Sabtu, 10 April 2021

HAKEKAT PELINGGIH MANJANGAN SELUANG/MASPAHIT

Setiap rahina  Kamis Wage Sungsang yang dikenal dengan Sugimanek Jawa,keluarga Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan pasti melaksanakan upacara di pelinggih Manjangan Seluang,seperti pelaksanaan upacara tanggal 8 April 2021 tempo hari,perwakilan keluarga pasti hadir untuk melaksanakan upacara tersebut mulai pukul 17.00 sd.selesai. Pada waktu upacara tersebut ,dalam acara nunas tirta Mk,Manik selaku pemangku pura ,juga memberikan dharma wecana mengenai keberadaan pelinggih tersebut  ,menurut berbagai sumber Mk Manik menjelaskan dimulai tahun 1001 M Mpu Kuturan datang ke Bali  karena diminta bantuannya oleh Raja Bali  waktu itu yang bernama  Udayana Warmadewa, beliau Mpu Kuturan waktu itu melihat demikian banyaknya sekta Agama yang ada di Bali ,menelisik masuknya Hindu ke Bali diperkirakan abad ke VIII seperti termuat dalam prasasti di Pejeng Gianyar dengan mantra Bhuda yang dikenal dengan "ye te mantra" diperkirakan tahun 778 masehi,pada baris pertama prasasti (sudah keropos) itu terdapat tulisan "Sivas....ddh..." oleh Dr.R.Goris, ketika prasasti masih utuh diperkirakan  berbunyi "Siva Siddhanta" artinya sejak abad ke VIII sekta Siva Siddhanta sudah berkembang di Bali ,sesuai dengan bukti prasasti tersebut. Bukti lainnya juga ditemukannya arca Siva di Pura Putra Betara desa Bedulu yang identik dengan arca dari Candi Dieng. Juga dalam prasasti Sukawana disebutkan bahwa th 882 ada tiga tokoh agama yakni Bhiksu Sivaprajna,Bhiksu Sivanirmala dan Bhiksu Sivakangsita membangun pertapaan di Cintamani,sehingga mungkin saja telah terjadi sinkretisme antara Siva dan Bhuda di Bali terutama pada pemerintahan raja Dharma Udayana Varmadewa karena kedua agama tersebut menjadi agama negara. Perkembangan selanjutnya abad ke XIII berkembang sekta Bairava dengan bukti peninggalan arca Bhairava di Pura Kebo Edan Pejeng,selanjutnya antara sekta Siva dan Bhuda luluh dalam satu ajaran agama hindu sehingga kita kenal pendeta Siwa dan Bhuda. Sebenarnya di zaman Bali kuno abad ke X pada pemerintahan  Gunapriyadharmapatni  terjadi proses jawanisasi dengan lontar-lontar menggunakan bahasa jawa kuno berkembang ajaran hindu yang disebut sekta menurut penelitian Dr.R.Goris(1926) ada 9 sekta yang berkembang yaitu Siva Siddhanta,Pasupata,Bhairava,Vaisnawa,Bodha(Soghata),Brahmana,Rsi, Sora(Surya) dan Ganapatya. Sedangkan dalam beberapa lontar disebutkan ada 6 sekta(sad agama) antara lain Sambhu,Brahma,Indra,Bayu,Visnu dan Kala. Rupanya dari sekian sekta tersebut yang paling dominan adalah sekta Siva Siddhanta dengan peninggalan beberapa buah lontar(teks) antara lain Lontar Bhuanakosa,Vrhaspatittatva,Tattvajnana,Sang Hyang Mahajnana,Catur Yuga,Vidhisastra, dll. Mudra dan Kuta Mantra yang digunakan oleh para Pandita dalam ritualitas pujaparikrama keagamaan juga bersumber dari Siva Siddhanta.  

Selanjutnya menurut beliau Mpu Kuturan keadaan banyak sekta tersebut diperkirakan akan dapat memecah belah persatuan umat,karena itu, beliau berusaha untuk mempersatukan tiga kelompok besar yang ada waktu itu yakni sekta Brahma,Wisnu dan sekta Siva Siddhanta yang kemudian dikenal dengan sebutan Tri Murti . Kemudian untuk mengatasi hal tersebut beliau mengambil inisiatif  mengadakan pertemuan atau Pesamuhan Agung di desa Bedulu (Samuan Tiga) sehingga mendapatkan keputusan semua sekta sepakat bersatu dan diberikan porsinya masing-masing, sebagai implementasinya di setiap desa adat di Bali diwajibkan membangun kahyangan tiga seperti membangun Pura Bale Agung sebagai penghormatan sekta Brahma yang berfungsi sebagai Dewa Pencipta(Utpeti),membangun Pura Puseh sebagai penghormatan sekta Wisnu yang berfungsi sebagai Dewa Pemelihara(Stiti) dan sekta Siwa berstana di Pura Dalem yang bermanifestasi sebagai Dewa Pelebur(Prelina),sedangkan sekta lainnya mendapat kehormatan pemujaan pada saat pelaksanaan upacara yadnya,demikian juga halnya disetiap rumah tangga diwajibkan membangun pelinggih rong tiga di merajan kemulan sebagai penghormatan kepada Dewa Tri Murti. Bersatulah mulai saat itu dan atas jasanya Mpu Kuturan diberi gelar Manggalaning Jero Pakiran Kiran Makabehan. Maka sebagai penghormatan atas jasa beliau  disetiap merajan di Bali didirikan pelinggih Manjangan Sakaluang dan atau sering disebut pelinggih Maspahit. Kenapa disebut demikian ?,sampai saat ini belum ada dasar pijakan yag pasti,namun diperkirakan kenapa dipakai kepala menjangan diperkirakan binatang menjangan sebagai maskot tanda kehormatan zaman itu bagi mereka yang berjasa semacam lencana kehormatan,karena tempat menempelkan kepala menjangan itu pada satu tiang maka disebut sakaluang jadi dengan demikian manjangan saka luang artinya kepala manjangan yang berada/dipasang pada 1 tiang. selanjutnya disebut Maspahit sebagai simbolisasi penghormatan terhadap tokoh Mpu Kuturan yang berasal dari Majapahit.

Demikianlah sedikit pemahaman terhadap pelinggih Manjangan sakaluang dan sekaligus pelinggih ini sebagai pemersatu keluarga ditilik dari konsep sejarah pembangunannya,oleh karena itu hal mendasar dari konsep Tri Murti yang dapat kita ambil hikmahnya dizaman sekarang (revolusi industri 4.0) adalah

1. Konsep Brahma sebagai  Utpti/pencipta artinya dalam menghadapi hidup dewasa ini marilah kita   Ciptakan hal hal yang positif untuk kemakmuran dan kesejahtraan hidup kita,ciptakan suasana yang kondusif dan atau harmonis berlandaskan tujuan hidup menurut agama kita yakni Catur Purusa Harta adalah hidup kita senantiasa dilandasi DHARMA/kebenaran,dengan mencari ARTHA yang benar dan mengisi  KAMA/keinginan yang benar maka tercapailah kedamaian dunia akhirat yakni MOKSA. 

2.Konsep Wisnu sebagai Pemelihara/Sthiti,maksudnya adalah mari kita pelihara adat istiadat yang baik yang dapat mendatangkan kemaslahatan umat,aturan,awig,dresta yang masih relevan mari kita pelihara untuk kedamaian dan kerukunan hidup bermasyarakat.Mari kita hormati leluhur !

3.Konsep Siva sebagai Pelebur,mari kita lebur atau perbaiki adat istiadat kebiasaan yang piodal, yang tidak relefan lagi di era sekarang,seperti menganggap diri soroh yang tinggi,egoisme,menganggap orang lain rendah,sepele,sifat iri dengki,pitnah dan sejenisnya. Prelina semua hal buruk seperti itu, tidak ada gunanya dalam kehidupan kita,hanya membuat sengsara dunia dan akhirat.

Mari kita implementasikan ajaran positif dari Tri Murti,rahayu (by.manixs)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar