Dadia Pasek Gelgel Ibu Kanginan Desa Adat Tegenan dalam menghadapi situasi Pandemi Covid 19 berusaha melakukan berbagai kegiatan sekala niskala, antara lain dengan nunas ica meyasa kerti melalui persembahyangan rutin setiap Purnama,Yasa Kerti khusus Covid 19 baik di Dadia maupun di Desa Adat. Menurut klian daadia I Ketut Wana Yasa,A.Md Par yang juga petajuh Bendesa Adat mengatakan,menghadapi kebrebehan gering agung ini(karena mendunia) pihaknya berusaha memberikan edukasi kepada krama setiap pertemuan rutin anggara kasih dengan menerapkan protokol kesehatan yang diimplementasikan dengan membuat tempat cuci tangan di pura,menyediakan handsanitaizer,memberikan bantuan vitamin dan obat penurun panas, yang didistribusikan oleh ST.Kumara Wangi keluarga dadia,sekaligus mendidik generasi muda peduli dan solid dalam pasemetonan. Kegiatan lainnya dalam hal meningkatkan rasa wirang dan panatisme kepasekan Mk.Manik sebagai pemangku pura bersama Mk Restu dan Mk Kt Kania memberikan pendalaman melalui sosialisasi sejarah Dadia,Pelinggih dan kegiatan keagamaan lainnya, seperti mencetakan kidung warga sari dengan mewajibkan semua pemedek ikut mewargasari saat berlangsungnya upacara.
Dalam peningkatan budaya,Mk.Manik juga menggagas pembelian gong barungan dengan mekanisme urunan ayahan,dana punia dan peturunan anggota diambil melalui kas. hal tersebut mendapat persetujuan yang cukup antusias dari krama,karena misinya disamping meningkatkan ketrampilan budaya nabuh, misi utamanya adalah mendidik generasi muda untuk benar-benar melaksanakan ajaran agama dan paham secara tattwa dan panatik terhadap kepasekan, untuk mengikis mainset beragama secara seremonial yang selama ini terjadi,artinya datang tedun/sembahyang ke pura hanya karena kewa-jiban organisasi dadia, bukan karena kesadaran dirinya menghadap ke leluhur/kawitan/ibu kawitan. sebagai contoh kalau disuruh ngayah(dengan kesadaran) banyak yang tidak hadir,kalau ke pura ada sampah berserakan hanya sedikit orang yang punya inisiatif mengambil sapu untuk mereresik,kenapa demikian ? karena masih beragama seremonial.
Kedepan marilah kita sadar bahwa kita datang kepura untuk menyerahkan diri berpasrah mempersem-bahkan bakti dengan segala bentuk yadnya yang kita mampu(yadnya tidak hanya banten tetapi,persem-bahan tenaga pikiran juga yadnya). Karena antusias membeli sebarung gong dengan harga Rp.170.100.000, krama semangat mepunia sesuai kemampuannya hingga terkumpul Rp.34.900.000,- Peturunan masing-masing ayahan Rp.6.000.000,-x 16 = Rp.96.000.000,- dan sisanya diambil dari kas @.500.000x46= Rp.23.000.000 serta kekurangannya rencana di kredit di Koperasi Mekar Sari diberikan bunga spesial.
Gong rencananya datang pada hari raya kuningan 24 April dan diplaspas pada rahina Tumpek Krulut 29 Mei 2021,astungkara memargi antar.(manixs)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar