Minggu, 17 Desember 2023

SARASWATI DALAM KEBERSAMAAN

 Hari raya  Saraaswati adalah hari yang penting bagi umat hindu, khususnya bagi siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan karena Umat Hindu mempercayai hari Saraswati adalah turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia untuk kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan meningkatkan keberadaban umat manusia. Hari raya Saraswati diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Ujar klian Dadia Ibu Kanginan,Jero Ketut Wana Yasa sekaligus Bendesa Desa Adat Tegenan,lebih lanjut Jero Wana memaparkan apabila menelisik tentang sejarah rahina Saraswati maka tidak terlepas dari cerita Watugunung Runtuh yang dimulai saat jatuhnya wuku Watugunung dalam wariga dewasa yakni pada hari Redite Klion Watugunung,mitosnya ketika Watugunung kalah berperang disorga loka maka mayatnya jatuh kebumi pada hari itu. Permohonannya apabila jatuh di laut maka ijinkanlah cuaca panas agar tubuhnya tidak kedinginan,sebaliknya bila jatuh didarat maka akan turun hujan,begitulah mitosnya,seperti hari ini gerimis turun di hari Saraswati,mungkin juga Watugunung jatuh di darat maka mungkin juga karakter watugunung menyusupi jiwa jiwa manusia apalagi ini tahun pemilu akan kemungkinan akan terjadi berjiwa perang,mengedepankan ego,memfitnah dan menjelekan orang lain ,merasa diri paling hebat dan paling benar,serta unggul itulah karakter Watugunung,tapi akhirnya runtuh juga dan muncul pemenang yang dilindungi semesta ungkapnya

Lebih lanjut disampaikan bahwa mulai wuku Watugunung dan wuku Sinta adalah rangkain hari  yang penuh makna dalam menjalani kehidupan,dimulai dari hari Soma Umanis Candung atau dikenal juga dengan hari Candung Watang, ibaratnya ketika kita dilahirkan oleh ibu tercinta,betapa perjuangan beliau dalam melahirkan kita bagaikan air didaun talas,sedikit bergoyang maka air diatas daun talas itu akan jatuh,demikian juga ketika ibu melahirkan kita,sedikit saja salah maka nyawa akan melayang ibaratnya megantung bok akatih maka hargai dan hormatilah ibu atau orang tua kita,karena sorga ditelapak kaki ibu. Siaapa ibu itu yaitu yang mengadakan kita termasuk leluhur Ida Betara Kawitan, makanya kita harus sadar diri menghormatinya dengan cara sering tangkil ke sini setiap purnama atau rainan disini,ingat bisama kawitan,ih kita pertisentananku yan kita tan menget ring kalinganta,moga kita mungpang laku,sugih gawe kurang pangan,pecengilan ring sanak pekadangan,ila ila dahat ayua kita lupa ring catur parhyangan,ujarakna ring pertisentananta kabeh.Nah begitulah bisama beliau,karena itu mari dari sini kita ngayeng catur parhyangan agar kita tidak kena kutuk pastu. 

Kemudian pada hari anggara Pahing Watugunung disebut Paid-Paidan artinya ketika kita dilahirkan sebelum bisa berjalan pasti mengalami proses merangkak atau mepaid-paidan,mulai belajar dituntun orang tua,dipelihara orang tua sehingga nantinya kita bisa berdiri dan memulai kehidupan baru di semesta ini.

Buda Pon Watugunung disebut Urip Kelatas,setelah kita bisa berdiri,sedikit demi sedikit,selangkah demi langkah mulai maju berproses menjalani kehidupan,menuju masa depan sesuai usaha dan karma kita kedepannya.

Raspati Wage Watugunung disebut Penegtegan,disinilah kita mulai mengenal jati diri mulai bisa berkomunikasi dengan tetangga dan lingkungan sekitar,mulai mengenal orang lain selain keluarga menetapkan/negtegang jiwa jiwa kemanusiaan,bertumbuh sebagai manusia dengan menggunakan wiweka.

Sukra Klion disebut Pengredanaan,disini orang tua mendoakan dan membimbing bahwa kita akan dilepas untuk diberikan tanggungjawab mendidik kepada orang lain khususnya guru pengajian untuk lebih berkembang dan berkolaborasi dengan insan insan lainnya sesama manusia.

Sabtu Umanis Watugunung dikenal hari Saraswati  yang artinya Tuhan menurunkan Ilmu Pengetahuan sehingga manusia dianugrahkan keistimewaan dalam Tri Premana jika dibandingkan dengan makluk lain, karena kita dikaruniai kelebihan yang berupa idep dan idep inilah yang membedakan dan dapat menguasai makluk makluk lainnya. Kalau dalam kehidupan kita sudah mulai masuk sekolah dan diajarkan pengetahuan baru oleh guru guru kita sehingga pengetahuan hidup kita semakin luas dan mulai mengenal proses kehidupan.

Minggu Pahing Wuku Sinta dikenal dengan hari Banyu Pinaweruh/Banyu Pinaruh artinya apabila kita sudah melalui proses pendidikan dan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang luas, sehingga kecerdasan kita semakin mengalir seperti air (Banyu pinaruh) dengan sendirinya kita akan mempunyai posisi tertentu dalam kehidupan bermasyarakat karena punya kompetensi sehingga mudah mencari pekerjaan dan bahkan bisa menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat banyak.

Soma Pon Sinta disebut Soma Ribek merupakan hari yang penuh berkah pada umumnya hari ini mengupacarai harta benda khususnya uang.Artinya apabila kita sudah mempunyai kompetensi bisa mengelola hidup dan kehidupan tentu akan memiliki harta yang banyak karena berkah pengetahuan itu.

Anggara Wage Sinta disebut hari Sabuh Emas mengandung makna kemuliaan,karena orang yang dianugrahi Dewi Saraswati adalah orang pilihan karena dianugrahi kemuliaan,apakah kemuliaan karena jabatan,karena kebajikan,karena kedarmawanan dan sebagainya.

Terakhir Buda Klion Sinta disebut Pagerwesi atau Pagar dari besi artinya setelah memiliki kemakmuran dan kemuliaan jagalah semua itu dengan kuat dan kokoh sebagai anugrah dan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa khususnya Dewi Saraswati. Denngan demikian kehidupan kita akan berkah dan mendapatkan kemuliaan dan keberlimpahan.,Pungkas Jero Klian.

Demikian penting Pilosofi pelaksanaan  hari Saraswati mestinya bisa kita menyikapi dan mengimplementasikan dalam kehidupan nyata sehingga bisa membentuk karakter mulia sesuai ajaran dharma,kalau semua bisa melaksanakan,maka dunia akan tentram,damai sejahtra.astungkara cetus Jero Ketut Wana Yasa dalam bincang ringannya dengan Mk Adisuana disela sela persembahyangan Saraswati di Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan kemaren.Mk Adisuana juga menambahkan bahwa dengan persembahyangan secara bersama-sama di Pura Dadia akan menumbuhkan kesadaran persaudaraan dan eling dengan swadarma memuja leluhur,karena beliaulah kita ada,maka kita patut merasa bersyukur dan menaruh hormat dengan leluhur dengan cara sadar tangkil ke pura dadia ngaturang sembah bakti,marilah secara bersama-sama tumbuhkan kesadaran diri kita bersaudara satu rah leluhur,kesampingkan ego biar mengalir dan keberlimpahan,ujarnya. Semeton yang sadar hadir  menunggu sedikit lama karena jero mangku masih sibuk ngayah di tempat lain dan yang duanya dalam kondisi kurang sehat,sehingga terpaksa menunggu pemangku untuk ngayah ngaturang bakti,sabar ya ujar jero mangku sambil tergopoh gopoh menuju tempat pemujaan Saraswati.(manixs)

Pemangku dalam rangka ngaturang bakti pekeling odalan Saraswati

Sebagian krama dadia yang hadir dalam acara Saraswati

                            Menunggu pemangku belum datang dengan sabar karena pemangku 
                                          yang akan ngayah ngaturang pekeling belum hadir.

Kamis, 07 Desember 2023

DANA PUNIA/SEDEKAH MANUT AGAMA HINDU

 Suksman Dana Punia

Dana punia manut Hindu wantah sinalih tunggil ajaran hindu sane patut telebang pinaka aturan sane becik lan suci majeng ring Sanghyang Widhi pinaka sinalih tunggil ngemargiang ajaran dharma. Lengkara Dana punia, mawit saking kruna dana sane meartos aturan lan punia meartos , becik, bagia, alus lan suci. Dana punia pinaka sarana angge nincapang sradha lan bhaktin iraga majeng Ida Sanghyang Widi Wasa, sios ring punika dana punia prasida nincapang mana heling lan wirang ring sesama.

2.     Dasar  Medana Punia

a.   Tattawa

Dasar ajaran dana punia wantah ajaran Tattvam Asi sane meartos tityang wantah jerone,jerone wantah tityang iraga sareng sami pateh,elingang Vasudeva kutumbaka,. Iraga sareng sami wantah mesemeton,antuk punika sepatuta saling tulung tinuilung pantaraning sarwa mahurip.

b.     Munggah ring Sastra

ü  Manawadharmasastra

Menawa Dharmasastra wantah kitab hukum hindu muat indik dana punia kadi puniki:

” caktito’pacamanebhyo data-wyam grha medhina,

samwaibhagasca bhutebhyah kartawyo’nuparodhatah ”

Artosipun:

“Yening penua ring kulawarga(kepala Keluarga) sepatutne presida ngicenin ajeng-ajengan sarwa mahurip,sida mepaica ajengan ring sang ane nenten presida nyakan”. (Manawadharmasastra IV.32).

 

” triswapye tesu dattam hi widhina apyarjitam dhanam,

datur bhawatyan arthaya paratra daturewa ca ”

artosipun :

“Yadiastun arta brana punika kapikolihang sangkaning swadarma becik,nanging yening nenten kepuniaang ring sang patut,arta punika jagi kelem ke kawah neraka”. (Manawadharmasastra IV. 193).

 

” sraddhayestam ca purtam ca nityam kuryada tandritah,

craddhakrite hyaksaye te bhawatah swagatairdhanaih ”

Artosipun :

“Sampunang surud surud medana punia punika taler ngaturang banten majeng ida Bhetara.Mikolihang arta brana antuk pemargi sane becik,puniang raris,pemargine punika jagi molihang genah sane becik (Moksa)”. (Manawadharmasastra IV.226).

 

” yatkimcidapi data wyam yacitenanasuyaya,

utpatsyate hi tatpatram yattarayati sarwatah ”

Artosipun :

”Prade wenten anak nunas,sepatutnyane icen ipun yadiastun akidik,antuk manah lascaria, dwaning sane nerima sampun patut nerima,nika pacang presida ngelebur sehananing dosan sang micayang”.(Manawadharmasastra IV.228).

 

” waridastriptimapnoti sukha maksayyamannadah,

tila pradah prajamistam dipadascaksur uttamam ”

artosipun :

“dane sane mepunia toya pacing kepaica kepuasan, sane mepunia ajengan jagi mangguhang pahala kenikmatan, sane mepunia biji bijian jagi polih pertisentana, lan sane mepunia kewikanan jagi mangguh kasidian”. (Manawadharmasastra IV. 229).

 

” bhumido bhumimapnoti dirgam ayurhiranyadah,

grihado’gryani wesmani rupyado rupam uttamam ”

artosipun :

“Sane mepunia tanah jagi mangguh genah sane becik, mepunia emas jagi Panjang Yusa,sane mepunia jero/umah jagi mangguh anugrah agung, sane mepunia perak jagi mangguh keliangan”. (Manawadharmasastra IV. 230).

 

” wasodascandrasalokyam aswisalokyamaswadah,

anaduddah sriyam pustam godo bradhnasya wistapam ”

Artosipun :

“sane mpunia busana jagi mangguh kerahayuan ring jagat sekala niskala,Sane mepunia jaran jagi polih linggih kadi Dewa Asvina, mepunia kebo jagi kepaica keagetan lan sane mepunia lembu jagi kepaica suryaloka (Sorga)”. (Manawadharmasastra IV. 231).

 

” yena yena tu bhawena yadyaddanam prayacchati,

tattattenaiwa bhawena prapnoti pratipujitah ”

Artosnyane :

“Napi ja pikayunan jagi kepuniyang pastika jagi mangguh kesukertan kapungkur wekas”. (Manawadharmasastra IV. 234).

 

” yo’rcitam pratigrihnati dadatyarcitamewa ca,

tawubhau gacchatah swargam narakam tu wiparyaye ”

artosnyane :

“dane sane Nerima punia antuk rasa Syukur,dane sane lascarya maicayang,kekalihne jagi mangguh sorga, nanging sane Nerima lan sane micayang nenten tulus,kekalihne jagi ke neraka”. (Manawadharmasastra IV. 235).

 

ü  Sarasamucaya

 

Indik dana punia ring Sarasamuscaya kebaos kadi asapuniki :

 

“ na mata na pita kincit kasyacit pratipadyate,

danapathyodano jantuh svakarmaphalamacnute “

artosipun :

“Sang sapasira ugi sane mepaica dana punia,ipun sujatine sane jagi molihang jkarmanipun,mangguh rahayu,dirgayusa”. (Sarasamuccaya 169).

 

” danena bhogi bhavati medhavi vrddhasevaya,

ahinsaya ca dirghayuriti prahurmanisinah ”

Artosipun :

“prade ngicen dana punia akeh pacing kapica suka tanpaawali dukkha ,punika taler yasa kerti ayah ayah ring rerama pacing mikolihang kerahayuan,yenining nenten memati mati pacing mangguh Panjang yusa,asapunika panikan Ida Bhetara Sinuhun”. (Sarasamuccaya 171).

 

” dhanani jivitam caica pararthe prajna ut srajet,

sannimittam varam tyago vinace niyate sati ”

artosipun :

Yening agung adnyane,nenten kekeh ring arta brana,urip taler katur,yen sampun pacing nincapang sukertan krama;dawning dane uning urip nenten ja selamine; nike mawinen dane lascaria pati urip yen sampun nitenin krama.

 

” yasya pradanavandhyani dhananyayanti yanti ca,

sa lohakarabhastreva cvannapi na jivati ”

artosnyane :

“arta brana punika wantah titipan,lunga ngerauhin,yening nenten anggen medana punia, padem wastane,meangkyan binanipun, mekadi puputan pande besi”. (Sarasamuccaya 179).

 

 3.Soroh-soroh Dana Punia

Dana punia nentenja marupa arta brana kemanten,nanging laksana pikayun naler dados kepuniaang nanging mangda medasar tulus ikhlas. Manut dane Swami Wiwekananda wenten tetiga pepalihan dana punia,minekadi :

v  Dharmadana : Mesesana budi pekerti sane becik ngemargiang ajaran dharma.

v  Widyadana   : Mepunia kewikanan/ilmu pengetahuan/ niki sane utama.

v  Arthadana    :  Mepunia arta brana sane kebuatang, medasar lascaria lan ngemolihang antuk pemargin dharma.

Manut buku pedoman sederhana pelaksanaan agama Hindu dalam masa pembangunan ( 1986:136-137 ), kebaosang :

a.     Brahmadana : micayang ajah ajah ring anak sios utamanipun ajah ajah agama.

b.     Abdhanyadana : nyelametang sang kebyahparan pati utawi mebela pati.

c.     Atidana : lascaria micayang istri,pyanak yen sampun mebela pati ring panagara utawi agama

d.     Mahtidana : micayang/donor ginjal,darah miwah sane siosan nyelametang sangyang atma ( atmahuti ),( Triguna, I.B.G.Yudha.2011.68 ).

 

4.Galah Becik Medana Punia

Ring kitab  Sarasamuccaya kebaos :

” ayanesu ca yaddattam sadacitimukhesu ca,

candrasuryoparage ca visuve ca tadaksayam ”( Sarasamuccaya 183 )

Artosipun :

Niki galah sane becik medana punia;

a)  Uttarayana : rikala surya mentas ring kaletr katulistiwa,(utamine purnama lan tilem)

b)  Wisuwakala : kalaning sanghyang surya nepek ring khatulistiwa,(purnama lan tilem)

c)  Daksinayana : rikala sanghyang surya delod khatulistiwa,(purnama lan tilem)

d) rikala surya lan wulan caplok kala rau/gerhana.Taler rikala Ida Bhetara nyejer

 

5.Dana Punia manut Ajaran Bhagawadgita

” datavyam iti yad danam diyate ’nupakarine

dese kale ca patre ca tad danam sattvikam smrtam ”( Bhagawadgita XVII.20 )

artinya :

Medana punia nenten metetujon mikolihang hasil,maka serada pinaka swadarma manut genah,kala lan sang sane patut nerima,nika kebaos sattvika.

Yening Tegesang,micayang Dana Punia punika kedasarin antuk manah lascaria/tulus iklas, nenten pamer,kapikolihang antuk dharma lan kepaica ring sang sane patut,genah lan galah sane patut nika kebaos sattvika. Minekadi conto :

a.     Ngicen jinah ring sang lara sane yakti yakti lara tiwas.

b.     Medana punia ring pura nenten sangkaning jorjoran,pamer mangda kesumbungang

c.     Medana punia ring pemangku,sulinggih pinaka Rsi Yadnya.  

” yat tu pratyupakarartham phalam uddisya va punah,

diyate ca pariklistam tad danam rajasam smrtam”( Bhagawadgita XVII.21 )

artosipun :

Dana punia sane keaturang matetujon mangda polih keuntungan kapungkur wekas,napimalih antuk manah tan becik,pamer, punia sapunika mewastanin punia rajasik.conto ipun minekadi :

ü  Ngaturang dana punia ke pura paling ageng,mangda kekantenang ngangobin.

ü  Ngicen jinah ring anak tiwas mangda kesumbungang/dihormati / disegani.

.

” adesa-kale yad danam apatrebhyas ca diyate,

asat-krtam avajnatam tat tamasam udahrtam”( Bhagawadgita XVII.22 )

artosipun :

mepunia ring galah genah lan sane nenten patut Nerima ,naler  medasar irihari duleg beranti nika kewastanin tamasik .

conto :

v  Ngicenin pengemis jinah antuk nyamparang ketanah,saha akedik padahal anak sugih.

v  Medana punia ke pura antuk hasil korupsi,utawi pekaryan sane adharma

Pamuput;

Dana punia punika patut pisan kelaksanayang ring sang sane patut nerima,minekadi anak tiwas nektek,anak sungkan,ring pura rikala meyadnya utawi ngewangun,rikala ketiben baya kebyahparan ,ring pemangku lan sulinggih pinaka Rsi yadnya. Miwah sane tiosan,nika jagi mikolihang kasukertan kedirgayusan ring kahuripan nanging sane medasar punia satwika.

Manixs,medio 081223

Mepunia ring Pura

Rsi Bojana,punia ring sulinggih

ring pura pura perlu wenten kotak dana punia
angge ngewantu yadnya utawi pewangunan ring Pura inucap


  

Senin, 04 Desember 2023

INSPIRASI ANGGARA KASIH DUKUT

 Hari ini anggarakasih Dukut,panglong pangkutus sasih kenem icaka 1945 atau tanggal 5 Desember 2023, siang ini diatas meja ketua Koperasi Mekar Sari,otak terasa mekar ingat akan jasa leluhur betara kawitan, karena Beliaulah kita ada,dari leluhur-leluhur kita itulah,kita ada terlahir ke bumi ini, bumi yang penuh drama kehidupan. Itulah realita hidup,kita berjuang untuk bisa hidup masing-masing tetapi jangan lupa kepada yang meng-ada hingga kita ada dan berada didunia ini. Karena kebesaran itulah hari ini saya terinspirasi untuk mewujudkan sebuah lambang,lambang keutuhan dan kekuatan energi betara kawitan. karena melalui sabda bisama Beliau kita terikat oleh hukum alam untuk menebus karma lahir kita dengan berbuat dan berkarma baik pada leluhur, salah satu bisamanya menyebutkan, yan kita tan menget maring hyang kawitan kamimitan,lupa ring kalinganta mewastu kita sugih gawe kurang pangan,pecengilan ring sanak pekadaangan,tan mangguh sukerta, ayua kita lupa,ila-ila dahat,warahakna maring sanak putu pertisentananta kabeh...

Untuk itu mari kita berkarma pada leluhur apapun yang bisa kita persembahkan kepadaNya,seperti inspirasi membuat logo keluarga sebagai berikut:

 
Makna Logo:
1.Delapan helai kelopak bunga padma/lotus pilosofinya adalah bunga padma bisa hidup di 3 dunia,di air ditanah dan bunganya di udara sedangkan jumlahnya 8(padma bhuana) melambangkan arah mata angin maka harapannya agar warih betara kawitan dadia ibu kanginan bisa berada di segala penjuru dan bisa hidup dimanapun berdasarkan kompetensinya.
2.Tri datu warna lingkaran melambangkan tri murti yang artinya sejak kita lahir(merah) hidup(hitam) dan kembali kepadaNya/mati(warna Putih) secara berkesinambungan kita adalah keluarga satu warih betara kawitan ,maka jalinlah persaudaraan berdasarkan ajaran tatwamasi.
3.Meru tumpang 7 dan garis-garis bersinar kuning adalah simbul Betara Kawitan melimpahkan rahmat kepada pertisentanaNya.
4Tulisan Dadia Ibu Pasek Gelgel Pegatepan,ibu kanginan adalah identitas resmi leluhur kita dari Pegatepan Klungkung sebagai bukti kita nyungsung Dalem Digde/Dalem Bugbugan itu artinya kita asli dari Gelgel pegatepan.

KESIMPULANNYA
Wahai pertisentanaKu semua Kuanugrahkan sinar suciKu kepadaa kalian semua berdasarkan karmamu, semoga kalian bisa menguasai 8 penjuru dunia dan dimanapun kalian bisa berada,ingatlah kalian warihKu dari lahir,Hidup dan matimu akan bersamaKu disini,bersama kalian semua,sampaikanlah pada keturunanmu secara berkesinambungan bahwa kalian adalah saudara,tanamkan ajaran tatwamasi dan ingat Wasudeva Kutumbaka, Hidupkalian tergantung karmamu wahai keturunanku perstisentana Dadia Pasek Gelgel Pegatepan Ibu Kanginan,Desa Adat Tegenan,Kecamatan Rendang,Karangasem. jangan lupa pada leluhurmu,ingat sabda BhisamaKu.(manixs)


Minggu, 03 Desember 2023

JENIS PEMANGKU DI BALI

Menurut Lontar Raja Purana Gama. Ekajati yang tergolong pamangku dibedakan jenisnya, sesuai dengan tempat dan kedudukannya, dimana beliau ini melaksanakan tugasnya, yaitu:

1.      Pamangku Kahyangan (Pemangku Kusuma Dewa) Pamangku Kahyangan adalah Pamangku yang bertugas pada Kahyangan yang meliputi Kahyangan Tiga, Kahyangan Jagat maupun Sad Kahyangan. Masing-masing pura ini memiliki seorang atau lebih Pamangku pemucuk dan mengemban tugas dan bertanggung jawab terhadap segala kegiatan pada pura yang, diemongnya.Selain itu memahami tentang keberadaan pura serta upacara dan upakara yang semestinya dilaksanakan.Pemangku tersebut sering juga disebut Mangku Gde/Mangku Pemucuk. Seperti Pemangku Desa, Dalem, Puseh serta sesungsungan desa lainnya, Kahyangan Jagat serta. Dangkahyangan.

2.      Pamangku Pamongomong (Pembantu Pemangku Kusuma Dewa) Pamangku Pamongmomg juga disebut dengan sebutan Jro Bayan, atau dengan sebutan Mangku alit, yang memiliki tugas sebagai pebantu dari Pemangku Gde di suatu pura, yang sering juga disebut Pamangku alit, dengan tugas pokok mengatur tata pelaksanaan dan jalannya upacara, dan hal-hal lainnya sesuai dengan perintah Pemangku Gde.

3.     Pamangku Jan Banggul Pamangku Jan Banggul juga disebut dengan sebutan Jro Bahu, disebut juga Pamangku alit, yang bertugas sebagai pembantu Pemangku Gde, dalarn menghaturkan atau ngunggahang bebanten, menurunkan arca pratima, memasang bhusana pada pelingih, nyiratan wangsuh pada dan memberikan bija kepada umat yang sembahyang, serta hal-hal lainnya sesuai dengan perintah / waranuggraha Pemangku Gde pada pura tersebut.

4.    Pamangku Cungkub Pamangku Cungkub yaitu: Pamangku yang bertugas di Mrajan Gde yang memiliki jumlah Palinggih sebanyak sepuluh buah atau lebih.

5.    Pamangku Nilarta Pamangku Nilarta adalah Pamangku yang bertugas pada pura yang berstatus sebagai pura Kawitan atau pura Kawitan dari keluarga tertentu.

6.   Pamangku Pandita Pamangku Pandita memiliki tugas muput yadnva seperti Pandita. Adanya Pemangku jenis ini didasarkan atas adanya tradisi atau purana pada daerah tertentu yang tidak diperkenankan menggunakan pemuput Pandita. Sehingga segala tugas, menyangkut pelaksanaan Panca Yadnya diselesaikan oleh pemangku tersebut, dengan mohon tirtha pamuput dengan jalan nyelumbung.

7.   Pamangku Bhujangga Pamangku Bhujangga adalah pamangku yang bertugas pada pura yang berstatus sebagai paibon.

8.      Pamangku Balian Pamangku ini hanya bertugas melaksanakan swadharma Balian, dapat nganteb upacara atau upakara hanya yang berhubungan pengobatan terhadap pasiennya.

9.   Pamangku Dalang Pamangku yang melaksanakan swadharma sebagai Dalang, dapat nganteb upacara atau upakara yang hanya berhubungan dengan swadharma Pedalangannya saja, seperti mabayuh pawetonan atau Nyapuh Leger.

10. Pamangku Tapakan / lancuban Pamangku ini hanya bertugas apabila pada suatu pura melaksanakan kegiatan nyanjan atau nedunan Bhatara nunas bawos, untuk kepentingan pura tersebut untuk, memohon petunjuk, dari dunia niskala.

11.  Pamangku Tukang Pamangku ini juga disebut Pamangku Undagi, pamangku yang paham akan ajaran Wiswakarma serta segala pekerjaan tukang, seperti Undagi, Sangging, Pande dan sejenisnya, dapat nganteb upacara atau upakara hanya sebatas yang berhubungan dengan tugas beliau sebagai tukang.

12. Pamangku Sang Kulputih Pamangku Sang Kulputih swadharmanya sebagai pemangku yang memakai gagelaran Sang Kulputih dalam pemujaannya.

13.   Pamangku Sang Kulpine Pamangku yang memakai gagelaran Sang Kulputih dan Kusuma Dewa dalam swadharmanya sebagai pembantu Pamangku Sang Kulputih.

14.   Pamangku Kortenu, Pamangku Kortenu adalah Pemangku yang bertugas di Pura Prajapati, selain nganteb di Pura yang di emongnya, juga dapat nganteb upacara yang berhubungan dengan Pitra Yadnya, seperti Ngulapin Pitra pada saat akan melaksanakan upacara Atiwa-tiwa dan lain sebagainya. (*manixs)

 

 

Senin, 27 November 2023

PURNAMA KE NEM

 Purnama kenem rahina jani,

Nanging sanja gurindem uling tuni,

Langit selem ,ambu teka uli renjani,

Nanging tusing ada teka pedek kanti jani.


Uli merune agung Ida Kawitan ngantenang,

Nelisik panjak ane pedek nyekenang,

Tangkil diajeng manira apang nawang,

Subaktin perti sentana pada nerawang.


Bakti sangkaning kepaksa,

Uli pewarah ane kaden maksa,

Nanging ento tuah sangkaning pada upeksa,

Kewala nu merasa kepaksa.


Ne jani jalan ingetang wilasan leluhur

Sangkaning Ida iraga tuun uli luhur

Ngacepang hidup subur makmur termashur

nanging kapah inget jak  leluhur beduur.


Cening sentanan manira ajak mekejang

Ingetang bisaman manira tur incepang

sugih gawe,kurang pangan sing ngidang ngujang

Apecengilan ring sanak pekadang.


Ila-ila dahat

sing rungu kin kawitan ne pisarat

bisa sentana dadi sekarat,hidup melarat

ulian laksana ane kualat.

                        medio 27112023

                        by.manixs







Sabtu, 21 Oktober 2023

NGABEN KINEMBULAN

 Upacara ngaben kinembulan Desa Adat Tegenan sane kemargiang tanggal 15 Juli 2023 kesarengin olih roras  diri sawa wargi Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan minekadi :

1.Ni Wayan Tantri                    2.Ni Wayan Suweden/Ni Wayan Ruun                3.Ni Ketut Dedep                4.I Ketut Sila Arta                    5.Luh Meradi                        6.I Kt.Ada Arjana        7.Ni Made Suar              8.Ni Ke Ngabet                    9.I Nyoman Sumendra        10.I Wy.Arta Saputra        11.Ni W.Sulan              12.I Made Nongan.

 ring upacara punika suwang-suwang pemilet keni prebeya 8.210.000 magenah ring Tulak Tanggul tegal duen guru Wayan Suweden.

Prawartaka karya :

Pengabih/Penasehat : Mk.Md.Sedana,Mk.Sudiastawa,MkW.Degeng

Penanggungjawab : Bendesa(I Ketut Wana Yasa)     Wakil : Klian-Klian Dadia

Ketua                    : I Wayan Suiji

Penyarikan         :  I Made Mustapa

Juru Raksa         : Mk Gunama 

Parhyangan : Dalang Sujata lan I Wayan Suparta

Pawongan : I Komang Jana

Palemahan : I Wayan Megeng

Asapunika indik ngaben warsa 2023