23 Mei 2024 adalah hari dimulainya membuat bahan upakara banten seperti membuat suci dan bebangkit. Pagi Pemangku sudah ngaturang banten pejati sambil mereresik mesayut,mohon ijin karena akan dimulainya membuat sarana upacara. Krama yang hadir adalah kelompok prejuru dan pemangku serta saye ,krama yang iklas ngayah dan pengayah kalau ada. Untuk kelompok kerja banten dibuat di rumah oleh 24 orang krama jangkep,9 krama lingsir,6 saye,1 belawa. Mereka mendapat tugas sesuai dengan job masing masing,harapannya agar yadnya lebih simpel,tidak fokus pada yadnya,tetapi konsepnya adalah "bekerja sambil meyadnya".namun kalau ada kurang dan lebihnya pembagian tugas itu,jangan diomongkan dengan orang yang tidak membagikan,omongkanlah dengan kami prejuru yang membagikan,agar tidak timbul kata patutne..dan berpotensi menimbulkan kehiruk-pikukan dikalangan nyama.

6 Tanggal 24 Mei 2024 hari Sukra Umanis Menail,acaranya masih melengkapi pembuatan sesajen atau disebut menben/,melengkapi sarana upakara.

7.Saniscara Paing Menail,25 Mei 2024 adalah melaksanakan upacara mepiuning atau laporan kepada Pura Pura terkait sekaligus pada Pura yang ada ikatannya nunas tirta kekuluh sebagai tirta pesaksi yadnya seperti Pura Lempuyang Madya sebagai pura Kawitan,yang sebelumnya mepiuning juga di Pr Telaga Mas dan Telaga Sawang,Lanjut ke Silayukti,Munduk Dawa,Pegatepan Dadia Agung,Dasar bhuana dan Dalem Digde. Disamping nunas tirta pada Pura Pura tertentu juga sekalian Ngendek Pemangku,juga sulinggih yang akan dilaksanakan upacara Nilapati pada tanggal 30 berikutnya.Tujuannya adalah untuk memeperlancar acara kalau sudah diagendakan dengan baik.

8.Redite Pon Prangbakat,26 Mei 2024,adalah kegiatan phisik yakni memasang busana dan penjor oleh krama dadia lanang tentu upacaranya diawali dengan persembahyangan dan mesayut,karena akan naik ke pelinggih pelinggih agar tidak jentula/tulah.Alat-alat pendukung upacara juga dipersiapkan sebaik baiknya termasuk pencucian sarana upakara seperti bokor,sangku dll.

9.Soma Wage Prangbakat,27 Mei 2024 kegiatannya adalah menben bakti sekaligus maturan pejati dan nunas tirta pemegat prani di Dukuh untuk pembersihan binatang babi ayam,bebek yang akan dipotong untuk upacara yadnya,sebagai penyupatan. Hari ini ngias pengadeg,mebat jam 13.00 dan setelahnya saye membawa pengolem kepada pemuput yadnya tri manggalaning yadnya Sulinggih dan Pemangku ,Serati serta Klian,juga tetanguran gong dan tambur.

10.Anggara Kasih prangbakat,28 Mei 2024 sebagai acara puncak dari jam 06.00 sudah dimulai mesesapuh dengan caru eko sato abrumbunan untuk membersihkan secara niskala area pura dan prelingga Ida Bhetara hingga Hyang Nama,barulah kemudian ngerangsukang Ida Bhetara ke masing masing tapakan pengadeg di masing masing pelinggih lanjut ngemargiang guru piduka di betara Ibu Kawitan karena tertundanya penauran di Dalem Puri,kemudian sekitar jam 08.00 nedunang Ida Bhetara akan melaksanakan upacara pemelastian ngamet tirta kamandalu dan tirta amerta untuk dianugrahkan kepada penyungsung dan pemedeknya. Prosesi melasti diawali dengan nunas lugra nedunang Ida bhetara lanjut memargi diawali dengan tirta pelukatan,sukarura,tambur,perlengkapan upacara taah pengawin,tombak lelontek,pancapala canangsari,penuntun pengulap pengambyan,Betara Dukuh barulah komplek Betara Kawitan, Betara Ibu Kawitan,komplek Hyang Dewa,Hyang Nama,baru bleganjur dan terakhir iring iringan pengiring. Sesampai di tempat pemlastian dilaksanakan upacara pemendak tirta,mereresik,pecaruan penyapuh,pesucian,ngaturin Ida Bhetara ayaban bakti,Ngayab,muspa,murwa daksina lanjut mewali ke pura. Sampai di Pura kependak di bencingah,Ida Bhetara ngerangsuk busana, kejeroan murwa daksina sebagai simbolis Ida Bhetara tedun dan melinggih di Samuan dan Ibu Kawitan beserta para hyang melinggih di Paruman. Selanjutnya mesanekan katuran rayunan,pangan kinum di Samuan dan Paruman, juga di Hyang Nama. Istirahat sebentar selanjutnya acara puncak berupa Piodalan sekitar jam 10.00.wita yang dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Yoga Semadi. Setelah mulai mepuja dengan mereresik,ngaturang caru,ngaturang ayaban bebangkit beserta dandanan sayut pitu,sayut 5,dan pejati beserta sayut sayut dilengkapi dengan ilen ilen rejang dan pendetan.kalau ada rejang dewa dan baris gede,baru dilanjutkan dengan persembahyangan bersama dengan ngaturang sayut guru piduka. Rangkaian acara puncak Dewa rnam sudah selesai dan sorenya sekitar jam 18.00 dilaksanakan pekenak dan pepintonan serta naur punagi.

11.Hari Rabu Umanis Prangbakat,29 Mei 2024. Acara hari ini adalah Pitra Rnam dengan mengadakan penauran di Pura Dalem Puri Besakih,sekitar pukul 08.30 muspa ngaturang petangi di ibu Kawitan dan Hyang Dewa  akan diiring ke Dalem Puri,sekitar jam 10 mulai melaksanakan penauran dengan bakti bebangkit caru manca sato dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dharma Yoga Semadi dengan prosesi seperti biasa diakhiri dengan ngentas sayut pepegat,setelah meguru piduka,lalu sembahyang kemudian murwa daksinaa,mepamit dan nangkil di Prajapati Dalem Puri,setelah itu lanjut di Tegal Penangsaran ngaturang bakti dan setelah selesai mepamit mantuk ke Dadia,lalu dipendak dengan meobor obor di jaba lanjut melinggih. katuran rayunan,pangan kinum,muspa hingga selesai. Sore hari sekitar jam 18.00 katuran penganyar hingga selesai.

12.Kamis Pahing Prangbakat,30 Mei 2024.hari ini adalah acara Pitra Rnam ke dua yakni upacara nilapati,seperti apa yang diwejangkan oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya jyoti, bahwa Nilapati berasal dari aksara Nila yang artinya kosong dan pati maknanya Raja,mulia nan agung,dengan demikian upacara nilapati adalah upacara penyucian roh menuju tempat sunia yang maha mulia nan agung,tujuannya untuk mencapai moksartam jagatitha ya ca iti dharma,menyatunya atman dengan paramaatman. Upacara ini biasanya dilaksanakan setelah upacara meajar ajar,lalu tangkil ke kawitan masing masing dan akhirnya daksina lingga sebagai pengawak roh diprelina dan abunya dimasukan ke bungkak gading dan dipendem dibelakang pelinggih stana beliau dan bisa juga beliau distanakan di bhetara guru rong tengah. Dewa Pitara konsepnya menuju kosong atau 0(nol) sebagai prelambang sunia,dilinggihkan ditengah karena rong tengah mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari dua rong disebelahnya agar Hyang Pitara menyatu dengan Siwa/Brahman sehingga Hyang Pitara kemudian bergelar Betara Hyang Guru,oleh karena itu beliau tidak bisa atau tidak boleh lagi dipanggil namanya seperti semasih hidup,karena beliau sudah menyatu dengan Brahman.. Dalam lontar Tattwajnana disebutkan bhatara Guru tunggal dengan Sanghyang Siwa dan beliau adalah Brahman,karena manunggalnya Atman dengan Brahman ,sebagai tujuan akhir umat Hindu,yang tujuannya tidak hanya masuk surga tetapi yang lebih penting adalah moksa atau menyatu dengan Sanghyang Tunggal,karena pelaksanaannya sudah lewat dari meajar ajar dan sudah melinggih di pelinggih Hyang Nama,maka prosesinya cukup ngadegang 2 pasang tapakan beserta dampingannya dan tidak menulis nama masing masing yang di abenkan dahulu dan tidak membuat daksina lingga cukup nangkilang saja di pura kawitan masing masing .  Selanjutnya pelaksanaan upacara hari ini mulai dilaksanakan pagi jam 05.00 sudah selesai persiapan penuur,muspa kemudian dengan sarana sayut penuntun,pengulap pengambe lengkap dengan sukarura Ida Bhetara Kawitan ,Hyang Kewalunan,Kerihinan,Hyang Kompyang/Dewa Hyang,Betara Guru Hyang Nama dan Hyang Nama purusa predana (apasang) beserta dedampingannya, memargi keiring oleh pertisentana prenamia menuju Pura Lempuyang Madya sebagai stana Ida Bhetara Kawitan Hyang Gni Jaya. Untuk dipenataran Lempuyang mengadakan piuning apejatian dilaksanakan oleh petugas saye, sedangkan Bhetara Kawitan dan Dewa Hyang langsung menuju Telaga Mas muspa,lanjut ke Telaga Sawang dan terakhir di linggih Ida Bhetara Kawitan di Lempuyang Madya. Sekitar jam 11.00 mepamit dari Lempuyang menuju Padangbai langsung ke linggih Mpu Kuturan,sedangkan piuning dilaksanakan di Segara,Pasraman,Payogan dan Enjungsari oleh petugas yang ditunjuk. Sekitar jam 13.00 sampai di Mundukdawa tangkil di parhyangan Mpu Gana dan Panca Rsi,Sekitar jam 13.00 meluncur menuju Dadia Agung Pegatepan,Lanjut ke Dasar Bhuana dan terakhir di pura Dalem Bugbugan atau Dalem Digde sebagai Dalemnya leluhur kita zaman dahulu semasih di Gelgel. Diperkirakan jam 17.00 selesai di Klungkung,balik meluncur pulang,sekitar jam 18.00 Wita dipoerkirakan sampai di Ibu,dipemedal jaba disambut dengan segeh agung,sayut telu,mebuhubuhu,nasi kambangan,lanjut murwa daksina di linggih masing masing,selanjutnya setelah melinggih katuran bakti soda rayunan di Pesamuan,paruman dan pelinggih Hyang Nama,sekalugus ngaturang upacara Penganyar,dengan rejang dan pependetan,sembahyang,maka acara hari ini selesai.

13.Sukra Pon Gumbreg,31 Mei 2024,Hari ini adalah upacara penyineban dimulai jam 06.00 ngaturin Ida Bhetara jagi mesineb,kemudian nedunang Ida Bhetara terus katuran mesineb di Jaba,tempat pemendakan saat rauh dari melasti dengan aturan dandanan sayut 5 beserta kelengkapannya,usai persembahyangan lalu Ida Bhetara kairing kejeroan mepresawya mengelilingi pelinggih sami sebanyak 3 kali sebagai simbolis mantuk ke kahyangan dan terakhir kembali ke surya dengan bakti ngeluur usai sembahyang prelinggan tapakan ida bhetara kembali ke pelinggih masing-masing,dengan menghadapkan prelinggan ida kedalam,baru kemudian di lebar,artinya rangkaian upacara piodalan sebagai wujud melaksanakan Dewa Rnam dan Pitra Rnam keluarga besar Dadia Ibu Kanginan.

14. Senin Umanis Bala,03 Juni 2024 sekitar jam 15.00 semua keluarga dadia melaksanakan upacara ngetelunin dengan upacara dandanan sayut 5,pengulap pengambian dan penyegjeg serta kelengkapan lainnya dengan tujuan ngaturang suksma karena rangkaian upacara sudah selesai,mensinkronisasi bhuana alit dan bhuana agung,termasuk penyucian Sanghyang Janggama dan Sanghyang Stawana.

Kesimpulannya bahwa yadnya adalah korban suci yang tulus iklas baik kepada Dewa Dewi,Para Bhuta Kala sebagai pembayaran Dewa Rna,Kepada leluhur sebagai wujud pembayaran Pitra Rnam dan kepada para pinandita dan Pandita sebagai wujud pembayaran Rsi Yadnya,karena dari  unsur itulah kita bisa hidup dan melaksanakan kehidupan sebagaimana mestinya. Untuk itu pada kesempatan ini saya mohon maaf karena keterbatasan pengetahuan kami,banyak hal yang masih kurang,namun itulah upaya maksimal kami,kalau ada semeton mempunyai pengetahuan lebih,maka saran sangat diharapkan demi kebaikan kita bersama,ini adalah milik dan tugas kita bersama. Terpenting keiklasan dan ketulusan,doa terbaik adalah diam,dengan diam akan menuju sunia atau kosong,karena kosonglah yang bisa berisi. Demikian dapat disampaikan,semoga adaa manfaatnya,terimakasih (manixs)

Acara saat meajar ajar atau nunas di gua lawah

Ngelinggihang Hyang Nama




Selasa, 23 Januari 2024

RENUNGAN PURNAMA KAWOLU

Prewanining purnama kawolu dimana hari ini adalah Buda Klion Gumbreg,bertepatan dengan kajeng klion penanggal 14 sasih kawulu icaka 1945  Ida Bhetara Mpu Semeru ring Ratu pasek dengan Panca Rsinya ketedunang,bertepatan dengan hari pewatekan Ida Bhetara Kawitan Mpu Semeru di Pura Ratu Pasek Besakih yang dikenal dengan rainan "saba pasek" yang akan dilaksanakan besok hari Purnama Kawolu. Ada yang patut kita renungkan,kenapa rahinan ini di sebut saba pasek,kalau kita lihat makna leksikal dari kata tersebut,saba itu sama dengan parum atau rapat dan pasek konotasinya adalah keturunan Mpu Gni Jaya, saudara tertua dari Panca Rsi. dengan demikian purnama kawolu itu pada zaman dahulu mungkin para leluhur kita Bhetara Kawitan kita, khususnya Panca Rsi mengadakan parum /rapat untuk kemaslahatan warih atau pertisentananya kelak dikemudian hari,sehingga dibuat aturan,tatanan, sehingga menjadi warga dan pertisentana yang beradab melalui besutan Bisama Kawitan sebagai pengikat kita eling ring Kawitan,sehingga hari ini diperingati sebagai Saba Pasek. Bait bait suci bisama kawitan hendaknya perlu kita sikapi dengan menurunkan ego kekinian,betapa hebatnya leluhur kita,sudah dapat meramalkan watak watak pertisentananya di era kekinian,sehingga dibuatlah bisama bisama itu untuk mengikat rasa persatuan dan kekeluargaan,seperti dipertajam dalam syair hymne MGPSSR berikut ini:

HYMNE MGPSSR.

Tunggal Kawitan Pinaka Dasar Utama,Mapidabdab ngiring nunggalang rasa,Tan sida jagi pacang kepalasang,Kaiket rasa Tunggal menyama

Hyang Gni Jaya wangsuh pangiket sarira,Sinareng memargi nuju tetujon utama,Astiti bakti ring betara kawitan,Trah Gni Jaya mangkin mesikian

 Reff:

Laksana segara tan petepi,Damuh Idane samui ngaturang bakti,Eling Bisama kawitan,Sida guyub iraga ring pasemetonan

Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rs,Maka jalaran sareng sareng ngrastiti,Maha Gotra pasek Sanak Sapta Rsi,Nincapang bakti meyasa kerti

Bakti ring Widhi,Eling Bisama Kawitan,Sida Guyub,Iraga ring pasemetonan

Kalau kita telaah syair lagu tersebut,sesungguhnya memiliki makna yang sangat dalam,dimana kita ini khususnya keluarga Dadia Pasek Gelgel Ibu kanginan,kita adalah tungal kawitan sebagai dasar utama dalam bertindak,mari kita satukan rasa sebagai saudara,karena kita tidak mungkin terpisah dari darah kawitan,kalau berani nilar kawitan,nanti akan kena azab,kutuk pastu Bhetara Kawitan,dalam hidup ini kita tidak bisa semaunya,karena merasa hebat,karena pintar orang lain dianggap goblok,karena kaya orang lain dianggap rendah,tak lagi butuh orang lain ,nyapa kadi aku,mari kita sadar dengan rasa bersaudara,turunkan sedikit ego masing-masing agar anak cucu kita tidak berat karena ke-egoan kita,sudah menjadi dewa pitara,kita tidak bisa disatukan di ibu di linggih dewa hyang,gara gara waktu hidup kita musuhan,sing nyak melinggih di ibu karena dulu bertengkar ,susah ketyurunan kita nanti .

Mari kita nunas pewangsuh pengiket sarsira ring Bhetara Kawitan Hyang Gni Jaya untuk mencapai tujuan utama Astiti bakti kepada  Bhetara Kawitan sebagai trah Hyang Gni Jaya agar menjadi satu menuju santi sekala niskala.  bagaikan segara tan petepi tiada tak terbatas,sehingga untuk menyatukan pikiran kita perlu menyembah dan Eling dengan Bisama kawitan,agar kita bisa  guyub bersatu dalam persaudaraan.  Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi khususnya Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan sebagai sarana bersama sama ngrastiti atau memuja leluhur  untuk meningkatkan  bakti meyasa kerti kepada Tuhan/Ida hyang Widhi,ingat melaksanakan  Bisama Kawitan,agar bisa Guyub bersatu dalam wadah keluarga Dadia Ibu.

Semoga Bhetara Kawitan melimpahkan rakhmatnya kepada pertisentana yang eling melaksanakan bisama kawitan dan disadarkan bagi pertisentana yang kualat dengan Bhetara Kawitan,astungkara. (manixs)